Konten dari Pengguna
Mengapa Rumah yang Seharusnya Aman, Malah Jadi Zona Rawan Kekerasan?
11 September 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Rumah yang Seharusnya Aman, Malah Jadi Zona Rawan Kekerasan?
Mengulas mengapa rumah justru sering menjadi lokasi kekerasan. Menggunakan kerangka ekologi Heise & Family Constellation Hellinger untuk cegah kekerasan keluarga lintas generasi.Restu Utami
Tulisan dari Restu Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak orang, rumah adalah tempat paling aman. Tempat melepas lelah setelah seharian bekerja, tempat anak-anak bertumbuh dengan kasih sayang, tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Namun, bagi sebagian keluarga, rumah justru berubah menjadi ruang penuh luka. Sebagaimana kabar duka yang masih sangat banyak memberitakan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di ruang keluarga Indonesia.
Data real time SIMFONI-PPA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) per 10 September 2025 mencatat 21.409 kasus kekerasan, dengan 18.369 korban adalah perempuan. Jika ditinjau dari kasus dan lokasi kejadian, rumah tangga menempati posisi paling dominan. Angka ini mencengangkan sekaligus menyedihkan: rumah, yang seharusnya menjadi zona perlindungan, justru sering kali menjadi tempat paling rawan.
Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menambahkan catatan lain. Terdapat 973 laporan pelanggaran hak anak, dan 63% di antaranya terkait isu keluarga dan pengasuhan alternatif. Dari konflik hak asuh hingga penelantaran anak, laporan ini menunjukkan masih banyak keluarga yang rapuh dalam memberikan perlindungan.
Dampak kekerasan pun tidak bisa dianggap remeh. Luka yang ditinggalkan lebih dalam dari sekadar memar di permukaan. Sering kali bentuknya tampak "sepele", misalnya anak yang mendadak jadi pendiam, perempuan yang kehilangan kepercayaan diri, atau hubungan keluarga yang terasa renggang. Namun, di balik hal-hal kecil tersebut, tersimpan trauma besar yang memengaruhi keberlangsungan hidup korban.
Menurut laporan WHO (2024), sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya, dan sebagian besar dilakukan oleh pasangan intim. Dari jumlah tersebut, 42% mengalami cedera fisik. Kekerasan pasangan juga berdampak signifikan terhadap kesehatan:
Penelitian tentang Adverse Childhood Experiences (ACEs, peristiwa traumatis yang dialami anak sebelum usia 18 tahun) juga memperlihatkan betapa panjangnya jejak kekerasan. Secara global, 60% orang dewasa pernah mengalami setidaknya satu bentuk ACE (Madigan et al. 2023). Di Indonesia, survei oleh Wado et al. (2025) menemukan bahwa 40,2% remaja mengalami minimal satu ACE, dan 7,6% pernah mengalami empat atau lebih. Remaja dengan ACEs empat atau lebih memiliki risiko gangguan mental 11 kali lebih tinggi dibanding yang tidak mengalaminya.
Studi terbaru yang dipublikasikan di BMJ Open juga menemukan bahwa penyiksaan verbal terhadap anak (ejekan, ancaman, atau penghinaan) meningkatkan risiko kesehatan mental buruk di masa dewasa sebesar 64%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kekerasan fisik yang meningkatkan risiko sebesar 52%.
Mengapa Rumah Justru Jadi Lokasi Kekerasan?
Pertanyaan ini seolah mengguncang logika kita: bagaimana mungkin rumah yang harusnya jadi simbol perlindungan justru berubah menjadi ruang penuh luka? Lori L. Heise (1998), melalui kerangka ekologi yang ia kembangkan dalam Violence Against Women: An Integrated, Ecological Framework, memberikan jawaban penting. Menurut Heise, kekerasan lahir dari interaksi kompleks di empat tingkat: individu, relasi, komunitas, dan struktur sosial.
Membaca Pola Kekerasan dalam Rumah Tangga Melalui Konstelasi Keluarga
Jika teori Heise (1998) menyoroti faktor struktural dan sosial yang melahirkan kekerasan, maka konstelasi keluarga atau family constellation menawarkan lensa untuk memahami dinamika internal keluarga secara lebih dekat. Konsep ini dikembangkan oleh psikoterapis asal Jerman, Bert Hellinger (1990-an), yang memandang keluarga sebagai sistem yang saling terhubung. Di mana setiap anggota membawa peran, pengalaman, bahkan luka yang dapat memengaruhi keseimbangan seluruh sistem.
Hellinger menemukan bahwa trauma dan pola relasi yang tidak terselesaikan sering kali diwariskan antar generasi. Orang tua yang pernah menjadi korban kekerasan, misalnya, berisiko mengulang pola itu pada anak mereka—bukan karena niat jahat, melainkan karena dinamika emosional yang tidak disadari. Dalam kerangka ini, kekerasan rumah tangga bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari "ketidakseimbangan" dalam sistem keluarga.
Prinsip utama family constellation menekankan beberapa poin berikut. Pertama, urutan dan posisi dalam keluarga, yakni ketika peran suami, istri, atau anak tidak berjalan secara proporsional, maka konflik mudah memuncak. Kedua, hak setiap anggota untuk dicintai dan diakui, sebagai contoh ketika cinta atau perhatian terhambat, ketegangan dapat berubah menjadi kekerasan. Ketiga, penerimaan dan penyembuhan, yakni dengan menyadari pola lama dan memberi tempat bagi semua anggota keluarga, siklus kekerasan bisa diputus. Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa kekerasan bukan sekadar akibat "emosi sesaat" atau "kesalahan individu", melainkan lahir dari pola yang lebih dalam dan berlapis.
Peran Keluarga dalam Pencegahan Kekerasan
Keluarga memiliki posisi sentral—baik sebagai sumber risiko maupun sebagai benteng perlindungan dari kekerasan. Dalam perspektif ekologi Heise maupun family constellation Hellinger, jelas bahwa keluarga bukan hanya kumpulan individu, melainkan sistem yang membentuk pola perilaku lintas generasi. Maka, pencegahan kekerasan tidak bisa dilepaskan dari penguatan fungsi keluarga itu sendiri.
Beberapa peran kunci keluarga dalam pencegahan kekerasan antara lain:
Dengan kata lain, keluarga bukan hanya tempat di mana kekerasan kerap terjadi, tetapi juga medan paling strategis untuk menghentikannya. Pencegahan akan berhasil bila keluarga dibekali pemahaman, keterampilan komunikasi, serta keberanian untuk mengubah pola lama menjadi pola baru yang lebih sehat.
Daftar Pustaka
Bellis, M. A., et al. (2025). Verbally abused children more likely to have poor mental health as adults, study finds. The Guardian. Diakses dari https://www.theguardian.com/society/2025/aug/05/verbally-abused-children-more-likely-to-have-poor-mental-health-as-adults-study-finds
Cohen, D. B. (2006). “Family constellations”: An innovative systemic phenomenological group process from Germany. The Family Journal, 14(3), 226-233.
Heise, L. L. (1998). Violence Against Women: An integrated, Ecological Framework. ResearchGate, 4(3), 262-290.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2025). Ringkasan data kekerasan (SIMFONI-PPA). Diakses dari https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2025). Hari Anak Nasional 2025, KPAI soroti 63 persen aduan berasal dari isu keluarga dan pengasuhan. Diakses dari https://www.ntvnews.id/news/0156708/hari-anak-nasional-2025-kpai-soroti-63-persen-aduan-berasal-dari-isu-keluarga-dan-pengasuhan
Madigan, S., Deneault, A.-A., Racine, N., Park, J., Thiemann, R., Zhu, J., Dimitropoulos, G., Williamson, T., Fearon, P., Cénat, J. M., McDonald, S., Devereux, C., & Neville, R. D. (2023). Adverse childhood experiences: A meta-analysis of prevalence and moderators among half a million adults in 206 studies. World Psychiatry, 22(3), 463–471. https://doi.org/10.1002/wps.21122
Wado, Y. D., Njeri, A., Odunga, S. A., Akuku, I., Wahdi, A. E., Fine, S. L., Ramaiya, A., Li, M., Loi, V. M., Maravilla, J. C., Scott, J. G., Erskine, H. E., & Kabiru, C. W. (2025). The association between adverse childhood experiences and mental disorders among adolescents in Kenya, Indonesia, and Vietnam: Evidence from the National Adolescent Mental Health Surveys. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 19(Suppl 1), 86. https://doi.org/10.1186/s13034-025-00919-z
World Health Organization. (2024). Violence against women. Diakses dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-women

