Konten dari Pengguna
Dari Ritual ke Realitas: Eksistensi Gurungtalo di Tengah Pariwisata Global
15 Juni 2025 13:33 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Dari Ritual ke Realitas: Eksistensi Gurungtalo di Tengah Pariwisata Global
Di balik gemerlap Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium, tersembunyi kisah sebuah kerajaan tua yang nyaris hilang dari sejarah: Kerajaan Gurungtalo. Tidak tercatat dalam buku pelajaran seReynald Marjun
Tulisan dari Reynald Marjun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Labuan Bajo, NTT – Di antara kapal pinisi dan resort mewah yang berbaris di pelabuhan Marina Labuan Bajo, tak banyak yang tahu bahwa tanah ini pernah menjadi bagian dari wilayah sebuah kerajaan tua yang nyaris terlupakan yaitu Kerajaan Gurungtalo.
Nama ini tak ditemukan dalam buku sejarah resmi sekolah, tak pula tercantum dalam laporan kolonial Belanda. Namun ia hidup dan bernafas dalam bentuk-bentuk yang tak bisa dihapuskan begitu saja: compang tua yang masih tegak berdiri, kuburan massal leluhur yang membisu, serta darah keturunan yang masih mengalir dalam tubuh masyarakat adat di Wangkung, Boleng, Betong, Golo Damu, Mbehal, hingga Nggorang.

Gurungtalo adalah sebuah kerajaan tua, benteng budaya yang pernah menjadi pusat perlawanan dan otoritas lokal sebelum akhirnya digerus oleh narasi besar dari luar: Todo sebagai pusat Manggarai, ekspansi kekuasaan Bima, serta kolonialisasi Belanda. Nama Gurungtalo kemudian surut dari peta dan ingatan nasional, tergantikan oleh konstruksi sejarah yang disusun oleh mereka yang berkuasa.
Namun, bagi anak dari mantan dalu Boleng, tua gendang Bapak Bona Polalengen dan masyarakat Boleng dan keturunannya, seperti Doni Parera, Gurungtalo bukanlah mitos. Ia adalah kenyataan sejarah yang masih hidup terdokumentasi dalam ritual adat, dinyanyikan dalam tembang kematian, dan disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi. Gurungtalo adalah simbol perlawanan terhadap penyeragaman sejarah, sekaligus cermin bahwa ada banyak kisah di tanah ini yang belum sempat ditulis.
Di era ketika Labuan Bajo sedang dikemas sebagai etalase wisata global, sejarah lokal seperti Gurungtalo justru semakin mendesak untuk diangkat ke permukaan agar tanah ini tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena akar budayanya yang dalam dan kompleks.
Gurungtalo dan Sumpah Palapa: Wilayah yang Dipetakan Sejak Majapahit
Dalam teks kuno Pararaton dan Kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa Mahapatih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa-nya (sekitar tahun 1336 M) menyatakan akan menghentikan puasanya hanya jika berhasil menaklukkan seluruh Nusantara, termasuk wilayah Gurun, Gurun Talo, dan Udi—yang diyakini sebagai Gurungtalo dan wilayah timur Flores lainnya.
Sumpah Palapa:
"Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi, sira Gajah Mada: 'Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa" (KUMPARAN,2025)
Gurun atau Gurun Talo dalam konteks ini dipercaya mengacu pada wilayah pesisir timur Nusantara yang belum sepenuhnya berada di bawah Majapahit dan kini dikenal sebagai bagian dari Nusa Tenggara Timur, termasuk Labuan Bajo dan sekitarnya.
Hal ini memperkuat klaim bahwa Gurungtalo telah dikenal secara politik oleh kerajaan besar Nusantara jauh sebelum kerajaan Todo, Gowa, atau dominasi Bima masuk ke Flores. Gurungtalo bukan sekadar kerajaan lokal, tapi bagian dari sejarah geopolitik kerajaan besar seperti Majapahit.
Sejarah yang Dibungkam, Leluhur yang Digugat
Dalam berbagai dokumen resmi sejarah Manggarai, nama Gurungtalo hampir tidak pernah disebut. Buku-buku sekolah mencatat kerajaan Todo dan Pongkor sebagai pusat kekuasaan dan budaya. Tetapi bagi masyarakat tua di Mbehal, Boleng, dan Wangkung, fakta itu adalah ketidakadilan historis.
“Sejak saya kecil, nenek saya selalu bilang, kami ini bukan orang Manggarai, kami ini anak Gurungtalo,” ungkap Bona, “Gurungtalo itu bukan mitos. Batu nisannya ada. Kuburannya ada. Compang-nya masih bisa disentuh.”
Bahkan, Kitab Sutasoma karya Empu Tantular dari abad ke-14 menyebut nama “Gurun”, “Gurong”, dan “Gunungtalo” sebagai wilayah timur Majapahit yang strategis. Penelusuran sejarawan seperti Dr. Dami Toda dan koleksi pustaka di Perpustakaan Universitas Leiden turut memperkuat keyakinan bahwa kerajaan Gurungtalo benar-benar eksis, bahkan sebelum Belanda mengangkat Todo sebagai “raja resmi” wilayah barat Flores demi kepentingan kolonialnya.
Jejak yang Masih Tersisa: Dari Compang Tua ke Kuburan Massal
Salah satu bukti eksistensi Gurungtalo adalah kuburan massal di Golo Damu, tempat pembantaian rombongan bangsawan Golo Sanca oleh musuh politik yang diduga bersekutu dengan pasukan Sriwijaya. Situs ini masih bisa dikunjungi, meski tidak mendapat perlindungan resmi dari pemerintah.
Ada pula batu nisan Polalengen di Betong, yang diyakini milik keturunan bangsawan Luwu (Sulawesi Selatan) yang hijrah ke Flores pada abad ke-13. Nisan itu menjadi simbol penghubung antara Gurungtalo dan jaringan kerajaan-kerajaan maritim besar Nusantara saat itu.
Sementara di Baruga Boleng yang sekarang dikenal sebagai Puncak Waringin dulu terdapat pos jaga tradisional, dibangun untuk memantau musuh yang datang dari laut: pasukan Gowa dan Bima.
Identitas yang Dicuri, Nama yang Dipalsukan
Nama-nama asli wilayah Gurungtalo perlahan berubah seiring masuknya kekuasaan luar. Wae Welu diubah menjadi Labuan Bajo, Nanga Mese menjadi Nanga Na’e, Kampung Air menjadi Air Kemiri. Bahkan kata “Manggarai” sendiri, menurut banyak tokoh adat, berasal dari nama raja Gowa ke-12: I Manggarai Daeng Mameta Karaeng Bonto Lengkese Tunijalo.
Dalam tradisi Makassar, kata "Manggarai" disebut untuk menandai orang-orang tawanan dari timur yang diperbudak dan dijual ke Batavia atau Singapura.
“Kita ini tidak pernah menyebut diri orang Manggarai. Itu sebutan dari luar. Kita ini orang Gurungtalo, orang Boleng, orang Mbehal. Manggarai itu nama paksa dari Gowa dan Bima yang ditiru Belanda untuk memudahkan kontrol,” jelas Bona, salah satu narasumber utama dalam penelusuran ini, yang pernah dipenjara karena menolak mengakui klaim tanah adat oleh pihak luar.
Luka Lama, Perlawanan yang Tak Pernah Padam
Gurungtalo dikenal karena penolakannya terhadap Islamisasi paksa oleh Bima, termasuk kewajiban sunat. Penolakan ini menimbulkan banyak serangan, penculikan, dan perang lokal. Lagu Sanda Gurung lagu adat yang mengisahkan penderitaan rakyat Gurungtalo masih dinyanyikan di beberapa kampung hingga hari ini.
Di kampung-kampung seperti Sokrutung dan Nggorang, masih ditemukan situs pertahanan, kuburan pasukan Gowa dan Bima, serta pos jaga kuno. Sayangnya, tanpa perhatian resmi, tempat-tempat ini terancam hilang karena pembangunan.
Bangkitnya Kesadaran: Identitas Sebagai Hak
Kini, ada dorongan besar dari kalangan masyarakat adat dan pemerhati budaya lokal untuk mengembalikan jati diri sejarah Gurungtalo, mulai dari perubahan nama tempat, perlindungan situs sejarah, hingga memasukkan sejarah Gurungtalo dalam kurikulum muatan lokal sekolah.
“Kita harus menulis sejarah kita sendiri,” kata seorang guru yang ikut mengembangkan lomba cerita rakyat dan permainan Caci asli Boleng. “Kalau tidak, kita akan terus jadi tamu di tanah kita sendiri jelas Bona”
Kesimpulan: Ketika Sejarah Diambil, Waktu yang Mengadili
Gurungtalo bukan sekadar kerajaan yang hilang. Ia adalah lambang identitas, perlawanan, dan harga diri masyarakat barat Flores yang selama ini tersingkir dari narasi besar sejarah nasional. Mengangkat kembali Gurungtalo berarti membuka pintu bagi sejarah yang adil dan mendalam bukan hanya bagi Labuan Bajo, tetapi bagi seluruh Indonesia.
Kini saatnya bukan hanya mencari kebenaran, tapi juga mengembalikan nama yang hilang dari peta, namun masih hidup dalam darah dan ingatan rakyatnya.

