Konten dari Pengguna
Kampung Adat Bena di Bajawa NTT, Tips Waktu Ideal Untuk Mengunjungi
6 Januari 2026 14:33 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Kampung Adat Bena di Bajawa NTT, Tips Waktu Ideal Untuk Mengunjungi
Kampung Adat Bena merupakan salah satu permukiman tradisional masyarakat Ngada yang terletak di lereng selatan Gunung Inerie, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini dikenal sebagai represenReynald Marjun
Tulisan dari Reynald Marjun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika langkah-langkah kecil terdengar di halaman batu Kampung Adat Bena. Di kaki Gunung Inerie, rumah-rumah beratap ilalang berdiri saling berhadapan, mengelilingi ruang bersama yang menjadi pusat kehidupan adat. Asap tipis mengepul dari dapur-dapur rumah, sementara suara alat tenun berpadu dengan desir angin pegunungan. Di sinilah, masyarakat Bena merawat ingatan leluhur bukan di balik etalase museum, melainkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Kampung Adat Bena terletak di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini dikenal luas sebagai salah satu kampung adat megalitik yang masih bertahan di Pulau Flores. Namun bagi warga Bena, sebutan tersebut melampaui identitas pariwisata. Bena adalah rumah, ruang sakral, sekaligus penanda asal-usul yang memberi arah bagi keberlangsungan hidup komunitas.
“Bagi kami, adat bukan cerita lama. Adat adalah cara kami hidup,” ujar Yosephus Laga, salah satu tetua adat Bena, saat ditemui di sela aktivitas kampung.
Batu, Rumah, dan Makna Kehidupan
Struktur Kampung Adat Bena mencerminkan cara pandang kosmologis masyarakat Ngada. Rumah-rumah adat disusun saling berhadapan, mengelilingi halaman pusat yang dipenuhi batu-batu megalitik. Batu-batu tersebut bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan medium sakral yang berfungsi sebagai tempat pemujaan leluhur, pelaksanaan ritus adat, dan pengambilan keputusan penting komunitas.
Tidak satu pun batu dipindahkan tanpa pertimbangan adat. Setiap batu memiliki nama, sejarah, dan fungsi simbolik yang diwariskan melalui tradisi lisan lintas generasi. Dalam pandangan masyarakat Bena, batu merupakan penghubung antara dunia manusia dan dunia leluhur, sekaligus penanda kesinambungan kehidupan.
Di antara deretan rumah adat, berdiri Ngadhu dan Bhaga simbol leluhur laki-laki dan perempuan dari masing-masing suku. Ngadhu berbentuk tiang tinggi beratap ijuk yang melambangkan kekuatan, tanggung jawab, dan garis keturunan laki-laki. Sementara Bhaga berbentuk rumah kecil tertutup yang melambangkan rahim, kesuburan, dan asal kehidupan. Keduanya hadir berdampingan sebagai representasi keseimbangan peran gender dalam struktur sosial masyarakat Ngada.
Kampung Adat Bena dihuni oleh sembilan suku (clan). Setiap suku memiliki rumah adat, simbol leluhur, serta tanggung jawab adat tersendiri. Struktur sosial ini membentuk sistem kehidupan komunal yang mengatur pembagian peran, penyelesaian konflik, hingga pelaksanaan ritual adat melalui musyawarah kolektif.
Reba, Ritual Merawat Ingatan
Salah satu ritual adat terpenting di Kampung Adat Bena adalah Reba. Ritual ini diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas kehidupan, hasil panen, dan perlindungan leluhur. Reba juga berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk memperkuat solidaritas dan memperbarui ikatan kekerabatan antargenerasi.
“Lewat Reba, anak-anak kami belajar siapa mereka dan dari mana asalnya,” kata Yosephus. “Kami tidak ingin generasi muda lupa akar mereka.”
Dalam pelaksanaan Reba, nyanyian adat, tarian ritual, serta doa-doa leluhur berpadu dalam satu rangkaian simbolik. Anak-anak dan remaja dilibatkan secara aktif, menjadikan ritual ini sebagai sarana pendidikan kultural yang efektif. Pengetahuan tentang identitas, sejarah, dan nilai adat diwariskan tidak melalui teks tertulis, melainkan melalui pengalaman kolektif yang dihidupi bersama.
Tenun dan Kehidupan Sehari-hari
Di luar ritus adat, kehidupan masyarakat Bena berlangsung dalam pola yang sederhana namun sarat makna. Perempuan menenun kain adat dengan motif khas Ngada, sementara laki-laki mengelola ladang, ternak, serta kebutuhan kampung. Aktivitas ekonomi ini terintegrasi dengan sistem nilai adat dan pembagian peran sosial yang bersifat komplementer.
Tenun Bena memuat simbol-simbol alam, struktur sosial, dan kisah leluhur. Setiap motif memiliki makna tertentu dan berfungsi sebagai penanda identitas serta posisi sosial dalam komunitas. Dengan demikian, kain tenun tidak hanya berfungsi sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai medium narasi visual tentang perjalanan hidup masyarakat Bena.
Nilai gotong royong menjadi fondasi utama kehidupan sosial. Pembangunan rumah adat, persiapan upacara, dan penyelesaian persoalan kampung dilakukan secara kolektif. Dalam konteks ini, individualisme tidak menjadi orientasi utama; kebersamaan justru menjadi syarat keberlangsungan hidup komunitas.
Antara Pelestarian dan Pariwisata
Dalam beberapa tahun terakhir, Kampung Adat Bena berkembang sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Ngada. Wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk menyaksikan secara langsung praktik budaya yang masih terjaga. Namun, keterbukaan terhadap wisata juga menghadirkan tantangan tersendiri.
“Kami menerima tamu, tapi adat tetap nomor satu,” ujar Yosephus. “Tidak semua hal bisa dipertontonkan. Ada batas yang harus dihormati.”
Masyarakat Bena berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi. Kampung adat tidak diposisikan sebagai panggung pertunjukan, melainkan sebagai ruang hidup yang memiliki batas-batas sakral. Prinsip ini menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan nilai adat di tengah arus modernisasi.
Menjaga Akar di Tengah Perubahan
Di lereng Gunung Inerie, Kampung Adat Bena menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi fondasi etis dan kultural dalam menghadapi perubahan sosial. Selama batu-batu megalitik tetap dijaga, ritual adat dijalankan, dan nilai leluhur dihidupi, identitas budaya masyarakat Bena akan terus terpelihara.
Kampung Adat Bena tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, melainkan ruang sosial yang aktif membentuk masa depan. Di tempat ini, kebudayaan dipahami sebagai praktik hidup yang terus dinegosiasikan antara adat, pendidikan, pariwisata, dan tuntutan zaman.
Boks Informasi: Kampung Adat Bena
Nama Situs
Kampung Adat Bena
Lokasi
Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur
Letak Geografis
Terletak di lereng selatan Gunung Inerie, pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis pegunungan beriklim sejuk memengaruhi pola permukiman, mata pencaharian, dan struktur sosial masyarakat.
Karakteristik Budaya
Merupakan permukiman tradisional dengan tradisi megalitik yang masih hidup (living megalithic tradition), ditandai oleh keberadaan batu-batu besar sebagai media ritus adat dan pemujaan leluhur.
Struktur Sosial
Dihuni oleh sembilan suku (clan). Sistem sosial bersifat komunal, dengan pengambilan keputusan melalui musyawarah adat yang dipimpin tetua kampung.
Arsitektur Tradisional
• Sa’o: Rumah adat sebagai tempat tinggal dan pusat aktivitas keluarga.
• Ngadhu: Simbol leluhur laki-laki.
• Bhaga: Simbol leluhur perempuan.
Ritual Adat Utama
Reba, ritual tahunan sebagai ungkapan syukur, pemersatu kekerabatan, dan sarana pewarisan nilai budaya.
Mata Pencaharian
Pertanian lahan kering, peternakan, dan produksi kain tenun tradisional.
Isu Pelestarian
Tekanan pariwisata, perubahan orientasi generasi muda, serta upaya menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan kesakralan adat.
Waktu Terbaik Mengunjungi Kampung Adat Bena
Secara temporal, pengalaman berkunjung ke Kampung Adat Bena sangat dipengaruhi oleh siklus musim dan kalender adat masyarakat Ngada. Wilayah Bajawa memiliki dua musim utama, yakni musim kemarau dan musim hujan, yang berdampak langsung pada aksesibilitas dan aktivitas sosial masyarakat kampung.
Waktu yang paling ideal untuk berkunjung adalah pada musim kemarau, yakni sekitar April hingga Oktober. Pada periode ini, curah hujan relatif rendah sehingga akses jalan menuju kampung lebih aman dan aktivitas masyarakat berlangsung optimal. Langit cerah di lereng Gunung Inerie juga memungkinkan pengunjung menikmati lanskap kampung dan aktivitas adat dengan lebih leluasa.
Namun, bagi pengunjung yang ingin memahami kehidupan adat secara lebih mendalam, waktu pelaksanaan ritual Reba menjadi momen yang paling bermakna. Reba umumnya dilaksanakan antara Desember hingga Februari, meskipun waktu pastinya ditentukan berdasarkan keputusan adat masing-masing suku. Pada periode ini, Kampung Adat Bena menjadi ruang perjumpaan kekerabatan lintas generasi, di mana ritual, narasi leluhur, dan praktik budaya dijalankan secara intensif.
Meski demikian, kunjungan pada masa ritual adat menuntut sensitivitas budaya yang tinggi. Tidak semua tahapan ritual terbuka bagi publik, dan pengunjung diharapkan menghormati batas-batas sakral yang ditetapkan masyarakat adat.
Boks Informasi: Waktu Kunjungan
Waktu Terbaik Berkunjung
• Musim Kemarau (April–Oktober): Kondisi cuaca relatif stabil, akses jalan lebih aman, dan aktivitas kampung berlangsung normal. Cocok untuk wisata budaya dan observasi kehidupan sehari-hari.
• Musim Ritual Reba (sekitar Desember–Februari): Cocok bagi pengunjung yang ingin memahami praktik adat secara mendalam, dengan catatan harus menghormati aturan dan batas kesakralan ritual.
Catatan Etika Kunjungan
Pengunjung dianjurkan berpakaian sopan, menjaga sikap selama berada di area kampung, serta meminta izin sebelum mengambil foto, terutama saat berlangsung kegiatan adat.

