Konten dari Pengguna

Apakah Orang dengan IQ Tinggi Dijamin Sukses?

Reza Athabi Zayeed
Fresh Graduate Jurusan Manajemen SDM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
24 Juli 2025 15:44 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Apakah Orang dengan IQ Tinggi Dijamin Sukses?
Orang dengan IQ tinggi pasti jenius? Dan orang jenius sudah pasti akan sukses? Eits, hidup tak sesederhana itu, kawan. #userstory
Reza Athabi Zayeed
Tulisan dari Reza Athabi Zayeed tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seorang jenius yang sedang mengerjakan suatu hal yang sulit dilaboratorium tempatnya bekerja. Sumber : https://unsplash.com/id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang jenius yang sedang mengerjakan suatu hal yang sulit dilaboratorium tempatnya bekerja. Sumber : https://unsplash.com/id
Salah satu hal yang paling menarik dari orang-orang jenius bukan cuma otaknya yang encer atau skor IQ-nya yang selangit, tapi kemampuannya menjaga keseimbangan hidup. Iya, keseimbangan. Sebab ternyata mereka yang disebut jenius pun tetap manusia biasa: masih makan nasi, bisa salah ucap, dan tetap butuh tidur. Yang membedakan mereka dari orang lain adalah kapasitas kognitifnya yang memang di atas rata-rata.
Tapi tetap saja, bagian paling mengesankan dari para jenius ini bukan cuma soal pintar mikir, tapi bisa hidup normal dan waras di tengah otaknya yang overclocked. Mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas rumit yang bikin kita pengin lempar laptop, malah sambil bisa ngobrol santai, nongkrong, bahkan main TikTok. Ini menarik, karena di sinilah titik pentingnya: kecerdasan itu ternyata nggak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.
Sayangnya, masyarakat kita masih sering menyederhanakan urusan kompleks ini. Seolah-olah, kalau IQ tinggi, ya pasti jenius. Kalau jenius, ya pasti sukses. Kalau sukses, ya pasti hidupnya bahagia. Padahal hidup mah nggak linear begitu. Coba tanya tukang fotokopi deket kampus psikologi. Dia pasti udah kenyang denger skripsi soal IQ, EQ, dan semua yang berakhiran -Q lainnya.
Belum lama ini, muncul kehebohan di media sosial: beredar hasil tes IQ sejumlah influencer yang angkanya mencengangkan. Ada yang 130, ada yang 140, bahkan ada yang 160. Netizen auto bengong. "Loh, ternyata doi sejenius itu?" Di kolom komentar pun ramai. Ada yang kagum, ada yang nyinyir, ada yang auto-minder.
Masalahnya bukan cuma pada hasil yang tinggi, tapi juga pada kepercayaan membabi buta terhadap skor IQ. Banyak yang menganggap IQ adalah alat ukur paling sahih, valid, dan mutlak untuk menilai kecerdasan seseorang. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Tes IQ memang sudah lama digunakan untuk mengukur kecerdasan. Tapi penting untuk dicatat: yang diukur adalah kecerdasan kognitif, bukan keseluruhan kapasitas kecerdasan manusia. Tes IQ nggak ngukur kreativitas. Tes IQ nggak bisa baca kedalaman emosi. Tes IQ juga nggak bisa menilai apakah seseorang bisa jadi pemimpin yang bijaksana atau malah jadi bos yang toxic.
Bahkan, kalau kita mau lebih kritis, tes IQ itu sendiri bukan tanpa celah. Memang, dari segi reliabilitas, cukup kuat. Hasilnya relatif stabil kalau dites ulang dalam rentang waktu dekat. Tapi bukan berarti hasilnya absolut. Banyak juga kok yang skornya berubah karena faktor suasana hati, waktu pengerjaan, atau bahkan berapa lama mereka ngopi sebelum ujian.
Gambaran Otak Manusia yang plastis dan senantiasa berkembang. Sumber : https://unsplash.com/id
Lalu muncul pertanyaan klasik : apakah IQ itu tetap sepanjang hayat? Secara teori, iya. Tapi di lapangan? Nggak selalu. Ada banyak kasus orang yang ikut tes IQ dua kali di momen berbeda, dan hasilnya pun ikut beda. Naik atau turun. Ini bisa jadi karena IQ itu, meski diklaim stabil, ternyata juga bisa terpengaruh oleh latihan, pengalaman, atau kondisi mental tertentu.
Nah, kalau gitu, apakah kita bisa "meningkatkan" IQ? Jawaban sederhananya : mungkin bukan IQ-nya yang naik drastis, tapi kemampuan kognitif kita bisa berkembang. Otak itu bukan benda mati. Ia bisa dilatih. Bisa ditempa. Dan bisa diajak kerja sama, asal nggak cuma dipakai buat stalking mantan.
Banyak peneliti sepakat bahwa kecerdasan itu bukan warisan genetik semata, tapi hasil dari perpaduan gen, lingkungan, dan latihan konsisten. Jadi kalau selama ini kamu merasa β€œbiasa-biasa aja”, ya jangan langsung nyerah. Siapa tahu kamu cuma belum nemu ritme latihan yang cocok.
Yang juga penting untuk digarisbawahi: menjadi jenius bukan cuma soal pintar matematika atau bisa debat kusir soal filsafat. Seorang jenius sejati justru tahu cara menyeimbangkan berbagai aspek hidup: intelektual, emosional, sosial, bahkan spiritual. Inilah mengapa konsep kecerdasan nggak bisa dibatasi di dalam angka semata.
Makanya, selain IQ, kini juga dikenal konsep EQ (Emotional Quotient) yang mengukur kematangan emosional seseorang. Dalam banyak kasus, justru orang dengan EQ tinggi-lah yang lebih mampu bertahan di dunia kerja dan hubungan sosial. Soalnya, mereka nggak cuma mikir pakai otak, tapi juga ngerti cara merawat hubungan dan membaca suasana.
Jadi, ketika kita melihat seseorang dengan IQ tinggi, jangan langsung menyimpulkan hidupnya sempurna. Bisa jadi dia sedang berjuang dalam aspek lain yang tak tampak dari skor tes. Karena pada akhirnya, kecerdasan itu bukan perlombaan angka, tapi seni memahami dan menjalani hidup.
Dan bagi kita yang IQ-nya nggak viral-viral amat, nggak usah berkecil hati. Ingat, yang viral itu bukan selalu yang paling berisi.
Trending Now