Konten dari Pengguna

Dasi, Skripsi, dan Disertasi: tentang Pakaian dan Pengetahuan

Reza Fauzi Nazar
Santri - Alumni Lirboyo Kediri - Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
30 Mei 2025 16:48 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dasi, Skripsi, dan Disertasi: tentang Pakaian dan Pengetahuan
Pada kedua momen akademik yang berbeda, saya sama-sama tidak mengenakan dasi. Bukan karena saya tak memilikinya. Sebab mungkin dasi hanya sebuah mitos. Ia tak lagi sekadar benda fungsional—ia adalah r
Reza Fauzi Nazar
Tulisan dari Reza Fauzi Nazar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Polonius menasihati putranya Laertes yang hendak berlayar ke Paris. Ia berpesan, "pakailah pakaian yang pantas, sebab pakaian akan menyatakan manusia." Sang penasihat tua ingin anaknya tampak mulia dan menarik perhatian dengan pakaian yang ia kenakan. Ia tak sadar bahwa busana juga bisa menjadi kostum kepura-puraan. Adegan ini adalah dari penggalan "Hamlet" karya Shakespeare.
Beberapa hari lalu saya duduk menghadap para profesor di sebuah ruang tempat ujian proposal disertasi yang hendak saya teliti. Dan saya, tidak mengenakan dasi saat itu. Bukan karena lupa, tapi saya sengaja tidak memakainya. Bukan karena saya antikemapanan, atau ingin membikin semacam pernyataan politik diam-diam.
Mungkin ada saatnya kita perlu melihat dasi bukan hanya sebagai seutas kain berujung runcing, tetapi sebagai simbol yang lebih dari itu—mungkin kekuasaan, mungkin kepatuhan, atau bahkan keterkungkungan. Di ruang ujian akademik, dasi bisa berarti tata tertib. Tetapi apakah makna ilmu pengetahuan terletak pada simpul Windsor itu? Mungkin ia hanya menjadi seutas kain yang melingkar di leher, melambangkan keterikatan pada sistem, pada struktur, pada keseriusan ilmiah—atau pura-pura keseriusan ilmiah.
dokumen pribadi 26 Mei 2025
Dasi, tak lagi sekadar benda fungsional—ia adalah representasi dari struktur sosial, dari kekuasaan epistemik yang menjelma dalam aturan-aturan tak tertulis bahkan ditulis. Orang-orang berdasi dipandang sebagai masyarakat modern yang serius sekaligus terhormat.
Juga saat seseorang mengenakannya pada momen-momen akademik: dari seminar, rapat, kuliah, hingga sidang proposal disertasi, ia bukan hanya berpakaian rapi—ia tengah tunduk pada narasi besar: bahwa ilmu, untuk dianggap serius, harus dibungkus dalam bentuk-bentuk yang dianggap “serius.”
Namun pengetahuan bukanlah benda mati yang digantung di leher atau di gantungan almari. Ia hidup, ia bergerak, ia menolak dibatasi. Michel Foucault mengatakan bahwa pengetahuan selalu terikat pada kekuasaan, dan kekuasaan bekerja dalam bentuk-bentuk paling halus—termasuk protokol berpakaian. Syahdan, mungkin di ruang ujian itu, absennya dasi yang melingkar dari leher saya bukanlah ketidaksopanan, melainkan pengajuan tafsir baru: bahwa saya tak hendak membiarkan leher saya dikekang oleh simbol yang tak saya setujui maknanya.
Skripsi, juga disertasi, pada dasarnya, adalah ritus peralihan. Tetapi seperti halnya semua ritus dalam sejarah manusia, mereka memiliki protokol busananya, semacam kostum yang membungkus tubuh dalam narasi tertentu. Lihatlah toga wisuda: hitam, berat, dan menyerupai jubah pendeta.
Tidaklah mengherankan, karena universitas pertama memang lahir dari biara. Bahkan pengetahuan modern sekalipun, yang konon bebas dan rasional, masih menyimpan sisa-sisa liturgi lama—dari cara kita duduk di ruang ujian, hingga ucapan-ucapan formal di momen-momen "akademik" saat sidang.
Padahal pertanyaannya untuk siapa riset ilmiah dari skripsi dan disertasi itu ditulis? Untuk dosen pembimbing? Untuk institusi? Untuk nilai? Untuk gelar? Atau untuk kebenaran yang kita cari dengan jujur dan berdarah-darah? Jika jawabannya adalah yang terakhir, maka segala ornamen—termasuk dasi—bisa saja dan sangat mungkin bisa dilepaskan. Tentu, bukan dalam semangat pemberontakan sembrono, tetapi dalam upaya menyingkap sesuatu yang lebih jernih.
Di dalam ruang formal ujian, kadang pengetahuan dikalahkan oleh penampilan. Seorang mahasiswa bisa berbicara gugup karena takut, atau karena ia tidak mengenakan dasi dan dicibir diam-diam bahkan dipandang tidak taat aturan dan melawan kebenaran dalam etika berpakaian. Padahal, pengetahuan tidak lahir dari kemantapan suara atau kerapian jas dan dasi, melainkan dari keberanian mengajukan pertanyaan yang barangkali tak punya jawaban.
Karena yang terpenting bukanlah menemukan kebenaran, tapi bagaimana kita hidup dengan pertanyaan. Disertasi dan skripsi dari mahasiswa sarjana seharusnya mengandung semangat itu: keberanian untuk tidak tahu, dan kehendak untuk terus mencari. Saya tidak memakai dasi saat diuji, karena saya ingin mengingat bahwa ilmu yang saya ajukan berasal dari keresahan, bukan dari kepatuhan.
Saya tidak memakai dasi saat menguji mahasiswa, karena saya ingin mengingat bahwa saya bukan pemegang palu kebenaran, hanya seseorang yang berdiri di sisi lain meja. Dua peran itu, menjadi pengingat bahwa sesungguhnya kita semua adalah pembelajar yang tak selesai.
dokumen pribadi 27 Mei 2025
Ilmu bukan institusi. Ilmu bukan menara gading. Ilmu adalah proses sekaligus "protes." Dan proses itu acap kali tak teratur, tak rapi, tak mengenakan dasi. Kadang ia bangun pukul tiga pagi, dengan mata sembab dan pikiran buntu. Kadang ia datang saat seseorang mencuci piring, atau saat anak kecil bertanya, “Kenapa langit biru?” Ia bukan hasil akhir yang diketik rapi berjubel-jubel halaman, tetapi sesuatu yang terus bergerak, yang hidup bahkan setelah seminar selesai.
Dalam hidup yang makin formil, makin protokoler, makin dikendalikan oleh instruksi dan rubrik penilaian, barangkali yang perlu kita rayakan adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. Dasi mungkin melambangkan kesempurnaan: segitiga kecil yang simetris di bawah kerah. Tetapi di baliknya, ada leher yang mungkin tercekik.
Maka saya kira, bukan dasi yang menentukan kesahihan intelektual seseorang. Melainkan seberapa dalam ia masuk ke dalam persoalan yang ia tulis. Seberapa jujur ia bertanya. Seberapa berani ia mendekati kebingungan dan menyapanya sebagai kawan. Dan seberapa besar ia menyadari bahwa dirinya bukan pusat semesta pengetahuan, melainkan titik kecil dalam percakapan yang tak akan pernah usai.
Dalam suasana akademik kita, kadang suara yang terdengar bukan suara pemikiran, tetapi semacam etika protokol. Bukan pertanyaan, tetapi kutipan. Bukan kebenaran, tetapi format. Kita sibuk mengatur margin dan ketentuan panduan, tetapi lupa menggali makna. Kita mengejar pengakuan, tetapi melupakan renungan.
Maka, semoga skripsi dan disertasi tidak menjadi makam ide, tapi justru taman di mana gagasan tumbuh liar. Dan semoga dasi, bila pun dikenakan, bukan karena ketakutan, tapi karena kesadaran. Karena seperti kata Sartre, manusia bebas, dan karenanya bertanggung jawab atas segala pilihannya—termasuk pilihan untuk mengenakan atau menanggalkan seutas kain kecil di leher itu.
Pada akhirnya, saya lebih suka mengenakan pertanyaan daripada mengenakan dasi. Dan saya ingin duduk di ruang ujian seperti duduk di ruang tamu sebuah rumah: dengan kesederhanaan, ketulusan, dan rasa ingin tahu yang tak habis-habis. Karena mungkin di sanalah, akhirnya, ilmu menemukan wajahnya yang paling jujur.
Trending Now