Konten dari Pengguna
Kejatuhan Orde Baru yang Sudah Lalu
21 Mei 2025 20:22 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kejatuhan Orde Baru yang Sudah Lalu
Soeharto Lengser 21 Mei 1998 mengingatkan kita pada rezim orde baru yang sudah mati namun masih hidupReza Fauzi Nazar
Tulisan dari Reza Fauzi Nazar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Every act of rebellion expresses a nostalgia for innocence and an appeal to the essence of being." — Albert Camus.
Barangkali, 21 Mei 1998 adalah sebuah pemberontakan yang dilahirkan dari nostalgia—imajinasi akan negara yang adil, akan kekuasaan yang mendengar, akan hidup yang tidak selalu dikunci oleh ketakutan. Ketika Soeharto, sosok yang tiga dasawarsa lebih duduk di singgasana kuasa, akhirnya menyatakan mundur, kita menyaksikan satu zaman dilipat dan dimasukkan ke laci sejarah. Tapi apakah benar ia telah selesai? Atau hanya berpindah kostum, seperti aktor tua yang terus memerankan peran berbeda dalam panggung yang sama?
Seorang teman, suatu hari, bertanya: mengapa kita masih membicarakan Orde Baru? itu kan masa lalu. Jawabannya mungkin ada pada apa yang pernah dikatakan George Orwell, “The most effective way to destroy people is to deny and obliterate their own understanding of their history.” Kita tidak ingin dilenyapkan begitu. Maka kita membuka kembali bab-bab yang luka itu bukan untuk meratap, tapi untuk mengerti—mengapa sejarah yang telah jatuh, kerap berdiri lagi dengan cara yang lebih halus, lebih lihai, lebih bersuara merdu.
Orde Baru tidak tumbuh dari kehendak rakyat. Ia lahir dari ketakutan—akan komunisme, akan kekacauan, akan kebebasan. Ketakutan itu lalu dipelihara dan dipelintir menjadi legitimasi. Selama tiga puluh dua tahun, kekuasaan mengatur nyaris semua hal: dari apa yang boleh dikatakan, hingga apa yang layak dipikirkan. Politik dimonopoli, pers dijinakkan, kampus dibisukan, desa-desa dijangkiti pembangunan yang tak selalu manusiawi. Tak heran jika kekuasaan itu begitu lengket pada struktur, pada bahasa, pada cara hidup.
Saat kekuasaan Soeharto runtuh, kita kira bangunan itu roboh seketika. Tapi tak ada bangunan yang benar-benar runtuh tanpa bongkar fondasi. Dan di sinilah kesalahan reformasi pertama: ia tergesa mengganti atap, tapi lupa menyelami akar. Maka tak aneh jika dua puluh tahun kemudian, kita menemukan kembali cara-cara lama dengan jargon baru. Kita menolak kekuasaan militeristik, tapi mengizinkan seragam masuk ke urusan sipil. Kita tertawa atas sensor masa lalu, tapi hari ini menyaksikan kritik dibungkam dengan pasal-pasal yang lentur. Kita meneriakkan demokrasi, tapi membiarkan demokrasi dibajak oligarki.
Mungkin yang harus diingat bahwa totalitarianisme tak selalu datang dalam bentuk larangan terang-terangan. Kadang ia menyusup dalam kelelahan rakyat terhadap politik, dalam rasa tak berdaya terhadap hukum, dalam keengganan untuk berpikir kritis. Saat publik pasrah, kekuasaan akan merayakan keheningan itu sebagai kemenangan.
Kini, Orde Baru tampak seperti tirani yang sudah tua dan berdebu. Tapi kenyataannya, ia masih hidup dalam banyak sudut. Dalam cara kita menyembah stabilitas lebih dari keadilan. Dalam pembangunan yang menghitung angka lebih dari manusia. Dalam penggusuran yang disebut sebagai “penataan,” dalam penghilangan yang disebut “normalisasi.” Bahkan dalam logika bernegara yang masih melihat rakyat sebagai beban, bukan mitra.
Hari ini, kita menyaksikan munculnya nostalgia terhadap masa Orde Baru. Sebagian anak muda yang tidak mengalami hidup di bawah senapan sensor dan bisikan intel, menganggap Soeharto sebagai simbol kedisiplinan dan keteraturan. Ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Ini kegagalan kita semua—yang tak cukup keras merawat ingatan. Kita lebih sibuk membangun monumen ketimbang makna. Kita merayakan demokrasi sebagai upacara lima tahunan, bukan sebagai praktik harian yang memerlukan kejujuran, kesabaran, dan keberanian.
Di titik ini, apa sesungguhnya yang ingin kita kubur dari Orde Baru? Hanya Soeharto sebagai individu, atau struktur kekuasaan yang menindas itu? Jika hanya wajah yang berubah, sedang jantungnya tetap berdetak sama, maka kemunduran itu bukan tragedi, tapi lelucon sejarah.
Jacques Rancière pernah menulis bahwa demokrasi bukanlah sistem yang mapan, melainkan sebuah proses—selalu rentan, selalu terbuka, selalu dalam ancaman. Dan tugas warga negara bukan sekadar memilih, melainkan juga menjaga agar suara-suara minor tak hilang dalam gemuruh mayoritas. Demokrasi bukan tentang kemenangan suara terbanyak, tapi tentang siapa yang tidak bisa bicara dan mengapa.
Sebab itu, hari kejatuhan Soeharto bukanlah akhir dari cerita. Ia hanya jeda. Kita—rakyat, seniman, mahasiswa, jurnalis, petani, buruh—dituntut untuk terus menulis bab berikutnya dengan mata terbuka dan hati yang tak lupa. Kita mesti terus bertanya: siapa yang punya kuasa hari ini, bagaimana mereka mendapatkannya, dan untuk siapa mereka menggunakannya?
Orde Baru harus mati bukan hanya secara formal, tapi secara kultural. Kita harus menguburnya dalam cara kita bernegara, dalam cara kita mendidik anak-anak, dalam cara kita mengelola konflik dan perbedaan. Jika tidak, kita hanya akan memelihara arwahnya—mengizinkannya membayang di ruang sidang, di kantor-kantor pemerintahan, di layar-layar televisi yang penuh kampanye.
Mungkin, seperti kata penyair W.S. Rendra, kita memang hidup di zaman edan. Tapi kegilaan itu bukan takdir. Ia adalah pilihan. Dan seperti yang selalu diyakini para penyair, selalu ada ruang untuk merajut kewarasan, bahkan di antara reruntuhan.
Kita menolak lupa bukan karena dendam, tapi karena harapan. Kita menolak diam bukan karena benci, tapi karena cinta. Cinta pada kemungkinan bahwa negara ini bisa lebih baik, lebih adil, lebih manusiawi. Dan cinta, sebagaimana kata Camus, selalu bersumber dari ingatan. Maka, mari kita ingat: bahwa Orde Baru pernah menindas, pernah mencengkeram, pernah memaksa rakyat mencintai negara dengan rasa takut. Dan mari kita jaga agar itu tak kembali, bahkan dalam bentuk yang paling sopan sekalipun.
Sebab sejarah yang tidak dipelajari akan mengulangi dirinya. Dan kita, jika lalai, akan menjadi aktor-aktor tragis dalam pentas yang mestinya telah kita akhiri.

