Konten dari Pengguna

Robot, Lego, dan Mimpi Masa Depan

Reza Fauzi Nazar
Santri - Alumni Lirboyo Kediri - Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
25 Mei 2025 16:09 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Robot, Lego, dan Mimpi Masa Depan
Robotika adalah bagian yang menjadi kreatifitas anak bangsa untuk mengejar ketertinggalan STEM
Reza Fauzi Nazar
Tulisan dari Reza Fauzi Nazar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Segala yang hidup ingin menjadi manusia,” sebuah obsesi dunia terhadap pusat dari segala narasi: diri kita sendiri. Tapi hari ini, kita melihat pemandangan baru—segala yang manusia buat, dari chip silikon hingga lengkungan lengan robotik, ingin menggantikan manusia. Anak saya, tujuh tahun, duduk bersila di antara kepingan Lego, mencoba membangun sesuatu. Sementara itu, di tempat lain, Elon Musk menguji otak buatan dan Boston Dynamics membuat anjing besi berlari lebih cepat dari yang bisa kita bayangkan. Di antara keduanya itu, saya bertanya-tanya: apakah anak saya sedang bermain atau sedang dilatih menjadi bagian dari dunia yang akan kehilangan sentuhan manusianya?
Kita berada di masa ketika robot bukan lagi sekadar karakter dalam film fiksi ilmiah. Di Jepang, robot sudah merawat lansia. Di Tiongkok, robot mengajar di kelas. Di Amerika, mereka menulis berita, mengantar makanan, bahkan berdialog dengan emosi simulatif. Tapi di Indonesia, lomba robotik ini tetap hal yang dianggap eksotis. Seolah baru kemarin kita keluar dari gua Plato, dan menyentuh teknologi dengan rasa waswas. Ketinggalan kita bukan semata dalam hal teknis, tetapi dalam hal membayangkan. Kita terlalu sibuk dengan perkara politik yang banal: ijazah palsu, debat identitas, dan hoaks tentang kemurnian etnis nasab. Sementara dunia sedang membangun ulang peradaban dengan algoritma dan kecerdasan buatan.
Teknologi memang tidak sekadar alat, tetapi sebuah sistem otonom yang mengatur dirinya sendiri, dengan logikanya sendiri. Ia tidak netral. Teknologi membawa nilai, membentuk perilaku, bahkan menciptakan cara berpikir baru. Dan, seperti Yuval Noah Harari bilang, kita sedang menuju sekaligus dalam era ketika manusia tak lagi menjadi pusat. Data adalah raja baru, dan tubuh hanya wadah informasi. Mungkin, bermain Lego menjadi semacam tindakan subversif. Sebab dalam permainan itu, seorang anak bukan sekadar merangkai keping plastik, tetapi sedang mencoba menciptakan logika dunia. Mencipta dari bawah, dari imajinasi, bukan dari tiruan atau perintah.
Saya teringat pada kisah Pygmalion dari mitologi Yunani: seorang pematung yang jatuh cinta pada patung ciptaannya sendiri. Dewi Afrodit, terharu oleh cinta yang tulus, menghidupkan patung itu. Hari ini, kisah itu terdengar sangat kontemporer. Kita semua adalah Pygmalion yang sedang membentuk patung-patung pintar: drone, kendaraan otonom. Tapi kita lupa bahwa cinta pada ciptaan bisa berubah jadi ketakutan. Seperti Frankenstein karya Mary Shelley, yang menggambarkan bagaimana ciptaan yang ditolak oleh penciptanya bisa berbalik menjadi ancaman. Apakah kita siap mencintai robot seperti mencintai manusia? Atau akan kita anggap mereka selamanya sebagai budak modern, tanpa hak dan tanpa rasa?
Saya tidak punya jawabannya. Tapi saya tahu bahwa memperkenalkan anak pada dunia robotik bukanlah tentang mengejar peringkat internasional, atau menyamai Finlandia dalam kurikulum STEM. Ini tentang menanamkan semangat merakit. Karena merakit bukan cuma kerja tangan, tapi juga kerja jiwa. Dalam tiap susunannya, ada logika. Dalam tiap kegagalan, ada pelajaran. Dalam tiap keberhasilan, ada secercah rasa memiliki. Dan bukankah itu yang kita butuhkan dalam masyarakat yang terlalu mudah menyerah, terlalu sibuk menyalahkan, terlalu malas merakit ulang pikirannya sendiri?
foto pribadi: 25 Mei 2025 dalam kegiatan Fun and Challange Robotic Coding Competition
Saya tak menampik bahwa bahaya terbesar teknologi bukanlah ketika ia mengancam hidup kita, tapi ketika ia membentuk cara kita melihat dunia. Kita tak lagi melihat hutan sebagai hutan, tapi sebagai sumber daya. Kita tak lagi melihat manusia sebagai makhluk yang unik, tapi sebagai data biometrik. Dan mungkin, kita akan melihat anak-anak bukan lagi sebagai individu yang tumbuh, tapi sebagai unit ekonomi masa depan yang harus kompetitif sejak dini. Maka, apakah tujuan lomba robotik itu? Apakah untuk mendidik anak menjadi kreator teknologi, atau justru untuk mencetak teknisi yang patuh?
Di balik tanya itu, saya menyimpan harapan. Harapan bahwa anak saya, dan anak-anak lain, bisa tumbuh dengan semangat bertanya, bukan sekadar menjawab soal. Bahwa mereka bisa melihat robot bukan sebagai alat perang atau pengganti pekerja, tapi sebagai cermin dari pertanyaan-pertanyaan terdalam manusia: tentang hidup, tentang batas, tentang arti menjadi manusia. Harapan itu rapuh, tentu saja. Tapi bukankah kita semua sedang merakit dunia dari keping yang tidak utuh?
Ironis memang, saat di satu sisi kita membicarakan masa depan kecerdasan buatan, dan di sisi lain kita masih terperangkap dalam birokrasi pendidikan yang usang, kurikulum yang dibebani hafalan, serta guru-guru yang tidak diberi ruang untuk berimajinasi. Kita ingin anak-anak mencipta drone, tapi melarang mereka bertanya kenapa langit biru. Kita ingin mereka jadi penemu, tapi memperlakukan kesalahan sebagai aib. Kita ingin mengejar ketertinggalan, tapi berlari dengan kaki terikat sistem yang membingungkan.
foto pribadi: anak saya yang antusias mengikuti lomba fast building lego
Lomba robotik itu bukan cuma acara minggu pagi di sebuah lobby Mall, tapi juga medan kecil tempat kita melawan lupa. Lupa akan pentingnya bermain, lupa akan kegembiraan mencipta, lupa bahwa teknologi—pada dasarnya—lahir dari mimpi manusia yang ingin menjangkau yang belum ada. Sebuah upaya untuk menyusun dunia baru, satu keping Lego pada satu waktu.
Saya lihat anak saya sibuk menyusun. Tangannya kecil, tapi matanya bersinar. Ia tak tahu bahwa di balik tindakannya, ada perdebatan filosofis panjang tentang mesin dan manusia. Tapi mungkin justru karena itu ia bisa lebih bebas. Tidak terbebani oleh sejarah, tidak diikat oleh ketakutan. Ia hanya ingin membuat sesuatu yang bisa berdiri tegak dan tersusun membentuk sesuatu. Dan mungkin, itulah yang dibutuhkan bangsa ini: keinginan untuk bergerak, untuk menyusun, untuk menghidupkan harapan dari benda-benda mati.
Di luar, berita politik masih membuat bising. Keinginan mengejar ketertinggalan masih digaungkan. Di depan gedung sate ribuan orang merayakan kemenangan Persib Bandung. Tapi saya memilih melihat lengan kecil itu menyatu dengan lengkungan Lego. Dan diam-diam, saya percaya, bahwa masa depan mungkin bisa dibangun dari sisa-sisa harapan yang kita rawat hari ini. Meski sederhana. Meski pelan. Meski belum sempurna. [ ]
Trending Now