Konten dari Pengguna
Jangan Dipaksakan Bersatu Bila Memang Harus Berbeda
7 November 2021 7:14 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Jangan Dipaksakan Bersatu Bila Memang Harus Berbeda
Apa daya memaksa bersatu, bila hati masih tertambat pada keyakinan terdahulu. Tulisan ini adalah sebuah kisah nyata Bibiku yang terpaksa berpindah keyakinan demi bayi yang dikandungnya. #userstoryRIBKA NOVIANTI
Tulisan dari RIBKA NOVIANTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lahir, tinggal dan besar di Indonesia dengan lebih dari 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010 (https://indonesia.go.id/profil/suku-bangsa/kebudayaan/suku-bangsa) tentu banyak perbedaan yang saya lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin perbedaan yang paling besar dan seringkali digunakan sebagai kendaraan politik adalah perbedaan agama. Indonesia sendiri mengakui enam agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, serta Konghucu.
Menurut Undang-undang Pasal 1 Tahun 1974 Pasal 2 (1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 mencatat tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 44 bahwa seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

Melihat undang-undang dan instruksi presiden di atas jelas bahwa perkawinan yang dilakukan di Indonesia harus dilakukan dengan keyakinan agama yang sama antara mempelai laki-laki dan perempuan. Perkawinan beda agama tidak diizinkan untuk dilaksanakan dan jika tetap dipaksakan untuk melangsungkan pernikahan beda agama berarti pernikahan itu tidak sah dan melanggar undang-undang perkawinan.
Tidak sedikit keluarga yang menjalani kehidupan rumah tangga berbeda agama. Bahkan artis seperti Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen dan Dimas Anggara-Nadine Chandrawinata. Sebagai artis kehidupan mereka banyak disorot. Adapula Jamal Mirdad-Lydia Kandou yang akhirnya berpisah setelah berumah tangga selama puluhan tahun. Rumor yang beredar bahwa Lydia pernah berjanji untuk mengikuti agama yang dianut Jamal setelah ibunya meninggal. Namun setelah ibunya meninggal, Lydia tak kunjung mengikuti keyakinan Jamal. Inilah salah satu penyebab perceraian mereka. Benar atau tidaknya hanya mereka yang tahu.
Izinkan saya untuk membagi kisah nyata yang terjadi. Ketika menikah dengan Papa, Mama adalah orang pertama yang menganut agama Kristen di keluarga besar. Setelahnya satu persatu saudara kandung mama mengikuti jejak mama meyakini agama Kristen. Tidak terkecuali Oma.
Kampung di mana Mama berasal terdiri dari masyarakat yang beragam. Sudah tinggal turun temurun dan saling mengenal. Perbedaan agama dalam pergaulan disikapi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari. Saling membantu dalam acara besar tanpa dibayar seperti acara pernikahan atau kedukaan mudah sekali ditemukan.
Masalah dimulai ketika salah seorang adik Mama berkenalan dengan seorang pemuda kampung sebelah. Hubungan berlanjut hingga akhirnya Bibi hamil di luar nikah. Hambatan paling besar adalah mereka berbeda keyakinan. Bibi menganut kepercayaan Kristen sedangkan pemuda tersebut beragama Muslim. Pertentangan datang dari kedua belah pihak. Kedua keluarga tidak menginginkan bila anaknya berpindah agama. Masing-masing berkeras agar pihak lain yang berpindah keyakinan.
Tidak terasa waktu berjalan hingga hitungan bulan dan kehamilan tidak dapat ditutupi lagi. Menanggung beban yang berat, Bibi melakukan tindakan yang tergolong nekat. Berusaha mengakhiri hidupnya. Beruntung ada pihak keluarga yang menemukan Bibi saat tidak sadarkan diri sehingga dapat segera ditolong dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Kejadian tersebut menyadarkan Oma yang akhirnya menyetujui pernikahan. Oma mengizinkan bibi berpindah keyakinan. Kesepakatan tercapai. Bibi mengikuti keyakinan calon suaminya. Tak berapa lama kemudian pernikahan dilangsungkan secara meriah dengan mengundang kerabat dan keluarga untuk hadir.
Apakah masalah selesai sampai di situ? Sayangnya tidak. Inilah inti kisah saya. Seiring dengan kelahiran sepupu saya dan bertambah besarnya anak tersebut masalah kembali muncul. Baru saya ketahui kemudian bahwa Bibi menikah hanya agar anaknya memiliki status yang jelas. Berpindahnya keyakinan Bibi hanya formalitas. Beliau sama sekali tidak mengikuti ajaran agama yang baru dianutnya. Tetap meyakini dan melakukan ritual agama sebelumnya.
Saat sepupu saya mulai bersekolah masalah mulai terlihat. Dibesarkan oleh orang tua yang berbeda keyakinan membuat anak ini bingung dalam menjalankan ibadah. Bibi mengajarkan berdasarkan iman Kristen sedangkan ayahnya mengajarkan beribadah secara Muslim. Saya melihat sendiri saat anak ini melakukan gerakan salat namun ucapan yang keluar dari mulutnya adalah doa secara Kristen. Ironisnya inilah yang dialami sepupu saya. Ambigu dalam menjalankan ibadah. Saya berdoa agar suatu waktu nanti dia dapat dengan mantap memilih keyakinannya.
Melihat kenyataan ini penting rasanya melihat melalui sisi yang lain. Bergaul boleh dengan siapa saja agama mana saja namun bersikap bijak dan berhati-hatilah saat bergaul dengan lawan jenis. Cinta memang datang tanpa dapat diduga. Dalamnya hati siapa yang dapat menerka. Menjaga hati sejak awal adalah salah satu kuncinya. Pertimbangkan segala kemungkinan terutama bila hati telah terpaut namun ada perbedaan yang tidak dapat dihindari. Jangan berani untuk menjalin hubungan bila belum yakin. Pantang berkata bagaimana nanti seharusnya nanti bagaimana. Semoga kejadian yang dialami keluarga saya dapat dijadikan contoh. Jangan dipaksakan bersatu bila memang harus berbeda.

