Konten dari Pengguna

Padi Gogo: Memegang Budaya Ladang Berpindah dan Angan Swasembada

Ridho Gunawan
Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Pertama
5 November 2025 20:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Padi Gogo: Memegang Budaya Ladang Berpindah dan Angan Swasembada
Cita-cita swasembada pangan pemerintah dapat dilakukan dengan banyak cara. Tradisi Padi Gogo adalah salah satu potensi besar sebagai budaya maupun penggerak swasembada dimulai dari hal terdekat
Ridho Gunawan
Tulisan dari Ridho Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Satu tahun sudah Presiden Prabowo menggaungkan mimpinya akan swasembada pangan. Bapak Amran Sulaiman, Mentan sekaligus Kepala Bapanas yang ditugaskan mengawal mimpi tersebut, dengan mantap memberikan data bahwa kini produksi beras sudah mencapai angka 33,13 Juta Ton. Capaian tersebut bahkan tercapai di saat 2025 masih tersisa tiga bulan lagi. Angka ini lebih tinggi 4 juta ton dibanding tahun 2024, di mana masih terdampak efek badai el-nino yang datang sejak akhir 2023.
Produksi ini masih sangat mungkin meroket sebab kita belum sepenuhnya memaksimalkan potensi besar dari ciri dan budaya bangsa Indonesia terutama dari Tanah Kalimantan: Padi Gogo.
Bapak-bapak dari Arut Utara sedang bersiap melakukan Tanam Bersama "Menugal Padi"
zoom-in-whitePerbesar
Bapak-bapak dari Arut Utara sedang bersiap melakukan Tanam Bersama "Menugal Padi"

Oktober: Waktunya lahan berpindah

Bila berbicara tentang sawah dan produktivitas padi yang kini menjadi kebanggaan pertanian selalu identik dengan lahan sawah yang dialiri irigasi teknis, waduk dengan volume melimpah, dan luas berhektare-hektare di tanah jawa, maka padi gogo adalah sebuah perpaduan merawat alam yang sarat akan makna lewat budaya Ladang Berpindah. Bulan Oktober adalah di mana kita mulai menanam di ladang karena curah hujan di periode tanam OkMar mulai meningkat signifikan. Seperti sawah tadah hujan, lahan padi ladang atau gogo ini amat bergantung pada hujan.
Secara produktivitas, harus kita akui bahwa sawah irigasi teknis belum tergantikan. Setidaknya 4,5 hingga 4,7 ton GKG per hektare berbanding 1,5-2 ton GKG/Ha dari padi gogo. Dari umur pun, rerata umur padi sawah lebih singkat untuk dipanen: 3-4 bulan tergantung varietas unggul padi sawah berbanding 4 hingga 6 bulan dari padi gogo yang didominasi oleh varietas lokal. Tapi kalau soal rasa, boleh diadu. Masyarakat Kalimantan umumnya lebih menyukai beras dari padi gogo karena enak dan terberai (pera) karena beramilopektin rendah.

Merawat Budaya Leluhur dari Suku Dayak Tomun

Pengalaman ikut menanam bersama petani Dayak Tomun, membuat saya jatuh lebih dari sekadar teknik bercocok tanam. Inilah sistem sosial-ekologis yang memadukan pengetahuan lokal, rotasi lahan, dan konservasi tanah. Sebuah bentuk ketahanan yang tumbuh bersama budaya. Sayangnya, tekanan regulasi tata guna lahan dan hilangnya akses praktik tradisional membuat potensi ini tergerus. Luasan lahan kering Kalimantan kini terancam akibat perubahan fungsi menjadi lahan sawit serta sulitnya petani diberikan kelonggaran dalam pembukaan lahan dengan praktik tradisional membakar.
Para Ibu-ibu dari Kec. Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, sedang melakukan upacara Menugal Padi di ladang milik petani
Larangan pembakaran lahan untuk ladang berpindah perlu disertai transisi aturan dan paket solusi/insentif, misalnya melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Kalimantan Tengah, seperti yang dilakukan oleh Pemda Kalimantan Barat melalui lewat Pergub Nomor 103 Tahun 2020 yang memperbolehkan membakar untuk masyarakat adat selama dibawah 2 hektare per kepala keluarga.
Hadirnya pedampingan penyuluh pertanian dalam mengawal transisi aturan ini juga turut membuat adopsi praktik ladang berpindah ini bisa lebih mulus di masa transisi, apalagi saat ini pendayagunaan penyuluh telah menjadi kewewangan pusat (Kementerian Pertanian)

Intervensi Optimasi Lahan dan Riset Benih galur Lokal

Luasan lahan kering di Kalimantan dan potensi galur lokal membuka peluang meningkatkan produksi nasional tanpa adanya konflik irigasi. Program riset untuk mengembangkan varietas padi gogo adaptif dengan mempertahankan sifat lokal yang bernilai tinggi serta umur yang jadi lebih pendek harus diprioritaskan. Harapan itu sudah ada pada varietas Inpago yang terus dikembangkan. Riset terintegrasi dengan menggabungkan genetika, manajemen tanah, dan pengendalian hama terpadu dapat menutup gap produktivitas dengan padi sawah yang sudah ada sekarang. Semakin istimewa bila dipadukan dengan pendampingan teknis serta paket solusi sarana produksi lainnya seperti paket solusi herbisida dan pestisida sehingga padi gogo benar-benar terawat sepanjang pertanaman.
Inilah ladang berpindah: ilmu yang diwariskan turun-temurun, bukti bahwa manusia bisa selaras dengan alam. Mengajarkan kita bahwa alam tidak hanya tentang kekayaan alam saja, tapi juga warisan tidak benda yang kaya jiwa dan kebijaksanaan. Semoga kita semua selalu ingat, di balik setiap butir padi, ada cinta, ada doa, dan ada kehidupan yang terus dijaga.
Arus, Arus, Arus!
Trending Now