Konten dari Pengguna

Kemerdekaan Sejati: Bukan Hanya Kata Kosong

Rifandy Ritonga
Dosen Hukum Tata Negara Universitas Bandar Lampung
18 Agustus 2025 15:32 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kemerdekaan Sejati: Bukan Hanya Kata Kosong
Kemerdekaan sejati lahir dari rakyat sadar & terdidik
Rifandy Ritonga
Tulisan dari Rifandy Ritonga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kemerdekaan Sejati: Bukan Hanya Kata Kosong. Dibuat dengan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kemerdekaan Sejati: Bukan Hanya Kata Kosong. Dibuat dengan AI.
Tan Malaka pernah berkata, "Kemerdekaan Indonesia hanya dapat dicapai oleh rakyat yang sadar, terdidik, dan terorganisasi. Tanpa pengetahuan dan pendidilan, kemerdekaan hanyalah lata kosong."
Kata-kata ini terasa sangat tepat untuk kita renungkan hari ini. Kemerdekaan memang sudah kita raih sejak 17 Agustus 1945. Tetapi, apakah kemerdekaan itu sudah benar-benar kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari?
Kemerdekaan Bukan Sekedar Ucapan
Kemerdekaan tidak boleh dipahami hanya sebatas perayaan tahunan. Ia harus hadir nyata dalam kehidupan rakyat: dalam keadilan hukum, kesempatan pendidikan yang sama, pekerjaan yang layak, hingga kebebasan berpendapat. Kalau rakyat masih terjebak dalam kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan, maka kemerdekaan yang kita banggakan belum sepenuhnya berarti.
Rakyat yang Sadar dan Kritis
Rakyat yang sadar adalah rakyat yang tahu hak dan kewajibannya. Mereka ikut terlibat dalam kehidupan berbangsa, bukan hanya menjadi penonton. Tanpa kesadaran, suara rakyat mudah dibeli oleh politik uang, mudah diadu domba oleh isu sesaat, bahkan rela diperalat demi kepentingan segelintir orang.
Inilah yang membuat pendidikan politik dan kesadaran kritis sangat penting. Rakyat harus paham bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika mereka bisa berdiri tegak, menentukan masa depan tanpa ditekan atau dibohongi.
Pendidikan sebagai Tiang Kemerdekaan
Pendidikan adalah kunci agar rakyat tidak mudah ditindas. Orang yang berpendidikan bisa berpikir jernih, bisa membedakan benar dan salah, serta lebih berani memperjuangkan keadilan. Tanpa pendidikan, rakyat akan terus berada di posisi lemah, meski negara sudah merdeka secara politik.
Sayangnya, pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak masalah: biaya yang mahal, akses yang belum merata, serta kualitas yang tidak sama di tiap daerah. Padahal, bangsa yang besar bukanlah bangsa dengan alam melimpah, melainkan bangsa dengan rakyat yang terdidik dan cerdas.
Kekuatan dalam Persatuan
Selain sadar dan terdidik, rakyat juga harus mau berorganisasi. Dengan berorganisasi, kekuatan yang tercerai-berai bisa disatukan menjadi tenaga besar untuk perubahan. Sejarah menunjukkan, kemerdekaan Indonesia lahir dari pergerakan organisasi rakyat, mahasiswa, dan pemuda.
Hari ini, organisasi tetap penting. Bentuknya bisa partai politik, serikat pekerja, organisasi mahasiswa, komunitas sosial, bahkan kelompok-kelompok kecil yang peduli pada perubahan. Organisasi membuat rakyat tidak mudah dipisahkan, karena ada wadah perjuangan bersama.
Tantangan Zaman Kini
Kalau dulu bangsa kita melawan penjajah dengan senjata, kini kita menghadapi bentuk penjajahan baru: ekonomi, sosial, budaya, dan politik -hukum. Dari sisi ekonomi, kita masih bergantung pada utang dan impor. Dari sisi sosial, jurang antara kaya dan miskin makin lebar. Dari sisi budaya, generasi muda lebih mengenal budaya luar daripada sejarah bangsanya sendiri. Dari sisi hukum dan politik, kita menghadapi persoalan serius. Hukum yang seharusnya menjadi panglima justru sering kalah oleh kepentingan politik. Banyak keputusan hukum yang tidak berdiri di atas prinsip keadilan, melainkan tunduk pada tekanan kekuasaan. Akibatnya, hukum kehilangan wibawanya, dan rakyat kecil kerap menjadi korban ketidakadilan.
Penjajahan dalam bentuk baru ini lebih halus, tetapi tidak kalah berbahaya. Rakyat bisa merasa β€œmerdeka” secara formal, padahal dalam praktiknya tetap terikat oleh kepentingan segelintir orang yang menguasai politik, ekonomi, dan hukum.
Memgisi Kemerdekaan Hari Ini
Tugas kita, terutama generasi muda, adalah mengisi kemerdekaan dengan hal nyata: belajar dengan sungguh-sungguh, kritis terhadap keadaan, berani bersuara untuk kebenaran, dan mau bergabung dalam gerakan positif. Media sosial bisa menjadi sarana perjuangan baru, asalkan digunakan untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian atau berita bohong.
Tan Malaka benar kemerdekaan tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus terasa dalam kehidupan nyata: ketika anak-anak bisa sekolah dengan layak, ketika rakyat kecil mendapat perlindungan hukum, ketika kesenjangan sosial semakin kecil, dan ketika kita bisa menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Kemerdekaan sejati hanya bisa dirasakan bila rakyat sadar, terdidik, dan bersatu. Tanpa itu, kemerdekaan hanyalah kata indah yang kosong.
Trending Now