Konten dari Pengguna
Indonesia: Mungkinkah Jadi Arsitek Baterai Dunia?
6 Agustus 2025 8:57 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Indonesia: Mungkinkah Jadi Arsitek Baterai Dunia?
Perjanjian tarif istimewa dengan AS membuka peluang bagi Indonesia untuk jadi arsitek baterai dunia. Dengan cadangan nikel melimpah, Indonesia kini memiliki posisi kunci untuk memasok mineral penting Rifqi Nuril Huda
Tulisan dari Rifqi Nuril Huda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gelombang transisi energi global kini tak terbendung, mendorong dunia untuk berlomba menuju masa depan rendah karbon, dengan kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi berbasis baterai yang bertindak sebagai lokomotif utamanya.
Di tengah pusaran perubahan ini, Indonesia, dengan cadangan nikel yang melimpah, menemukan dirinya berada di garis depan, dan perjanjian tarif preferensial yang baru-baru ini disepakati dengan Amerika Serikat bukan sekadar kesepakatan dagang biasa, melainkan sebuah gerbang menuju peluang ekonomi raksasa yang belum terjamah secara optimal.
Data terbaru dari US Geological Survey (USGS) dengan jelas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, mencapai sekitar 21 juta metrik ton pada tahun 2024, sebuah angka yang secara strategis menempatkan kita sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global.
Hal ini sangat penting mengingat nikel merupakan komponen vital dalam katoda baterai lithium-ion yang digunakan pada sebagian besar kendaraan listrik modern, sehingga tanpa pasokan nikel yang memadai, produksi baterai skala besar untuk EV akan menghadapi hambatan serius.
Meskipun demikian, di tengah fokus yang kuat pada nikel, sangat penting untuk memahami bahwa lithium adalah inti dari revolusi baterai, berfungsi sebagai pembawa muatan utama dalam semua jenis baterai lithium-ion.
Meskipun cadangan lithium Indonesia relatif kecil dibandingkan negara-negara lain seperti Chile, Australia, atau Argentina, ketersediaan nikel yang masif menjadikan Indonesia mitra yang sangat krusial bagi produsen baterai yang sangat bergantung pada pasokan nikel berkualitas tinggi, dan kunci suksesnya terletak pada bagaimana kita dapat mengintegrasikan nikel kita secara efektif ke dalam ekosistem baterai global yang berpusat pada lithium.
Peluang Emas dari Washington
Minat Amerika Serikat terhadap mineral kritis Indonesia bukanlah hal baru, namun kini semakin konkret melalui kerangka perdagangan yang secara khusus memberikan Indonesia tarif yang menguntungkan, terutama di saat beberapa negara lain menghadapi tarif "Liberation Day" AS yang tinggi.
Perlakuan istimewa ini merupakan hasil dari kesadaran AS akan kebutuhan mendesak mereka untuk mendiversifikasi rantai pasok mineral kritis, sehingga mengurangi ketergantungan pada satu atau dua negara, dan pada akhirnya memastikan keamanan pasokan yang stabil untuk industri dalam negeri mereka yang tengah berkembang pesat.
Kebijakan domestik AS, terutama Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) yang disahkan pada tahun 2022, turut menjadi pendorong utama, dengan memberikan insentif besar bagi konsumen EV yang kendaraannya menggunakan baterai dengan mineral kritis yang bersumber atau diproses di AS atau dari negara-negara mitra dagang bebas (FTA) AS.
Meskipun Indonesia belum memiliki Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan AS, kerangka kerja preferensial ini secara signifikan menempatkan nikel Indonesia pada posisi yang sangat kompetitif, membuka pintu lebar bagi investasi AS di sektor hilirisasi nikel Indonesia yang bertujuan untuk membangun kapasitas pemrosesan nikel menjadi bahan baku baterai seperti nikel sulfat atau prekursor katoda.
Membandingkan Tata Kelola Mineral Kritis
Indonesia dapat belajar banyak dari negara-negara lain dalam tata kelola mineral kritis. Misalnya, Australia, sebagai produsen lithium dan nikel terkemuka, telah berinvestasi besar dalam penelitian dan pengembangan teknologi pemrosesan mineral, tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.
Mereka juga fokus pada peningkatan transparansi dan praktik ESG untuk menarik investasi yang bertanggung jawab. Sementara itu, Chile, produsen lithium terbesar kedua di dunia, tengah memperketat kontrol pemerintah atas cadangan lithiumnya untuk memastikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat, meskipun kebijakan ini terkadang menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor asing.
Pendekatan Kanada juga sangat menarik, dengan strategi mineral kritis yang terintegrasi, mencakup pemetaan geologi, insentif pajak yang menarik untuk eksplorasi dan pemrosesan, serta kemitraan yang kuat dengan masyarakat adat, menempatkan keberlanjutan lingkungan dan sosial sebagai inti dari setiap proyek pertambangan.
Berbeda dengan Indonesia yang masih dalam tahap awal membangun ekosistem hilirisasi secara masif, negara-negara ini telah memiliki kerangka kerja yang lebih matang dan pengalaman yang luas dalam menarik investasi sekaligus menjaga standar lingkungan dan sosial yang tinggi secara konsisten.
Tantangan dan Keberlanjutan
Namun, jalan menuju "Baterai Dunia" tidaklah mulus dan penuh tantangan yang harus diatasi.
Pertama, terkait dengan Standar ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola), pasar global, terutama AS dan Eropa, semakin menuntut praktik pertambangan yang berkelanjutan dan etis. Indonesia harus memastikan bahwa setiap investasi dan operasional di sektor nikel mematuhi standar ESG tertinggi, karena kegagalan dalam aspek ini dapat merusak reputasi dan berpotensi menyebabkan kerugian ekspor hingga miliaran dolar jika produk kita dianggap tidak memenuhi kriteria keberlanjutan yang ketat.
Kedua, mengenai Transfer Teknologi, kemitraan dengan investor AS harus memastikan adanya transfer teknologi yang substansial, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga pusat inovasi dan keahlian di bidang teknologi baterai dan mineral kritis. Tanpa transfer teknologi yang efektif, potensi penciptaan nilai tambah jangka panjang bisa terbatas, dan kita hanya akan menjadi perakit atau pemroses awal.
Ketiga, tentang Diversifikasi Pasar, meskipun AS adalah pasar yang sangat menarik, ketergantungan berlebihan pada satu pasar berisiko. Indonesia perlu terus menjajaki dan memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara lain, seperti Uni Eropa melalui IEU-CEPA, serta mengembangkan pasar domestik untuk produk hilirisasi, karena fluktuasi permintaan dari satu pasar bisa berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi jika diversifikasi tidak dilakukan.
Terakhir, terkait dengan Ketersediaan Energi Bersih, proses hilirisasi nikel membutuhkan energi yang sangat besar. Untuk mendukung klaim keberlanjutan, industri ini harus didukung oleh pasokan energi terbarukan yang memadai, mengurangi jejak karbon secara keseluruhan.
Saat ini, sebagian besar energi untuk smelter masih berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, yang berkontribusi pada emisi karbon yang tinggi; oleh karena itu, untuk mencapai standar "green battery", investasi pada energi terbarukan harus dipercepat secara signifikan, mungkin hingga puluhan gigawatt dalam dekade mendatang untuk memenuhi kebutuhan industri hilirisasi yang terus meningkat.
Perjanjian tarif preferensial dengan AS adalah momentum penting yang harus dimanfaatkan. Ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk mengukuhkan posisinya sebagai pemain strategis dalam transisi energi global, memimpin dalam hilirisasi nikel, dan pada akhirnya, berkontribusi signifikan pada pasokan baterai dunia.
Namun, keberhasilan akan sangat bergantung pada komitmen kita terhadap keberlanjutan, inovasi, dan diversifikasi yang kuat. Jika dikelola dengan bijak, nikel Indonesia, yang berintegrasi dengan teknologi lithium, akan benar-benar menyalakan masa depan yang lebih hijau bagi dunia.

