Konten dari Pengguna
Riwayat Jejak Krisis dalam Sepiring Makanan
18 September 2025 15:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Riwayat Jejak Krisis dalam Sepiring Makanan
Sepiring makanan menyimpan jejak perjuangan petani dan nelayan. Saat terbuang, ia berubah jadi bumerang, memperparah krisis iklim, menghapus jerih payah, dan mengancam masa depan bumi. #userstoryRio Ananda Andriana
Tulisan dari Rio Ananda Andriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali kita lupa bahwa hal sederhana seperti makanan, menyimpan kisah panjang di baliknya. Sepiring makanan yang hadir di meja, dari pagi hingga malam, lahir dari kerja keras dan perjuangan panjang yang jarang kita ketahui.
Namun, sering kali makanan itu berakhir sia-sia. Sisa di makanan yang tidak habis dibuang begitu saja, seakan tanpa konsekuensi. Padahal di balik setiap makanan yang terbuang,ada jerih payah yang terabaikan dan dampak lingkungan yang kian memperparah krisis iklim.
Cerita Makanan dan Perjuangan
Makanan adalah kebutuhan utama manusia dalam menjalani kehidupan. Setiap hariβpagi, siang, sore, hingga malamβkita selalu membutuhkan makanan untuk mengisi perut yang lapar.
Namun, di balik setiap suapan, ada kisah panjang perjuangan yang jarang kita hiraukan, perjuangan petani di ladang dan nelayan di lautan.
Petani tetap bekerja menanam dan merawat tanaman di tengah cuaca dan musim yang kian sulit ditebak. Hujan bisa datang terlambat. Kekeringan berlangsung lebih lama. Atau bahkan banjir merusak ladang yang siap panen.
Di sisi lain, nelayan pun merasakan dampak krisis iklim. Laut dirasa semakin panas membuat ikan sulit ditangkap. Gelombang tinggi membahayakan perjalanan. Dan pencemaran semakin mempersempit ruang hidup ekosistem laut.
Meski memerlukan perjuangan yang berat, mereka tetap bertahan. Petani mencoba menyesuaikan pola tanam, sementara nelayan berlayar lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan. Semua itu bukan soal hidup mereka saja. Tapi soal kita yang membutuhkan nasi, sayur, ikan, umbi-umbian, dan lauk pauk lainnya yang tersaji di meja.
Setiap piring yang kita nikmati adalah hasil dari perjuangan petani dan nelayan dalam menghadapi iklim yang kian memburuk. Namun, hasil dari kerja keras itu sering kali kita sia-siakan.
Di beberapa kesempatan, makanan yang sudah sampai di meja justru dibuang begitu saja. Setiap makanan yang dibuang akan menghapus kerja keras petani dan nelayan, serta menambah beban ekologis untuk krisis iklim yang kian memburuk.
Dengan kata lain, menyia-nyiakan makanan berarti menyia-nyiakan perjuangan mereka sekaligus memperparah krisis iklim yang sedang kita hadapi bersama.
Makanan Bisa Menjadi Bumerang
Makanan yang terbuang tidak pernah benar-benar hilang. Sisa-sisa di piring yang berakhir di tempat pembuangan akhir akan membusuk dan menghasilkan gas metana (CH4), yang 25 kali lebih berbahaya bagi bumi ketimbang karbondioksida (CO2) yang biasa dari kendaraan bermotor.
Sebuah ironi yang jarang kita sadari. Makanan yang mestinya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi ancaman baru yang mematikan bagi bumi. Gas metana dari food waste inilah yang mempercepat laju krisis iklim. Setiap makanan yang terbuang berarti menambah emisi, memperbesar jejak ekologis, dan memperburuk kondisi lingkungan.
Dengan demikian, perilaku sederhana seperti tidak menghabiskan makanan sesungguhnya ikut memperpanjang krisis yang kita hadapi bersama-sama saat ini.
Paradoksnya, dampak dari krisis iklim yang kian berat itu kembali menghantam petani dan nelayan. Mereka yang sudah bersusah payah menghadirkan pangan justru menjadi kelompok yang paling merasakan beban.
Makanan yang terbuang bukan hanya menghapus jerih payah mereka, tetapi juga memperkuat lingkaran krisis yang pada akhirnya menekan hidup mereka sendiri. Ketika makanan dibuang, bukan hanya jerih payah mereka yang terhapus, tetapi juga terbentuk lingkaran krisis yang semakin menekan hidup mereka.
Bisa jadi petani dan nelayan juga akan kehilangan mata pencahariannya karena krisis iklim terus berlanjut, buruknya lagi krisis pangan akan benar-benar terjadi.
Inilah bumerang yang menyakitkan. Makanan yang kita sia-siakan tidak hanya menambah beban bumi, tetapi juga memperparah krisis yang menyingkirkan petani dan nelayan dari ruang hidupnya. Alih-alih mendapat apresiasi, mereka justru ikut menanggung akibat dari kelalaian kita, sementara ketahanan pangan yang kita butuhkan kian rapuh.
Akhir Cerita dari Sepiring Makanan
Sepiring makanan tidak berhenti ceritanya ketika kenyang tercapai. Ada perjalanan panjang di baliknya: dari ladang petani, dari laut nelayan, hingga meja makan kita.
Namun, ketika makanan itu berakhir di tempat sampah, kisahnya berubah tragis di mana jerih payah petani dan nelayan hilang sia-sia; bumi menanggung beban ekologis baru. Membuang makanan berarti menambah emisi, memperparah krisis iklim, sekaligus menghapus kerja keras mereka yang sudah berjuang menghadirkan pangan.
Padahal, kita bisa memilih akhir cerita yang berbeda, mengambil secukupnya, menghabiskan yang ada, dan menghargai setiap butirnya. Dengan begitu, makanan tetap menjadi sumber kehidupan, bukan bumerang yang menyakiti bumi dan mereka yang telah berjuang untuk kita.
Mulai dari hal sederhana, seperti ambil makanan secukupnya, habiskan yang ada di piringmu, dan hargai setiap perjuangan di baliknya. Sebab, di setiap piring makanan yang kita santap, masa depan bumi ikut dipertaruhkan.

