Konten dari Pengguna
Bayang-Bayang AI di Ruang Dosen: Siapa Sebenarnya yang Sedang Diuji?
8 November 2025 21:00 WIB
ยท
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Bayang-Bayang AI di Ruang Dosen: Siapa Sebenarnya yang Sedang Diuji?
Sebuah refleksi jujur tentang bagaimana AI bukan hanya menguji mahasiswa, tetapi juga mengguncang makna profesi dosen dan arah pendidikan tinggi di era otomatisasi.FX Risang Baskara
Tulisan dari FX Risang Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejak ChatGPT lahir dan kemudian meledak di panggung global pada penghujung tahun 2022, ada bayang-bayang baru yang bergentayangan di koridor-koridor kampus. Bayang-bayang itu tidak berwujud, tapi kehadirannya terasa di mana-mana, memicu campuran aneh antara rasa penasaran, kegembiraan, ketakutan, dan kebingungan; seringkali dalam satu tarikan napas yang sama.
Bayang-bayang itu ada dalam obrolan-obrolan di ruang dosen, dalam keheningan mahasiswa yang tiba-tiba bisa menghasilkan esai lima halaman dalam semalam, dan (mungkin) dalam rapat-rapat pimpinan universitas yang panik merumuskan kebijakan. Bayang-bayang itu bernama Generative Artificial Intelligence.
Sebagai seorang dosen yang menekuni teknologi pendidikan, saya melihat respons di lapangan tidaklah hitam-putih. Bahkan jauh dari itu. Alih-alih terbelah menjadi dua kubu (para "pemuja" teknologi versus kaum "Luddite" anti-teknologi), saya yakin kondisi di banyak kampus lain di Indonesia jauh lebih rumit, lebih abu-abu, dan, jujur saja, lebih manusiawi.
Ini adalah lanskap negosiasi. Sebuah mosaik dari respons-respons personal yang seringkali bertentangan, yang lahir dari imajinasi-imajinasi informal para dosen tentang bagaimana masa depan akan ditenun.
Imajinasi (yang) Terfragmentasi di Ruang Dosen
Di ruang makan siang dosen, perdebatan ini terjadi hampir setiap hari. Saya melihat ada sebuah lanskap nalar yang terfragmentasi dari rekan-rekan dosen yang lain.
Ada kolega saya yang menyambut AI dengan tangan terbuka. "Ini alat!" serunya. Baginya, AI adalah efisiensi murni. Ia bisa mempercepat analisis data, membantu membuat prototipe kode, dan yang paling ia syukuri, meringankan beban administrasi yang selama ini membunuh gairah menelitinya. Ia melihatnya sebagai alat pembebas.
Namun, di seberang meja, seorang kolega lain yang menggelengkan kepala dengan cemas. "Ini bukan sekadar alat," katanya pelan, "Ini adalah ancaman terhadap proses. Bagaimana saya bisa mengajari mahasiswa tentang keindahan merangkai kata, tentang pergulatan batin untuk menemukan kalimat yang tepat, jika mereka bisa mendapatkannya dalam sekejap dari mesin?". Baginya, AI adalah ancaman terhadap craft (keahlian) dan pemikiran kritis itu sendiri.
Di sudut lain, ada dosen-dosen muda yang pragmatis. Mereka menggunakannya diam-diam untuk meringkas tumpukan jurnal, menerjemahkan dokumen, atau sekadar menyusun draf email yang rumit. "Berguna di konteks tertentu, berisiko di konteks lain," begitu pengakuan mereka, sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
Lalu, ada mayoritas yang mungkin paling jujur: mereka yang masih bingung. Mereka yang merasa gamang, ambivalen, atau bahkan belum sadar betul seberapa besar gelombang ini akan menghantam "perahu" mereka.
Fragmentasi ini, saya sadari, bukan hanya soal infrastruktur semata, meskipun kita tahu bahwa kesenjangan akses digital di Indonesia adalah sebuah kondisi yang nyata. Ini adalah soal yang lebih dalam: soal epistemologi. Ini soal bagaimana kita, sebagai pendidik, memaknai apa itu pengetahuan, apa itu belajar, dan apa sebenarnya peran kita di dalam kelas.
Ujian yang Sesungguhnya
Seluruh kepanikan awal di dunia pendidikan, ironisnya, terfokus pada mahasiswa. Mahasiswa curang! Mahasiswa plagiat! Integritas akademik hancur! Kita sibuk berlangganan perangkat lunak pendeteksi AI-generated content, memperketat aturan ujian, dan memelototi setiap kalimat dalam tugas mereka. Seolah-olah, mahasiswalah yang sedang diuji oleh AI.
Saya pikir, kita (sedang) salah fokus.
Fokus pada kecurangan mahasiswa adalah distraksi termudah. Itu membuat kita nyaman karena menempatkan masalah di luar diri kita. Padahal, jika kita mau jujur, bayangan AI ini sedang mengarahkan sorot lampu yang paling tajam justru ke wajah kita sendiri: para dosen dan institusi.
Siapa sebenarnya yang sedang diuji? Menurut saya, kitalah sendiri yang (sebenarnya) sedang diuji.
Pertama, kita diuji secara etis dan profesional. AI kini menawarkan kemudahan-kemudahan yang menggiurkan. Saya sendiri bergulat dengan ini. Haruskah saya menggunakan AI untuk merangkum 20 artikel untuk bahan ajar saya? Tentu, itu akan membebaskan waktu saya. Tapi, seperti yang mungkin juga dirasakan rekan-rekan lainnya di banyak universitas, ada rasa tidak nyaman yang menyertainya. Apakah saya sedang mengorbankan keahlian saya? Apakah saya sedang melemahkan kapasitas kritis saya sendiri?.
Lebih jauh lagi, bagaimana dosen harus menilai mahasiswa? Di tengah kekosongan panduan detil dari universitas, banyak dosen yang kemudian dipaksa menjadi wasit sekaligus pemain. Para dosen harus menciptakan etika darurat sendiri di dalam kelas, meraba-raba batasan antara mana yang alat bantu dan mana yang kecurangan. Ini adalah beban kerja mental baru yang tak terlihat, namun (bisa jadi) sangat melelahkan.
Kedua, dan ini yang paling fundamental, kita diuji secara pedagogis. Ini adalah ujian terberat bagi nilai kita sebagai pendidik. Saya berani katakan: jika seluruh mata kuliah yang dirancang (mulai dari materi, tugas, hingga ujian akhir) dapat diselesaikan dengan sempurna oleh ChatGPT, maka siapa yang sebenarnya gagal? Apakah mahasiswa yang menggunakan alat itu? Atau kita, para dosen, yang telah merancang sebuah mata kuliah yang begitu mekanistis, begitu dangkal, dan begitu tidak manusiawi sehingga sebuah mesin pun bisa "lulus"?
Jika tugas kita hanya mentransfer informasi, maka kita memang sudah usang, bahkan jauh sebelum AI datang. Jika ujian kita hanya mengukur kemampuan menghafal dan menyusun ulang fakta, maka kita memang pantas digantikan.
Maka, Apa yang Tersisa?
Inilah pertanyaan yang (semestinya) harus dijawab oleh setiap rektor, dekan, dan dosen di Indonesia hari ini. Jika AI bisa melakukan semua hal yang teknis, apa lagi yang tersisa untuk kita lakukan?
Yang tersisa adalah semua hal yang "berantakan". Semua hal yang tidak bisa di-algoritma-kan.
Yang tersisa adalah proses. AI bisa memberikan jawaban instan, tapi ia tidak bisa menggantikan pergulatan batin, keraguan, dan momen "Aha!" yang dialami mahasiswa ketika ia akhirnya memahami sebuah konsep yang sulit.
Yang tersisa adalah konteks. AI bisa merangkum teori Romo Mangun, tapi ia tidak bisa merasakan langsung bagaimana menerapkan teori itu untuk mendampingi anak-anak di bantaran sungai. Tugas kita adalah membawa mahasiswa keluar dari teks dan masuk ke dalam konteks.
Yang tersisa adalah komunitas. AI adalah sebuah pengalaman yang soliter. Sekolah, dalam esensinya, adalah sebuah pengalaman (yang) komunal. Di sinilah (seharusnya) tempat mahasiswa belajar berdebat, mendengarkan, berkolaborasi, dan merasakan apa artinya menjadi manusia di tengah manusia lainnya. Sebuah proses humanisasi yang diajarkan Romo Driyarkara.
Dan yang tersisa adalah makna. AI bisa menyajikan data, tapi ia tidak bisa memberi kita kebijaksanaan. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan "mengapa". Ia tidak punya nalar etis. Ia tidak punya integritas.
Harapan di Tengah Kegalauan
Saya (masih) menolak untuk pesimis. Saya melihat AI bukan sebagai algojo yang datang untuk mengeksekusi profesi kita. Saya melihatnya sebagai sebuah undangan untuk berefleksi.
AI tidak datang untuk menggantikan kita. Ia datang untuk menantang kita agar menjadi pendidik yang lebih baik. Ia memaksa kita untuk berhenti menjadi "mesin fotokopi" informasi dan kembali menjadi "pemahat jiwa". Ia memaksa kita untuk merancang tugas yang tidak lagi bisa dijawab dengan sekali klik, tugas-tugas yang menuntut orisinalitas, pengalaman personal, refleksi kritis, dan keberanian moral.
Ujian ini, pada akhirnya, bukanlah tentang seberapa canggih teknologi kita. Ini adalah ujian tentang seberapa dalam kemanusiaan kita. Dan saya percaya, ini adalah ujian yang bisa (dan pasti bisa) kita menangkan.
Salam Cerdas dan Humanis.

