Konten dari Pengguna
Bergerak ke Mana? Bersatu untuk Apa? Sebuah Refleksi Sumpah Pemuda di Zaman Edan
29 Oktober 2025 10:25 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Bergerak ke Mana? Bersatu untuk Apa? Sebuah Refleksi Sumpah Pemuda di Zaman Edan
Sebuah refleksi tajam atas makna Sumpah Pemuda di era polarisasi digital dan apatisme sosial—tentang bagaimana generasi muda perlu bergerak melampaui slogan menuju kebersatuan yang berjiwa.FX Risang Baskara
Tulisan dari FX Risang Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari ini, 28 Oktober. Sebuah tanggal keramat dalam kalender kebangsaan kita. Sembilan puluh tujuh tahun silam, sekumpulan anak muda dari berbagai penjuru Nusantara melakukan sesuatu yang, jika dipikir-pikir, (bahkan) nyaris gila: mereka bersumpah untuk menjadi satu. Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Di tengah belenggu kolonialisme dan sekat-sekat primordialisme yang begitu tebal, mereka berani membayangkan sebuah "Indonesia" yang bahkan belum ada. Sebuah lompatan imajinasi yang dahsyat.
Maka, setiap tahun, kita pun menggelar ritual peringatan. Tahun ini, tema besarnya adalah "Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu". Logonya pun dirancang begitu indah: pusaran sayap garuda yang membentuk tangan berkolaborasi, panah menunjuk ke depan, melambangkan semangat progresif, keteguhan besi, dan cahaya kesadaran kolektif di tengahnya . Semuanya serba bergerak, serba bersatu, serba optimistis.
Saya menatap logo itu, membaca tema itu, dan mencoba (perlahan-lahan) meresapinya. Tapi entah kenapa, ada bagian dari diri saya yang merasa gamang. Bukan karena saya tak percaya pada kekuatan pemuda, tentu bukan. Kegamangan ini muncul justru karena saya terlalu sering melihat realitas yang berbeda di lapangan. Pertanyaan sederhana terus mengusik benak saya: Bergerak? Ya, tapi bergerak ke mana? Bersatu? Tentu, tapi bersatu untuk apa?
Gema Sumpah di Lorong Waktu yang Berbeda
Sumpah Pemuda 1928 adalah sebuah ledakan. Ledakan kesadaran untuk mendobrak sekat-sekat sempit; Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan segala macam "jong" lainnya. Mereka bergerak melampaui identitas kedaerahan mereka, bukan untuk menghapusnya, tapi untuk menemukan sebuah identitas baru yang lebih besar, lebih inklusif: Indonesia. Bahasa Melayu, yang mungkin bukan bahasa ibu sebagian besar dari mereka, rela mereka junjung sebagai bahasa persatuan. Sebuah pengorbanan ego yang luar biasa demi sebuah cita-cita bersama.
Sekarang, hampir seabad kemudian, gema sumpah itu masih terdengar. Tapi lorong waktu tempat gema itu memantul sudah sangat berbeda. Sekat-sekat lama mungkin telah runtuh, tapi penjara-penjara baru justru bermunculan. Jika dulu musuhnya adalah kolonialisme fisik dan primordialisme geografis, musuh kita hari ini jauh lebih licin, lebih tak kasat mata.
Kita terperangkap dalam penjara polarisasi digital. Media sosial, yang seharusnya menyatukan, justru seringkali menjadi arena adu domba, tempat hoaks dan ujaran kebencian menari-nari laksana hantu gentayangan. Kita bergerak, ya betul, tapi seringkali bergerak saling menjauh, saling curiga, terkurung dalam gelembung-gelembung algoritma yang memenjarakan nalar kita.
Kita juga terjebak dalam penjara pragmatisme sesaat. Semangat pengorbanan demi cita-cita besar terasa kian langka. Yang lebih dominan adalah narasi tentang bagaimana meraih sukses pribadi secepat mungkin, tak peduli harus mengorbankan nilai atau etika. Korupsi, yang disebut sebagai salah satu problem bangsa, adalah manifestasi paling busuk dari pragmatisme ini. Kita bergerak, ya betul, tapi seringkali bergerak hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok sempit kita.
Dan yang tak kalah mengerikan, kita terancam oleh penjara apatisme. Di tengah banjir informasi dan kompleksitas masalah bangsa (kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan) banyak anak muda yang merasa lelah, merasa tak berdaya, dan memilih untuk "tidak bergerak" sama sekali. Mereka menarik diri ke dalam dunia privat mereka, membiarkan kapal besar bernama Indonesia berlayar tanpa arah.
Bergerak Melampaui Ritual, Bersatu Melampaui Seragam
Maka, ketika pedoman peringatan Hari Sumpah Pemuda mengajak kita untuk menggelar upacara bendera , dialog kebangsaan, festival budaya, hingga kampanye digital , saya tidak menolaknya. Ritual itu penting sebagai pengingat. Tapi saya khawatir, jika kita berhenti hanya di situ, peringatan ini hanya akan menjadi sebuah perayaan kosong, sebuah nostalgia sesaat yang tak mengubah apa pun.
"Pemuda Pemudi Bergerak" seharusnya tidak dimaknai sebatas partisipasi dalam acara seremonial. Pergerakan yang sesungguhnya, pergerakan yang dibutuhkan bangsa ini, adalah pergerakan jiwa. Pergerakan untuk keluar dari penjara-penjara baru yang saya sebutkan tadi.
Bergerak berarti berani berpikir kritis di tengah badai hoaks. Berani mempertanyakan narasi-narasi dominan, berani mencari kebenaran di luar gelembung informasi kita. Bergerak berarti menumbuhkan kembali empati di zaman yang kian individualistis. Berani mendengarkan mereka yang berbeda pendapat, berani merasakan penderitaan mereka yang terpinggirkan, berani mengulurkan tangan melampaui sekat-sekat SARA atau pilihan politik. Bergerak berarti memilih optimisme di tengah keputusasaan. Bukan optimisme naif yang menutup mata pada masalah, tapi optimisme aktif yang percaya bahwa perubahan itu mungkin, sekecil apa pun langkah yang bisa kita ambil.
"Indonesia Bersatu" pun seharusnya tidak dimaknai sebagai keseragaman yang mematikan. Persatuan sejati bukanlah barisan yang rapi dalam upacara, melainkan orkestra yang harmonis dari suara-suara yang beragam. Persatuan itu lahir dari penghargaan tulus terhadap perbedaan, dari kemauan untuk saling belajar, dan dari keyakinan bahwa mozaik keberagaman kita adalah kekuatan, bukan kelemahan. Persatuan macam inilah yang, saya percaya, akan menjadi fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045 yang kita impikan bersama.
Api Sumpah Pemuda di Tangan Generasi Baru
Saya menatap kembali logo peringatan tahun ini. Pusaran sayap garuda itu, bagi saya, adalah simbol energi kinetik yang dahsyat. Tapi energi itu hanya akan bermakna jika ia punya arah yang jelas dan tujuan yang luhur. Cahaya di tengahnya adalah harapan; harapan akan lahirnya kesadaran kolektif baru di kalangan generasi muda.
Sumpah Pemuda bukanlah abu keramat yang harus kita sembah dalam museum. Ia adalah api yang harus terus kita warisi dan nyalakan. Tugas generasi muda hari ini bukanlah sekadar mengulang teks sumpah itu, melainkan menuliskan sumpah mereka sendiri; sumpah untuk bergerak melampaui kebencian, sumpah untuk bersatu dalam kemanusiaan, sumpah untuk menggunakan segala daya kreativitas dan inovasi mereka demi Indonesia yang lebih adil, lebih cerdas, dan lebih beradab.
Ini (tentu) bukan tugas yang ringan. Tapi melihat semangat anak-anak muda yang terus bergerak di berbagai pelosok, yang membangun komunitas, yang menyuarakan kepedulian, yang tak lelah belajar dan berkarya meski seringkali tak dilirik oleh hingar-bingar politik, saya masih menyimpan harapan. Api itu jelas masih ada. Tugas kita bersama adalah menjaganya agar tak padam ditiup angin pesimisme.
Sekali lagi, selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97. Mari bergerak, bukan sekadar dalam seremoni, tapi dalam nurani. Mari bersatu, bukan sekadar dalam slogan, tapi dalam aksi nyata.
Salam Cerdas dan Humanis.

