Konten dari Pengguna
Sarjana di Tepi Jurang: Merebut Kembali Tujuan Pendidikan dari Cengkeraman Mesin
4 November 2025 15:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Sarjana di Tepi Jurang: Merebut Kembali Tujuan Pendidikan dari Cengkeraman Mesin
Sebuah refleksi tentang krisis makna pendidikan tinggi di era AI. Saat mesin menyalin kecerdasan teknis, pendidikan perlu kembali pada inti kemanusiaan: karakter, empati, dan daya cipta.FX Risang Baskara
Tulisan dari FX Risang Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hampir setiap semester, di kelas-kelas yang saya ampu, selalu muncul pertanyaan itu. Kadang ia dilontarkan dengan nada kritis nan skeptis, kadang dengan nada cemas. "Pak," tanya seorang mahasiswa, "kalau saya bisa sukses tanpa ijazah di luar sana, sebenarnya buat apa saya empat tahun di sini?"
Ini adalah kegelisahan klasik. Kegelisahan yang lahir dari melihat seorang sarjana Hubungan Internasional yang sukses menjadi sutradara film, atau lulusan Akuntansi yang justru menjadi musisi ternama. Kegelisahan ini mempertanyakan relevansi antara mata kuliah yang kaku di dalam kelas dan "kenyataan" dunia kerja yang cair dan seringkali tak terduga.
Sebagai dosen teknologi pendidikan, saya sudah terbiasa menjawabnya. Saya akan bicara tentang pentingnya "pola pikir terstruktur" yang dibangun lewat kuliah, atau soal "jaringan" dan "relasi" yang tak ternilai harganya.
Namun, belakangan ini, saya merasa jawaban-jawaban saya mulai terdengar (sangat) hampa.
Kegelisahan mahasiswa saya hari ini bukan lagi kegelisahan klasik itu. Ancaman mereka bukan lagi sekadar "salah jurusan". Ancaman mereka adalah bahwa jurusan apa pun yang mereka ambil, pekerjaan teknis di tingkat pemula (junior) yang mereka incar setelah lulus, sedang dalam proses otomatisasi besar-besaran oleh Generative AI.
Ironi yang Terungkap: Ketika AI "Menelanjangi" Kita
Di tengah kepanikan AI ini (soal plagiarisme dan tipe ujian misalnya), saya justru terpaksa berhenti dan merenung. Apa sebenarnya yang sedang kita coba lindungi? Kita panik karena AI bisa menulis esai, bisa membuat kode program, bisa menjawab soal-soal kita. Ini adalah sebuah kebenaran yang menelanjangi. Sebuah kebenaran pahit bahwa apa yang selama ini kita banggakan dan kita jual ke para orang tua, kini nilainya dipertanyakan.
Kepanikan ini menelanjangi apa yang selama ini kita (universitas) anggap sebagai "hasil" pendidikan. AI telah membuktikan bahwa banyak dari apa yang kita ajarkan di ruang-uang kuliah (hal-hal yang kita ukur dengan IPK dan kita tulis di transkrip) ternyata hanyalah prosedur tingkat tinggi, bukan pemikiran tingkat tinggi. AI bisa menulis esai teoretis yang rapi. AI bisa memecahkan masalah coding yang rumit. AI adalah bentuk mahasiswa "teladan" yang kita impi-impikan: penurut, punya ingatan sempurna, tidak pernah membantah, dan tidak pernah lelah.
Dan justru di sinilah letak ironi terbesarnya. Ketika mesin bisa melakukan semua itu dengan sempurna, apa yang tersisa untuk manusia?
Yang tersisa adalah semua hal yang "berantakan". Semua hal yang tidak bisa diukur dengan angka, yang seringkali kita abaikan dalam silabus dan RPS. Hal-hal seperti keberanian moral untuk berdebat (assertiveness). Mentalitas yang "tahan banting" (tough) saat menghadapi kegagalan proyek yang berantakan. Intuisi yang lahir dari pengalaman personal, bukan dari dataset. Kemampuan membangun komunitas dan berkolaborasi dalam kekacauan tim kerja. Kerendahan hati (low ego) untuk mengakui "saya tidak tahu" dan resiliensi untuk "terbiasa dibilang bodoh" lalu bangkit lagi.
Sekarang, mari kita jujur pada diri sendiri. Assertiveness, resilience, intuition, low ego, mental toughness. Adakah mata kuliah wajib untuk hal-hal tersebut?
Di sinilah (mungkin) letak kesalahan fokus kita. Selama puluhan tahun, universitas menjual dirinya lewat kemegahan program studi: "Terakreditasi Unggul" atau bahkan "Terakreditasi Internasional". Kita menjanjikan mahasiswa kita "siap kerja" dengan keterampilan teknis. Padahal, AI baru saja menunjukkan kepada kita dengan sangat telak bahwa bukan itu intinya. Keterampilan teknis itu hanyalah "kulit" yang bisa ditiru dengan mudah oleh mesin.
Nilai sejati dari kuliah ternyata bukanlah apa yang tertulis di transkrip nilai, melainkan karakter, mentalitas, dan kedewasaan sosial yang terbentuk (atau seharusnya terbentuk) selama empat tahun proses di dalamnya. Kita, sebagai institusi pendidikan, (bisa jadi) telah salah fokus. Kita sibuk menjual "kulit"-nya (jurusan), dan lupa merawat "jantung"-nya (pembentukan manusia).
Kembali ke Khitah: Dari Pabrik Pekerja Menjadi Sanggar Kemanusiaan
Generative AI adalah sebuah berkah terselubung. Ia adalah cermin besar yang memaksa kita untuk jujur dan berhenti membohongi diri sendiri. Jika sebuah mesin bisa meringkas jurnal, menulis esai, dan membuat kode program lebih baik dari mahasiswa kita, itu artinya kita telah gagal. Kita gagal karena kita selama ini hanya melatih mahasiswa kita untuk menjadi "mesin".
Dan kini, mesin yang sesungguhnya telah tiba.
Maka, kita tidak punya pilihan selain berubah. Kita harus berhenti terobsesi menjadi "pabrik tenaga kerja". Kita harus kembali ke khitah universitas seperti yang pernah digagas para pemikir pendidikan: bukan untuk "mencari kerja", tapi untuk "menciptakan lapangan kerja"; bukan untuk menjadi worker, tapi untuk menjadi free spirit.
Sebagai seorang dosen teknologi pendidikan, saya melihat solusinya bukan pada penolakan teknologi yang akan digunakan, tapi pada penggunaan teknologinya yang (lebih) berjiwa.
Kita harus menggunakan AI bukan sebagai mesin penjawab soal ujian, tapi sebagai "teman berdebat" untuk menguji logika dan perspektif. Untuk bisa "bertanya" pada AI, mahasiswa dituntut untuk punya konteks, punya pengetahuan, punya nalar kritis. Di sinilah tugas dan peran dosen berubah: bukan lagi menjadi sumber jawaban, tapi menjadi arsitek pertanyaan dan fasilitator refleksi.
Kita harus merombak total kurikulum kita. Keterampilan teknis yang cepat usang itu, biarkan mereka dipelajari lewat jalur-jalur lincah seperti stackable microcredentials, bootcamp atau magang. Empat tahun yang berharga di kampus harus kita dedikasikan untuk menempa hal-hal yang tidak bisa diotomatisasi: nalar kritis, empati, resiliensi, kreativitas kolaboratif, dan keberanian moral.
"Kenyataan" baru kita adalah di dunia yang dibanjiri jawaban instan, nilai tertinggi justru terletak pada kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat. Dan di dunia yang terancam oleh otomatisasi massal, nilai paling premium dari seorang sarjana bukanlah apa yang ia ketahui, melainkan siapa dirinya sebagai seorang manusia.
Salam Cerdas dan Humanis.

