Konten dari Pengguna

Sekolah di Zaman BANI: Menemukan Kembali Jiwa di Dunia yang Rapuh

FX Risang Baskara
Akademisi yang percaya teknologi harus inklusif. Mengajar di Universitas Sanata Dharma, meneliti tentang teknologi pendidikan. Menulis untuk berbagi, berkarya untuk negeri. Percaya bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya.
19 Oktober 2025 19:00 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sekolah di Zaman BANI: Menemukan Kembali Jiwa di Dunia yang Rapuh
Di tengah dunia yang rapuh dan penuh kecemasan akibat disrupsi AI, tulisan ini mengajak kita menata ulang makna sekolah: dari kuil pengetahuan menjadi jangkar kemanusiaan dan sanggar makna.
FX Risang Baskara
Tulisan dari FX Risang Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pendidikan dan ilmu yang didapat dari membaca. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan dan ilmu yang didapat dari membaca. Foto: Shutterstock
Ada sebuah perasaan ganjil yang belakangan ini sering menghampiri saya ketika memikirkan tentang dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Perasaan ini layaknya berdiri di atas tanah yang bergoncang.
Sang futuris, Jamais Cascio, memberinya nama era BANI; sebuah dunia yang Brittle (Rapuh), Anxious (Cemas), Non-linear (Non-linier), dan Incomprehensible (Sulit Dipahami). Ini adalah versi yang lebih ekstrem dari dunia VUCA yang dulu kita kenal, kini diperparah oleh disrupsi masif dari kecerdasan artifisial generatif.
Segala sesuatu yang dulu kita anggap stabil, sekarang ternyata sangat rapuh. Kepastian tentang masa depan telah hilang, digantikan oleh rasa cemas yang terus-menerus. Logika sebab-akibat yang sederhana tidak lagi berlaku, dan banjir informasi membuat kita kewalahan untuk bisa memahami dunia ini sepenuhnya
Di atas fondasi dunia yang (mulai) retak ini, satu gugatan eksistensial kini menggema: Ketika semua pengetahuan bisa diunduh dari awan digital, apa lagi yang bisa ditawarkan oleh dinding-dinding bata sebuah sekolah?
Ketika AI bisa menjelaskan fisika kuantum lebih baik dari siapa pun, ketika algoritma bisa merancang kurikulum yang dipersonalisasi untuk setiap anak, dan ketika pengetahuan tak lagi bersemayam di perpustakaan melainkan di awan digital, apa lagi yang tersisa dari institusi bernama sekolah? Identitas dan narasi seperti apa yang harus kita tenun, bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk menemukan kembali relevansi sejatinya di masa depan yang kian tak menentu ini?
Runtuhnya Kuil Pengetahuan. Sumber: Ilustrasi generatif DALLΒ·E, OpenAI.

Runtuhnya Kuil Pengetahuan

Selama berabad-abad, kita membangun citra sekolah sebagai sebuah kuil. Kuil tempat pengetahuan yang suci disimpan, dijaga oleh para pendeta (guru), dan diwariskan kepada para peziarah (murid). Identitas ini begitu kuat. Sekolah adalah gedung, adalah kurikulum, adalah sumber kebenaran. Namun, di dunia BANI, kuil ini teramat rapuh. Dindingnya retak oleh disrupsi teknologi. Pengetahuan tak lagi eksklusif; ia meluap-luap di mana-mana, gratis dan pula instan.
Jika sekolah terus berpegang pada identitas lamanya sebagai "penyuplai informasi", maka ia sudah kalah bahkan sebelum perang dimulai. Ia akan menjadi bangunan usang yang ditinggalkan, karena orang-orang telah menemukan sumber air pengetahuan baru yang lebih deras di tempat lain. Kecemasan para pendidik bahwa profesi mereka akan usang adalah gejala dari ketergantungan kita pada identitas yang rapuh ini.
Maka, pertanyaan ini bukanlah tentang "bagaimana sekolah bisa bersaing dengan AI?" bagi saya. Itu pertanyaan yang kurang tepat. Pertanyaan yang lebih akurat adalah: "Apa yang bisa diberikan sekolah, yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh AI?" Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan menjadi fondasi bagi identitas baru pendidikan kita.

Tiga Narasi Baru untuk Sekolah yang Berjiwa

Di dunia yang non-linier dan sulit dipahami, kita tidak lagi butuh peta jalan yang kaku. Kita butuh kompas moral dan keterampilan navigasi. Di sinilah saya percaya, sekolah akan menemukan kembali panggilannya. Bukan sebagai kuil pengetahuan, melainkan sebagai tiga hal lain yang jauh lebih esensial. Inilah narasi-narasi baru yang (mungkin) perlu kita kembangkan.
Pertama, Sekolah sebagai Jangkar Kemanusiaan. Di tengah dunia yang penuh kecemasan dan kerapuhan, sekolah harus menjadi ruang aman; sebuah jangkar yang menjaga kewarasan kita. Ketika dunia di luar sana terasa begitu bising dan mengintimidasi, sekolah adalah tempat di mana setiap anak merasa dilihat, didengar, dan diterima sebagai manusia seutuhnya. Ini adalah manifestasi dari pemikiran Romo Driyarkara tentang Homo Homini Socius, manusia adalah sahabat bagi sesamanya.
AI bisa mempersonalisasi materi, tapi ia tidak bisa memberikan tatapan mata yang tulus, pelukan yang menguatkan, atau komunitas yang mengajarkan kita cara menyelesaikan konflik dan berempati. Di era BANI, fungsi afektif dan sosial sekolah ini bukan lagi sekadar "nilai tambah", melainkan menjadi alasan utama keberadaannya. Sekolah adalah benteng terakhir dari proses humanisasi di tengah dunia yang cenderung mendehumanisasi kita.
Kedua, Sekolah sebagai Laboratorium Navigasi. Jika dunia ini non-linier dan sulit dipahami, maka kurikulum yang linier dan mudah dipahami adalah sebuah penyederhanaan realitas yang berbahaya. Romo Mangun selalu menekankan pendidikan yang memerdekakan dan kontekstual; pendidikan yang tidak mencabut anak dari realitasnya.
Di era BANI, ini berarti sekolah harus berhenti berpura-pura memiliki semua jawaban. Sebaliknya, ia harus mentransformasi dirinya menjadi sebuah laboratorium navigasi. Tempat di mana siswa tidak diberi peta, melainkan diajak untuk merancang kompas mereka sendiri. Mereka belajar bagaimana cara belajar, bagaimana cara membedakan informasi dari disinformasi, bagaimana cara berkolaborasi untuk memecahkan masalah yang bahkan gurunya pun tak tahu jawabannya.
Di laboratorium ini, kegagalan bukanlah aib, melainkan data. Ketidakpastian bukanlah ancaman, melainkan undangan untuk berkreasi. Guru bukanlah seorang maha tahu, melainkan seorang navigator senior yang menemani para navigator muda dalam pelayaran pertama mereka di lautan ketidakpastian.
Ketiga, Sekolah sebagai Sanggar Makna. Inilah narasi pamungkasnya. Ketika AI dan mesin pencari bisa memberikan kita semua jawaban atas pertanyaan "apa" dan "bagaimana", satu-satunya wilayah yang tersisa bagi manusia adalah pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana jika". Di sinilah sekolah menemukan panggilannya yang paling adiluhung.
Ia harus menjadi sebuah sanggar makna. Ruang di mana anak-anak tidak hanya belajar tentang fotosintesis, tetapi juga merenungkan keajaiban kehidupan. Ruang di mana mereka tidak hanya belajar tentang sejarah perang, tetapi juga bergulat dengan pertanyaan tentang sifat manusia, keadilan, dan perdamaian. Ruang di mana mereka tidak hanya belajar coding, tetapi juga berdebat tentang etika dari algoritma yang mereka ciptakan.
Sanggar ini adalah tempat di mana data diolah menjadi informasi, informasi ditenun menjadi pengetahuan, dan pengetahuan disuling menjadi kebijaksanaan. Mesin bisa memberi kita pengetahuan, tapi hanya komunitas manusia yang bisa membimbing kita menuju kebijaksanaan.
Sekolah sebagai Jangkar Kemanusiaan. Sumber: Ilustrasi generatif DALLΒ·E, OpenAI.

Optimisme di Tengah Getaran

Maka, saya tidak (perlu) cemas. Disrupsi teknologi ini, sekeras apa pun gempurannya, tidak akan membunuh sekolah. Ia justru sedang melakukan sebuah proses pemurnian yang menyakitkan. Ia mengikis habis semua peran-peran palsu yang selama ini diemban oleh sekolah; peran sebagai pabrik, sebagai menara gading, sebagai penyedia informasi.
Yang tersisa, setelah semua itu terkikis, adalah inti sari dari pendidikan itu sendiri: sebuah ruang untuk bertumbuh sebagai manusia, di tengah-tengah manusia lainnya.
Sekolah di masa depan mungkin tidak lagi dikenali dari gedungnya, dari kurikulumnya yang seragam, atau dari teknologinya yang canggih. Ia akan dikenali dari kualitas relasi manusianya, dari keberaniannya menghadapi ketidakpastian, dan dari kedalaman makna yang ia tawarkan. Ia akan menjadi jangkar, laboratorium, dan sanggar. Dan dalam menjalankan tiga peran suci itu, ia akan tetap relevan, bahkan mungkin lebih relevan dari sebelumnya.
Salam Cerdas dan Humanis.
Trending Now