Konten dari Pengguna
Bagaimana Kalau Cita Cita Itu Tercapai? Sebangga Apa Aku Melihat Diriku Berhasil
14 Desember 2025 4:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Bagaimana Kalau Cita Cita Itu Tercapai? Sebangga Apa Aku Melihat Diriku Berhasil
Ketika cita-cita tercapai, kebanggaan terbesar bukan datang dari pencapaian itu sendiri, melainkan dari pengakuan pada diri yang telah bertahan melewati segala keraguan, rasa takut.Rizki Aulia
Tulisan dari Rizki Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada masa ketika mimpi terasa seperti sesuatu yang jauh sekali seperti langit malam yang hanya bisa ditatap, bukan digapai. Ada waktu ketika aku bertanya-tanya: apakah semua usaha ini akan mengantarku ke tempat yang kubayangkan? Atau aku akan terus terperangkap dalam ketakutan itu? takut gagal, takut tidak berguna, takut tidak jadi apa-apa.
Namun, bagaimana jika akhirnya cita-cita itu benar-benar tercapai? Bagaimana rasanya berdiri di puncak yang dulu hanya berani kupikirkan dalam diam?
Jika suatu hari impianku tercapai, mungkin momen paling menggetarkan bukanlah tepuk tangan, gelar, atau jabatan. Bukan pengakuan dari luar. Tapi saat aku menoleh ke belakang dan melihat betapa jauhnya jalan yang telah kulalui penuh luka, air mata, dan ragu dan menyadari bahwa aku bisa melewatinya.
Aku akan bangga bukan karena hasilnya gemilang, tapi karena aku bertahan di hari-hari ketika menyerah terasa jauh lebih menggoda.
Kita sering meremehkan masa lalu kita sendiri versi diri yang penuh keraguan, ketakutan, dan kegamangan. Padahal, justru dialah yang memulai semua ini, meski dengan langkah gemetar dan keyakinan yang masih goyah.
Jika hari itu tiba, aku ingin memeluk diriku yang dulu dan berbisik:
“Terima kasih sudah tetap melangkah, meski kamu tidak tahu apakah semua ini akan berarti.”
Di situlah letak kebanggaan terdalamku: bukan karena aku hebat, tapi karena aku tidak berhenti, bahkan saat satu-satunya penonton adalah bayanganku sendiri.
Kita sering mengira pencapaian besar akan mengubah kita menjadi sosok baru. Padahal, yang membentuk kita adalah perjalanannya, langkah-langkah kecil yang konsisten, kegagalan yang diam-diam kita telan, doa yang tak putus, dan keberanian yang dipaksakan setiap hari.
Aku tahu, jika mimpi itu tercapai, itu bukan keajaiban. Itu adalah akumulasi dari semua malam yang panjang, dari semua percobaan yang gagal, dari semua kata “tidak” yang justru membuatku mencari “ya” yang lain.
Pada akhirnya aku paham, rasa bangga yang paling jujur tidak lahir dari pujian, pengakuan, atau gelar. Ia muncul dari pengakuan terdalam pada diri sendiri bahwa aku berhasil melewati hal-hal yang dulu kupikir akan menghancurkanku.
Jika suatu hari aku berdiri di titik yang kuidamkan, aku akan tersenyum dan berkata dalam hati:
“Aku sampai di sini bukan karena dunia percaya padaku, tapi karena aku tidak berhenti percaya pada diriku sendiri—even when no one else did.”
Jika Hari Itu Tiba, aku pasti akan bangga. Bagaimana mereka tersenyum pada ku nanti, memeluu aku begitu erat. Dengan mulut mereka yang tak henti mengucapkan rasa bangga kepada ku.
Bukan karena aku menjadi “orang besar”, tetapi karena aku tidak hilang dalam perjalanan panjang menuju impian itu.
Dan untuk pertama kalinya, mungkin aku bisa berkata dengan yakin dan tenang:
“Aku layak. Aku mampu. Aku pantas ada di sini.”
Karena di balik semua pencapaian, yang paling berharga adalah diri yang tetap utuh yang bertahan, yang belajar, yang tumbuh. Dan itulah kebanggaan sejati, bangga pada proses menjadi.

