Konten dari Pengguna
Banyak Anak Banyak Rezeki, Tapi Kok Udah Banyak Anak Malah Tambah Miskin?
9 Desember 2025 15:03 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Banyak Anak Banyak Rezeki, Tapi Kok Udah Banyak Anak Malah Tambah Miskin?
Banyak Anak Banyak Rezeki" – pepatah lama yang masih dipercaya, tapi data dan realita menunjukkan sebaliknya. Di era ekonomi modern, keluarga dengan banyak anak justru lebih rentan miskin. Rizki Aulia
Tulisan dari Rizki Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak daerah Indonesia, pepatah “banyak anak banyak rezeki” masih dianggap sebagai kebenaran mutlak. Seolah-olah semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, semakin besar pula peluang rezeki datang menghampiri.
Pepatah itu diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menjadi bagian dari budaya, keyakinan, bahkan keputusan hidup sebagian orang.
Namun ketika melihat realitas hari ini biaya pendidikan yang mahal, harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, dan lapangan kerja yang tidak bertambah sebanding muncul pertanyaan kritis.
Jika banyak anak berarti banyak rezeki, mengapa keluarga dengan banyak anak justru paling rentan miskin?
Pada zaman dulu masa ekonomi Indonesia masih berbasis pertanian dan perkebunan, banyak anak memang bisa dianggap rezeki, karena:
- makin banyak tenaga untuk bertani,
- makin besar bantuan di pekerjaan rumah,
- dan makin besar kontribusi untuk ekonomi keluarga.
- Anak dulu dipandang sebagai aset ekonomi.
Karena mereka semakin percaya semakin banyak anak, semakin besar “modal tenaga” bagi keluarga.
Namun kini struktur ekonomi berubah total.
Kesuksesan seseorang tidak lagi ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh:
- pendidikan,
- keterampilan,
- koneksi,
- kreativitas,
- serta daya pikir yang maju.
jadi tidak adalagi pemikiran tentang anak tidak lagi menghasilkan uang justru anak adalah investasi besar.
Anak bukan lagi mesin untuk menghasilkan rezeki, seperti pemikiran orng zaman terdahulu. Di era modern, pandangan bahwa anak adalah alat pembawa rezeki sudah tidak sejalan dengan kenyataan. Anak bukan sumber pemasukan, melainkan pihak yang harus dibesarkan dan dipenuhi kebutuhannya baik fisik, emosional, maupun finansial.
Anak kelak boleh membanggakan orang tua, bahkan membantu mereka tetapi itu bonus, bukan kewajiban.
Dalam kondisi rata-rata pendapatan keluarga Indonesia yang masih rendah, memiliki banyak anak sering memicu lingkaran masalah seperti:
1. Pengeluaran meningkat jauh lebih besar dari penghasilan
2. Pendidikan anak menjadi seadanya atau terabaikan
3. Skill rendah → sulit mendapat pekerjaan layak
4. Pendapatan tetap rendah → kemiskinan turun ke generasi berikutnya
Akhirnya pepatah lama ini tidak lagi relevan justru menjadi jebakan ekonomi struktural. Di banyak kasus, keluarga besar bukan memunculkan “banyak rezeki”, tetapi banyak tanggungan tanpa persiapan finansial.
Sulit dibantah bahwa pepatah “banyak anak banyak rezeki” pernah relevan pada masanya. Tetapi di era sekarang, pepatah itu tidak lagi membawa kemakmuran bahkan sering membawa keluarga pada jurang kemiskinan jika tidak dibarengi perencanaan.
Anak bukan aset keuangan, bukan mesin pencetak rezeki. Bukan juga jaminan orang tua menjadi kaya.
Bila orang tua ingin kaya, maka caranya bukan dengan menambah jumlah anak melainkan dengan bekerja, berusaha, berinvestasi, dan merencanakan masa depan keluarga secara bijak.
Pada akhirnya, pertanyaan sesungguhnya bukanlah:
“Berapa banyak anak yang kita punya?”
Tetapi:
“Seberapa siap kita memastikan setiap anak yang lahir tumbuh dengan bahagia, sehat, dan berpendidikan?”

