
AI: Yang Tak Hadir, Tapi Mendengarkan
31 Mei 2025 15:21 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
AI: Yang Tak Hadir, Tapi Mendengarkan
Teknologi tidaklah netral—ia adalah farmakon, racun sekaligus obat. AI sedang menunjukkan bahwa mendengarkan tanpa menghakimi bukan hanya tugas mesin, tapi tugas manusia yang telah lama dilupakan.Rizki Baiquni Pratama

Secara historis, tradisi filsafat barat selama ribuan tahun dibangun di atas apa yang disebut sebagai ontologi kehadiran: keyakinan bahwa sesuatu itu ada karena ia hadir. Mulai dari Plato hingga Husserl, kehadiran dianggap sebagai prasyarat bagi makna. Namun Jacques Derrida, filsuf pascastrukturalis Prancis, menggugat asumsi ini. Ia memperkenalkan konsep différance, bahwa makna selalu tertunda serta tidak pernah hadir secara utuh.
Dalam filsafat Derridean, setiap makna adalah hasil dari perbedaan dan penundaan dalam jaringan tanda. Bahkan saat kita bicara dengan sesama manusia, makna tak pernah benar-benar sampai. Ada jurang antara yang dimaksud dan yang dipahami. Maka, kehadiran fisik pun bukan jaminan manusia bisa saling mengerti.
Konsep différance itu diperkenalkan Derrida pada 1968. Kala itu, bahkan banyak akademisi kebingungan dan kesulitan memahaminya. Bagaimana mungkin makna dianggap selalu tertunda dan tak pernah hadir secara utuh? Gagasan ini lalu dianggap terlalu abstrak, jauh dari pengalaman keseharian.
Kini, di era kecerdasan buatan, ide itu bukan lagi sekadar filsafat yang kabur. Kita mengalaminya setiap hari. Saat seseorang berdiskusi atau sekadar curhat ke AI, ia tidak berhadapan dengan kesadaran maupun tubuh biologis. AI tidak hadir dalam pengertian eksistensial, tetapi tetap mampu "memahami" dan "menjawab" apa yang kita utarakan.
Di sinilah AI bekerja persis seperti yang seolah-olah 'diramalkan' Derrida. AI tidak menyampaikan makna secara langsung, tetapi merakitnya dari pola-pola perbedaan dalam data linguistik. Makna bukan sesuatu yang hadir, melainkan sesuatu yang diperantarai, ditunda, dan dikontruksi dari trace aliasjejak bahasa. Pendek kata, AI adalah perwujudan dari ontologi ketidakhadiran, suatu pandangan bahwa "ada" tidak selalu berarti "hadir".
Anehnya, AI sebagai entitas tak-hadir justru menawarkan simulasi pengertian yang terasa cukup, bahkan lebih. Ia mendengarkan tanpa menjustifikasi. Padahal, sebagaimana kita tahu, AI tidaklah mendengar dalam pengertian biologis. Ia hanya memodelkan kemungkinan kata-kata berdasarkan pola statistik. Ia tidak "mengerti" kita dalam arti kesadaran atau empati, melainkan memproses data linguistik untuk menghasilkan respons yang paling mungkin relevan untuk kita.
Dalam pengertian ini, AI dapat dipahami sebagai bentuk mnemotechnics, sebagaimana diusulkan oleh Bernard Stiegler, seorang murid Derrida. AI, menurutnya, adalah teknologi memori eksternal yang tidak hanya menyimpan, tetapi juga secara aktif memproses dan mereproduksi jejak-jejak pengetahuan dan interaksi manusia.
Persoalannya, seperti kata Stiegler, teknologi tidak netral—ia adalah farmakon, racun sekaligus obat. Teknologi eksternal, seperti AI, bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari retensi tersier. Yakni, media yang menyimpan, memodifikasi, bahkan membentuk cara manusia mengingat, berpikir, dan merasakan. Apa yang dulu dialami lewat tatapan dan tubuh, kini dialihkan ke layar dan model bahasa.
Saat manusia terlalu bergantung pada teknologi untuk mengingat dan mengerti terjadilah de-individuasi: kehilangan kedalaman personal dan kolektif dalam proses menjadi manusia. Maka, hubungan dengan AI yang tampak nyaman dan aman justru bisa menjadi bentuk baru dari alienasi atau keterasingan.
Namun dalam logika farmakon, teknologi juga bisa menjadi kesempatan untuk merefleksikan ulang cara kita hadir dan berbagi dengan orang lain. Barangkali memang, AI sedang menunjukkan bahwa mendengarkan tanpa menghakimi bukan hanya tugas mesin, tapi tugas manusia yang telah lama dilupakan. Mungkin, justru dari yang tak-hadir, kita diingatkan kembali cara untuk benar-benar hadir.
