Konten dari Pengguna
Menuju Langit, Menembus Awan di Citorek
17 Mei 2025 23:24 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Menuju Langit, Menembus Awan di Citorek
Di tikungan terakhir, matahari akhirnya muncul malu-malu dari balik awan. Cahayanya menembus sela-sela pepohonan dan membentuk siluet indah di balik kabut. Inilah Citorek "Negeri di Atas Awan".Rizki Baiquni Pratama
Tulisan dari Rizki Baiquni Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jumat, 16 Mei 2025, pukul 02.30 dini hari, kami meninggalkan Kota Depok yang masih setengah tertidur. Dari atas sepeda motor masing-masing, saya, Muhammad Lutfan Darmawan, Gitario Vista Inavis, dan Dimas Bondan melaju dalam barisan. Tujuan kami satu: mengejar matahari terbit di Citorek, "Negeri di Atas Awan" yang selama ini hanya kami dengar dari cerita orang.
Awalnya kami mau berangkat bertiga. Tapi katanya, jumlah ganjil seringkali membawa sial. Bukan karena percaya takhayul, hanya saja, empat memang terasa jauh lebih baik. Lagipula, dalam perjalanan malam, satu teman tambahan jadi nilai plus. Maka, Bondan ikut serta di detik-detik terakhir.
Kecuali Bondan, kami bertiga adalah rekan satu kantor di kumparan.com. Sementara Bondan adalah temannya Gitario. Dia tinggal di Ciputat, sementara Gitario di Bekasi, dan saya maupun Lutfan sama-sama tinggal di Depok. Dari semua kemungkinan, Bojongsari menjadi titik temu paling masuk akal untuk memulai perjalanan.
Rute yang kami tempuh: Bojongsari–IPB Dramaga–Leuwiliang–Jasinga–Cipanas Lebak. Menurut Google Maps, butuh 100 kilometer untuk menuju Citorek.
Posisinya begini: Gitario membuka jalan, saya berada di tengah, Lutfan menyusul, dan Bondan menutup barisan dari belakang. Meski jadi tambahan di menit terakhir, Bondan justru memegang peran penting yaitu navigator. Dia rutin memantau peta lewat GPS di ponselnya dan memberi arahan lewat intercom yang terhubung ke helm Gitario.
Semakin jauh dari kota, jalanan makin sunyi. Di Jasinga, kondisinya lebih parah—lampu jalan di beberapa kilometer tak menyala sama sekali. Dari langit, barangkali kami tampak seperti empat titik kecil yang merayap dalam kegelapan. Bayangan tentang bahaya, tentang hal-hal tak terduga, sesekali menyelinap dalam pikiran. Namun, tekad untuk menyaksikan matahari terbit jauh lebih besar.
Lima menit sebelum azan subuh berkumandang, kami tiba di Cipanas, Lebak. Kami berhenti sejenak di Masjid Jami At-Taqwa untuk menunaikan salat. Di masjid itulah, indikator bensin di sepeda motor Lutfan tinggal satu bar. Di antara kami berempat, hanya dia yang beda merek, dan karena itu pula motornya yang paling boros bahan bakar.
Pukul 05.58 kami akhirnya tiba di Citorek. Sebuah gapura sederhana bertuliskan “Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek” menyambut kami. Dari titik itu, jarak pandang mulai menurun drastis. Kabut begitu tebal, mengembun di kaca helm dan jaket kami. Udara dingin meresap pelan-pelan. Sementara sawah-sawah yang terhampar di kanan dan kiri terlihat samar.
Di tikungan terakhir, matahari akhirnya muncul malu-malu dari balik awan. Cahayanya menembus sela-sela pepohonan dan membentuk siluet indah di balik kabut. Tempat ini berada di ketinggian 901 mdpl.
Kami pun berhenti. Tak ada kata-kata, hanya pandangan yang terarah pada satu hal: keindahan ciptaan Tuhan. Momen-momen ini pun kami abadikan dalam bidikan kamera, tapi yang tertinggal justru lebih banyak kenangan di dalam kepala.
Kami memang datang untuk mengejar matahari terbit. Tapi yang kami temukan justru lebih dari itu: bahwa proses adalah hal yang lebih penting. Bahwa hidup juga tak melulu harus dikejar—kadang cukup dinikmati saja selagi ada.
Setelah puas menikmati pemandangan dan mengabadikan momen, kami beranjak ke warung-warung kecil yang berjajar tak jauh dari lokasi. Kopi panas dan semangkuk mi rebus menjadi teman kami pagi itu. Tak ada yang buru-buru pulang. Juga tak ada obrolan yang penting-penting amat.
Di tengah udara yang sejuk, kebersamaan jadi terasa cukup. Cukup empat orang untuk berkomitmen bangun lebih awal, menembus gelap, dan tiba di tempat yang membuat segalanya terasa sepadan.
Terima kasih dan sampai jumpa lagi, Citorek!

