Konten dari Pengguna
Sejarah Ponorogo: Menelusuri Jejak Islamisasi Mirah dan Santren
25 November 2025 18:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Ponorogo: Menelusuri Jejak Islamisasi Mirah dan Santren
Perjalanan seorang perantau menelusuri jejak Islamisasi Dukuh Mirah dan Santren di Ponorogo hingga mengantarkannya pada panggung kemenangan yang tak terduga.Rizky Mutiara Sani
Tulisan dari Rizky Mutiara Sani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu Sabtu (27/5/23) sebuah notifikasi muncul di layar gawaiku, membuka kembali rasa rindu pada kampung halaman dan cerita lama tentang sejarah Ponorogo. Nama Mirah dan Santren muncul di ingatan, dua wilayah yang sejak kecil kukenal sebagai bagian penting dari budaya Ponorogo dan jalur awal Islamisasi Ponorogo. Saat membaca pengumuman Lomba Penulisan Konten Lokal aku merasa seolah ada panggilan halus yang mengajak pulang untuk menelusuri lagi jejak-jejak yang selama ini hanya menjadi bayangan samar di ingatan.
Bagi sebagian orang ini mungkin lomba biasa. Namun bagiku yang sedang hidup jauh di tanah perantauan, notifikasi itu terasa seperti panggilan pulang.
Tanpa banyak pertimbangan aku langsung mendaftarkan diri. Ada perasaan ragu dan cemas yang saling bertabrakan, tetapi niat untuk kembali mengenali tanah kelahiran terasa lebih kuat. Sejak saat itu perjalanan ini dimulai, perjalanan yang perlahan mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata tetapi juga merawat jejak masa lalu.
Beberapa hari kemudian, seorang teman mempertemukanku dengan seorang budayawan Ponorogo. Pertemuan singkat itu menjadi titik balik. Ia membuka pintu menuju cerita-cerita yang selama ini hanya kukenal sebagai dongeng masa kecil. Dari sana muncul gagasan untuk menulis tentang proses Islamisasi di wilayah Mirah dan Santren, dua dukuh yang namanya akrab bergaung di telingaku sejak kecil, tetapi belum kudalami kisahnya.
Kesempatan itu membawaku bertemu dengan orang-orang yang menjaga denyut budaya Wengker tetap berdetak. Ada seniman reyog, juru kunci situs bersejarah, hingga tetua desa yang menyimpan kisah panjang tentang tanah kelahiranku. Aku mengetuk pintu demi pintu, membawa catatan kecil, dan rasa penasaran yang terus tumbuh.
Di antara banyak cerita yang kudengar, ada satu tokoh yang mencuri perhatian, yaitu Ki Ageng Mirah. Ia dipercaya sebagai utusan Raden Patah dari Demak Bintoro yang menyebarkan Islam di wilayah bernama Mirah yang saat itu masih memegang ajaran Hindu Buddha. Pendekatannya tidak keras. Ia berdialog menyesuaikan dan berbaur dengan budaya setempat sehingga lahirlah corak "Islam abangan" yang berpadu dengan nilai kejawen.
Berbeda dengan Mirah, Dukuh Santren yang secara geografis berseberangan wilayah dengan Dukuh Mirah memiliki kisah yang lain. Dari wawancara, aku mengetahui bahwa Islam diyakini masuk melalui Pangeran Diponegoro pada masa pelariannya. Tidak heran masyarakatnya memiliki karakter spiritual yang lebih kuat dan menjauh dari unsur budaya lokal. Perbedaan dua dukuh itu membuatku melihat bahwa sejarah selalu memiliki banyak lapis.
Semua kisah itu membawaku merenung. Rasanya seperti memunguti serpihan-serpihan kecil yang hampir terlupakan. Tanpa disadari semangat para tokoh itu menguatkan langkahku yang juga sedang berjuang di medan perangku sendiri, yaitu medan penulisan.
Hingga Sabtu (17/6/23) sebuah notifikasi kembali hadir. Namaku masuk dalam 10 besar finalis yang berhak maju ke tahap presentasi. Aku terkejut, namun tetap melangkah. Dengan doa ibu yang selalu kupercaya sebagai kekuatan, aku berangkat ke Gedung Bappeda Litbang Ponorogo (20/6/23).
Di ruang presentasi para finalis menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Aku menyaksikan betapa besar cinta mereka terhadap budaya daerah. Di tengah suasana itu aku kembali tersadar bahwa Ponorogo menyimpan lautan sejarah yang luas dan tak pernah kering, menunggu generasi muda untuk menyelaminya.
Saat pengumuman tiba, aku sudah siap menerima apa pun hasilnya. Namun, hidup sering memberi kejutan di saat yang tidak kita duga.
βJuara 2-Rizky Mutiara Saniβ
Seruan itu menggema di ruangan. Untuk sesaat aku terpaku. Perjalanan kecil ini justru menghadiahkan kemenangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Hadiah itu tentu istimewa, tetapi ada hal lain yang lebih penting.
Aku pulang dengan kesadaran baru bahwa sejarah dan budaya daerah selalu menunggu untuk dituliskan kembali agar tidak hilang ditelan waktu.

