Konten dari Pengguna
Seni Melepaskan "Wishlist" yang Tak Pernah Usai
30 September 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Seni Melepaskan "Wishlist" yang Tak Pernah Usai
Wishlist tak pernah habis, keinginan tak pernah puas. Kita berlari, tapi napas kian pendek. Cobalah berhenti sejenak, lepaskan satu keinginan. Rasakan dada lapang: di situlah bahagia bersemayam. Rohmah Elfrida
Tulisan dari Rohmah Elfrida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Percaya atau tidak, pertempuran manusia di zaman digital ini bukan lagi pada belenggu rantai baja, melainkan pada rantai algoritma yang halus sekaligus mematikan. Algoritma tahu persis apa yang kita inginkan, bahkan sebelum kita menyadarinya, lalu menyajikannya sebagai “mantra” yang tampak meyakinkan: sebuah tas yang menggoda gengsi, sepasang sepatu yang menjanjikan status, atau gawai yang diklaim bisa menyelesaikan semua masalah.
Kita pun berlari mengejar ilusi, percaya bahwa setiap klik “beli” adalah langkah menuju kebahagiaan. Padahal, kita sering hanya membeli beban baru yang membuat ruang di hati semakin sempit dan napas semakin pendek. Tanpa sadar, wishlist makin panjang, sementara kebahagiaan justru semakin jauh.
Latihan Sederhana: Catat, lalu Hapus
Cobalah eksperimen kecil. Tulis satu barang yang paling sering hadir dalam pikiranmu dalam 24 jam terakhir. Rasakan bagaimana imajinasi tentang barang itu mendorongmu untuk segera memiliki. Lalu, dengan sengaja, hapus namanya dari daftar keinginanmu.
Berhentilah sejenak. Perhatikan tubuhmu. Napas terasa lebih panjang, dada lebih lapang. Ada ruang tenang yang perlahan tumbuh di dalam. Itu tanda: jiwa sedang belajar melepaskan rantai halus bernama keinginan.
Keinginan Manusia yang Tak Pernah Usai
Namun, wishlist kita sejatinya tidak berhenti pada barang belanjaan. Manusia selalu haus akan hal-hal lain: ingin dipuji, ingin diakui, ingin terlihat berhasil, ingin selalu lebih dari orang lain. Begitu satu keinginan terpenuhi, muncul lagi keinginan baru.
Hidup pun menyerupai perjalanan di gurun. Satu teguk air hanya memadamkan dahaga sesaat, lalu rasa haus kembali datang. Hasrat manusia tak ubahnya ombak di lautan: pecah di pantai lalu bergulung kembali, tak pernah selesai. Kita mengejar bayangan kebahagiaan, namun setiap kali diraih, ia menjauh.
Namun sesungguhnya, Al-Quran sudah lebih dulu mengingatkan: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (QS. At-Takatsur [102]: 1–2). Ayat ini mengajarkan bahwa perlombaan dalam menambah dan menumpuk—baik harta maupun prestise—hanya akan berakhir pada kehampaan.
Filosofi Cukup
Sejak lama, para filsuf dan pemikir spiritual mengingatkan bahwa bahagia bukanlah tentang memiliki sebanyak mungkin.
Rasulullah SAW bersabda:
Pesan ini meneguhkan bahwa bahagia sejati bukan soal menambah, melainkan berani merasa cukup.
Sementara itu, Epictetus, filsuf Stoik, juga berujar:
Kebijaksanaan terletak pada syukur, bukan pada dahaga tanpa ujung.
Melepaskan bukan berarti kehilangan, melainkan menemukan—menemukan ruang batin yang lebih luas, menemukan rasa cukup yang menenangkan.
Bahagia Itu Bukan Menambah, Tapi Mengurangi
Menghapus wishlist hanyalah simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar: latihan melepaskan hasrat yang tak pernah usai. Bahagia sejatinya bukan penambahan, melainkan pengurangan. Bukan tentang apa yang masuk ke genggaman, melainkan apa yang rela kita lepaskan.
Bahagia, seperti langit setelah hujan, menjadi jernih bukan karena penuh, melainkan karena berani mengosongkan.
Dan pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah tujuan jauh di depan. Ia hadir di sini, setiap kali kita menghela napas lega, merasa ringan, dan berbisik: aku cukup, dan itu sudah lebih dari bahagia.

