Konten dari Pengguna
Fasisme Israel, Dari Kolonialisme Zionis ke Teror Negara Kahanis
4 Oktober 2025 12:08 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Fasisme Israel, Dari Kolonialisme Zionis ke Teror Negara Kahanis
Kahanisme adalah logika Zionisme tanpa eufemisme, fasisme sebagai kebenaran telanjang dari kolonialisme pemukim ketika metode "beradab" gagal menghancurkan perlawanan rakyat Palestina.Rolip Saptamaji
Tulisan dari Rolip Saptamaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 1971, Rabbi Meir Kahane mendirikan gerakan Kach pada 1971, mengadvokasi secara terbuka apa yang disembunyikan Zionisme mainstream yaitu pemindahan paksa (pembersihan etnis) seluruh populasi Palestina, penerapan hukum Halakha sebagai hukum negara Israel, dan supremasi Yahudi yang eksplisit tanpa kedok demokrasi liberal. Pemahaman Kahane dan gerakan Kach ini kemudian berevolusi menjadi Kahanisme yang menginspirasi banyak tokoh kolonialis Israel seperti Itamar Ben Gvir dan Daniella Weiss. Namun, dalam perspektif politik progresif ketika struktur penindasan kolonial negara menghadapi perlawanan penduduk asli yang gigih, Israel cenderung bergerak menuju solusi eliminasionis, dan inilah yang diwakili Kahanisme sebagai bentuk fasisme Yahudi kontemporer.

Kahanisme sebagai Bentuk Fasisme Yahudi Kontemporer
Meskipun begitu, Kahanisme tidak muncul dari kekosongan melainkan kondisi material yang spesifik yang diawali oleh kecemasan demografis pemukim. Populasi Palestina yang terus bertahan dan berkembang mengancam karakter "Yahudi" dari negara pemukim. Kahane mengutarakan ketakutan ini tanpa eufemisme "Mereka atau kami." Kemudian dengan munculnya basis kelas menengah yang termarjinalkan di Israel. Seperti fasisme klasik Eropa, Kahanisme menarik Yahudi Mizrahi (dari negara Arab) yang mengalami diskriminasi dalam struktur kelas Israel yang didominasi Ashkenazi. Kemarahan kelas menengah ini tidak diarahkan melawan kapitalisme Israel atau rasisme internal, malah berhasil dialihkan menjadi kebencian ke Palestina sebagai musuh eksternal yang lebih mudah diidentifikasi.
Selain itu, logika inheren pasca okupasi atau kolonisasi 1967. Penguasaan permanen atas jutaan Palestina di Tepi Barat dan Gaza memerlukan aparatus represif yang semakin brutal. Permukiman ilegal Yahudi di wilayah Palestina kemudian menciptakan fakta di lapangan yang menuntut kontrol militer kejam namun memerlukan perlindungan psikologis agar para aparat tidak merasa bersalah dan ini lahan subur bagi ideologi Kahanis yang menggunakan basis agama sebagai doktrin pembenarannya.
Itamar Ben-Gvir: Wajah Kahanisme dalam Kekuasaan
Itamar Ben-Gvir merepresentasikan normalisasi fasisme dalam politik Israel. Mantan aktivis Kach yang pernah dihukum karena hasutan rasial dan dukungan organisasi teroris, kini menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional Israel. Sebuah posisi strategis yang mengendalikan polisi dan kebijakan keamanan internal.
Perjalanan Ben-Gvir dari pinggiran ekstremis ke pusat kekuasaan mengungkapkan bagaiman gerakan kanan ekstremis Israel yang secara sistematis menguat. Gerakan yang sebelumnya dianggap tabu pada 1990-an (partai Kach dilarang sebagai organisasi teroris) kini duduk di kabinet. Bahkan Ben-Gvir secara terbuka merayakan Baruch Goldstein, teroris Kahanis yang membantai 29 Muslim di Masjid Ibrahimi 1994.
Kemudian, dari sekian banyak pernyataan kontroversialnya, beberapa program yang dikampanyekannya menjadi akar permasalahan yang memperkeruh upaya rekonsiliasi dan mengungkap karakter fasistik proyek Kahanis secara telanjang seperti deportasi massal warga Palestina Israel yang dianggap "tidak loyal" berdasarkan kriteria arbitrer seperti menolak menyanyikan lagu kebangsaan atau mengkritik kebijakan negara. Tindakan ini menjadi sebuah bentuk pembersihan etnis yang dilegitimasi hukum yang mengingatkan pada undang-undang kewarganegaraan Nazi.
lalu ekspansi permukiman ilegal tanpa batas di Tepi Barat yang disertai penyitaan tanah Palestina dan penghancuran infrastruktur sipil, menciptakan fakta kolonial di lapangan yang membuat solusi dua negara mustahil secara geografis. Tidak berhenti disitu, Ben Gvir juga mendorong penerapan hukuman mati untuk "teroris" yang secara eksklusif ditujukan pada Palestina (tidak ada pemukim Yahudi yang membunuh Palestina pernah dieksekusi) sehingga mengungkap sistem peradilan ganda berbasis etnis. Selain itu, penghancuran rumah keluarga tahanan Palestina tanpa proses hukum yang adil sebagai bentuk hukuman kolektif yang dilarang Konvensi Jenewa, menciptakan ribuan pengungsi baru dan melanggengkan siklus kekerasan dan yang lebih menakutkan adalah legalisasi penggunaan senjata api oleh pemukim sipil terhadap warga Palestina yang secara de facto menciptakan milisi fasis yang beroperasi dengan impunitas negara, mengubah setiap pemukim menjadi agen teror potensial yang dilindungi aparatus keamanan Israel.
Kontinuitas Kolonial Dari Zionism Buruh ke Kahanism
Evolusi Zionisme menjadi fasisme dalam kerangka Kahanisme bukanlah lompatan ideologis melainkan sebuah eskalasi yang tidak dapat dihindari dari logika kolonial yang sama. Zionisme Buruh (1920-1977) membangun infrastruktur kolonial melalui pengecualian sistematis buruh Arab dan perampasan tanah yang disembunyikan dalam retorika sosialisme internasionalis, "tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah" adalah kebohongan yang menutupi pembersihan etnis Nakba 1948, sementara Histadrut (serikat buruh) berfungsi sebagai alat segregasi ekonomi dengan slogan "Avoda Ivrit" (kerja Yahudi) yang melarang mempekerjakan Arab.
Zionisme Revisionis (Jabotinsky hingga Likud) melepaskan pretense sosialis dan mengakui secara terbuka kebutuhan "tembok besi" dominasi militer permanen atas Palestina, tetapi masih membingkai program kolonial dalam bahasa defensif "keamanan" dan "hak untuk eksis", menyembunyikan ekspansionisme teritorial di balik retorika pertahanan diri yang membalikkan relasi kekuatan material antara negara pemukim bersenjata nuklir dengan populasi asli Palestina yang diduduki. Kemudian, Kahanisme melepas semua kedok liberal-demokratis ini, menuntut apartheid yang dikodifikasi secara eksplisit dalam undang-undang, penghapusan populasi melalui transfer paksa, dan supremasi Yahudi yang dijustifikasi secara teologis. Inilah logika Zionisme tanpa eufemisme, fasisme sebagai kebenaran telanjang dari kolonialisme pemukim ketika metode "beradab" gagal menghancurkan perlawanan rakyat Palestina.
Fasisme sebagai Tahap Akhir Kolonialisme Israel
Ketika negara pemukim tidak bisa mengalahkan perlawanan rakyat Palestina dan tidak mau melakukan dekolonisasi, ia bergerak ke fasisme. Kahanisme adalah jawaban ketika metode "beradab" kolonialisme gagal dengan genosida sebagai solusi akhir untuk "masalah demografis." Ben-Gvir dalam kekuasaan membuktikan bahwa Fasisme Kahanis bukan isapan jempol. Ia adalah wajah asli dari proyek Zionis, yang dibersihkan dari retorika liberal tentang "satu-satunya demokrasi di Timur Tengah."
Menghadapi Kahanisme yang mendorong evolusi Fasisme di Israel memerlukan lebih dari sekedar mengutuk ekstremisme. Perlawanan ini menuntut pembongkaran seluruh struktur kolonial Zionis. Maka pada dasarnya, solidaritas terhadap perlawanan Palestina adalah Gerakan anti-fasisme dalam praktik bukan lagi teori.

