Konten dari Pengguna

Lompat Gedung, Bukan Solusi Permasalahan Hidup!

Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Universitas Andalas dan Peneliti Kajian Gender dan Feminisme
12 Oktober 2023 6:30 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Lompat Gedung, Bukan Solusi Permasalahan Hidup!
Bunuh diri menjadi sebuah isu menarik setelah 2 kasus viral loncatnya bocah SD dan mahasiswa dari gedung berlantai tinggi. Bunuh diri dapat disebabkan berbagai faktor yang dapat dicegah.
Roma Kyo Kae Saniro
Tulisan dari Roma Kyo Kae Saniro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Seseorang yang Depresi dengan Permasalahan Hidup. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/middleaged-woman-hugging-pillow-while-one-2320528475
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seseorang yang Depresi dengan Permasalahan Hidup. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/middleaged-woman-hugging-pillow-while-one-2320528475
Beberapa waktu terakhir, kabar Indonesia diwarnai dengan adanya bunuh diri yang dilakukan dengan melompat sebuah gedung bertingkat. Hal ini dilakukan oleh bocah di sekolah dasar. Padahal, jika melihat dari segi usia, korban masih sangat kecil untuk mengambil keputusan tersebut. Selain itu, adanya kasus yang terjadi belakangan ini adalah terkait dengan mahasiswa Unnes yang ditemukan tewas bunuh diri di lantai 4 Mall Paragon Semarang. Korban berhasil diidentifikasi berinisial NJW yang berusia 20 tahun. Korban merupakan warga Kelurahan Kalipancur, Ngaliyan Kota Semarang.
Ilustrasi Surat Permohonan Maaf. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/top-view-sorry-sticky-note-pasted-354313025
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Surat Permohonan Maaf. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/top-view-sorry-sticky-note-pasted-354313025
Ketika ditemukan, korban meninggalkan surat yang berisi permintaan maaf kepada ibunya karena banyak mengalami tekanan. Dalam ranah psikologi, "tekanlan" mengacu pada reaksi fisik dan emosional yang timbul ketika individu merasa beban atau tuntutan yang dihadapinya melebihi kemampuan mereka untuk mengatasinya. Ini merupakan respons terhadap situasi yang dianggap menantang, sulit, atau sebagai pemicu stres. Sumber tekanan dapat berasal dari berbagai hal, termasuk tekanan akademik, beban pekerjaan, masalah hubungan, perubahan dalam kehidupan, atau situasi krisis.
Dampak tekanan dapat menghasilkan beragam gejala, termasuk stres fisik seperti peningkatan denyut jantung, ketegangan otot, atau sakit kepala, serta stres emosional seperti kecemasan, depresi, atau perasaan tidak bahagia. Perilaku individu dalam menghadapi tekanan juga dapat mencakup berbagai strategi koping, seperti berbicara dengan teman, menghindari situasi, atau menggunakan mekanisme koping yang bersifat positif.
Ketika berbicara tentang psikologi, memahami tekanan dan dampaknya pada individu menjadi sangat penting, karena tekanan yang berkelanjutan atau tidak tertangani dapat berkontribusi pada munculnya masalah kesehatan mental, termasuk gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma. Oleh karena itu, manajemen tekanan dan pengembangan keterampilan untuk mengatasi tekanan menjadi aspek penting dalam bidang psikologi klinis dan perawatan kesehatan mental.
Ilustrasi Seseorang yang Mendapat Tekanan. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/front-view-depression-muslim-woman-sitting-2353176159
Tekanan adalah salah satu faktor yang dapat memengaruhi seseorang hingga membuat mereka ingin mengakhiri hidup. Tekanan dalam konteks ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk tekanan akademik yang tinggi di kalangan mahasiswa untuk mencapai hasil yang baik dalam ujian, tugas, dan proyek. Beban kuliah yang berat dan persaingan yang ketat dapat menciptakan stres yang signifikan. Tekanan akademik yang tinggi, seperti tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi, menghadapi ujian, tugas, dan jadwal yang padat dapat menyebabkan stres yang berat.
Selain itu, tekanan sosial juga bisa muncul dalam bentuk tuntutan dari teman sebaya, keluarga, atau masyarakat untuk mencapai ekspektasi tertentu. Ini bisa mencakup tekanan untuk berhasil dalam pekerjaan, perkawinan, atau hal-hal lain yang dianggap penting oleh masyarakat. Masalah emosional, seperti depresi, kecemasan, atau perasaan putus asa, juga dapat menciptakan tekanan yang tinggi, begitu juga dengan kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan. Mahasiswa mungkin merasa bahwa mereka tidak memiliki keterampilan atau sumber daya yang cukup untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. Lebih jauh, masalah hubungan, baik dengan teman, keluarga, atau pasangan, dapat menyebabkan stres dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Tentunya, tekanan yang berkepanjangan, khususnya tanpa waktu istirahat yang cukup, dapat meningkatkan risiko stres kronis. Ini dapat memengaruhi kesejahteraan emosional seseorang dan meningkatkan kemungkinan munculnya pemikiran bunuh diri.
Isolasi sosial dan perasaan kesepian juga dapat memengaruhi seseorang hingga mereka merasa putus asa. Ketika seseorang merasa terisolasi, mereka mungkin tidak mendapatkan dukungan sosial yang mereka butuhkan untuk mengatasi stres atau masalah yang mereka alami. Hal ini dapat membuat mereka merasa terjebak oleh pikiran dan perasaan negatif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran untuk bunuh diri.
Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa mengatasi isolasi sosial dan kesepian merupakan kunci penting dalam pencegahan bunuh diri. Membangun hubungan sosial yang sehat, mencari bantuan dari teman, keluarga atau kelompok pendukung, dan mencari bantuan dari ahli kesehatan mental dapat membantu orang mengatasi perasaan kesepian dan isolasi. Penting juga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mendukung dan mendukung individu yang mungkin merasa sendirian. Dengan bekerja sama, kita dapat membantu mengurangi dampak isolasi sosial dan kesepian terhadap kesejahteraan mental dan emosional.
Hal yang dapat dilakukan oleh semua pihak dalam hal ini adalah pencegahan bunuh diri yang melibatkan meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental, memberikan dukungan emosional, dan mendorong individu yang mengalami tekanan untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental. Kita perlu memahami bahwa jika individu mengalami kesulitan, lebih baik untuk menghubungi pakar atau ahli yang dapat membantu untuk menghilangkan niatan buruk tersebut.
Setiap individu adalah unik dan faktor-faktor yang memengaruhi keinginan untuk mengakhiri hidup dapat sangat berbeda. Upaya pencegahan bunuh diri harus mencakup pendekatan yang holistik yang mencakup meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental, memberikan dukungan sosial, dan memastikan akses ke perawatan kesehatan mental. Dengan demikian, kita harus selalu menjaga lidah dan tindakan kita pula sebagai upaya pencegahan adanya berbagai hal yang dapat menekan orang lain sehingga orang tersebut merasa tertekan sehingga memunculkan niat untuk mengakhiri hidupnya. Selain itu, kita pun dapat lebih mendengarkan orang-orang yang membutuhkan bantuan kita agar orang-orang tersebut tidak merasa sendiri dan dihargai sehingga niatan bunuh diri hilang karena bunuh diri bukanlah solusi dari permasalahan hidup!
Trending Now