Konten dari Pengguna

Diversifikasi Pasar Ekspor Indonesia: Solusi Ketahanan Ekonomi

Rosanto dwi
Associate Professor dan Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB Universitas Airlangga. Mengajar dan meneliti di bidang ekonomi internasional, industri, pembangunan, serta UMKM.
14 Mei 2025 14:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Diversifikasi Pasar Ekspor Indonesia: Solusi Ketahanan Ekonomi
Ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% di triwulan I 2025, tapi ketergantungan pada pasar ekspor tradisional jadi ancaman. Saatnya diversifikasi ke pasar non-tradisional demi ketahanan ekonomi.
Rosanto dwi
Tulisan dari Rosanto dwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 4,87 persen. Sebuah angka yang patut disyukuri di tengah tekanan global. Namun, di balik angka tersebut, tersembunyi kenyataan pahit: ekonomi kita masih sangat bergantung pada ekspor ke negara-negara mitra tradisional seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Kurangnya diversifikasi pasar ekspor Indonesia menjadi salah satu titik lemah paling nyata yang mengancam ketahanan ekonomi nasional.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian—dari perang dagang, fluktuasi harga komoditas, hingga proteksionisme negara maju—bergantung pada segelintir negara besar adalah strategi yang kian usang. Ketika pasar-pasar utama itu mengalami perlambatan ekonomi atau perubahan kebijakan, Indonesia akan terkena dampaknya secara langsung dan signifikan.
Tiongkok, misalnya, menyerap hampir 28 persen ekspor Indonesia. Amerika Serikat sekitar 11–12 persen, dan Uni Eropa sekitar 15 persen. Mereka memang raksasa ekonomi dunia, tapi justru karena itulah guncangan di sana cepat menyebar ke mitra dagangnya. Ketika AS menaikkan tarif impor, atau Tiongkok memperketat regulasi bahan mentah, produsen Indonesia harus gigit jari.
Inilah saatnya kita bertanya : apakah kita terlalu nyaman berada dalam lingkaran ekspor lama? Apakah kita siap menghadapi dunia yang lebih multipolar dan tidak lagi berpihak pada negara pengekspor bahan mentah seperti kita?
Ilustrasi pasar ekspor (sumber: https://www.perumperindo.co.id/kegiatan-ekspor-dan-impor/)

Mengapa Diversifikasi Pasar Ekspor Indonesia Mendesak?

Jawabannya ada pada strategi diversifikasi pasar ekspor Indonesia.
Diversifikasi bukanlah konsep baru. Tapi dalam praktiknya, Indonesia masih setengah hati menjalankannya. Kita tahu bahwa kawasan seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan menyimpan potensi besar. Negara-negara seperti India, Pakistan, Nigeria, dan Mesir memiliki populasi besar, pertumbuhan kelas menengah yang cepat, serta kebutuhan konsumsi yang meningkat. Namun sejauh ini, ekspor Indonesia ke wilayah-wilayah itu masih minim dan cenderung tidak terarah.
Salah satu penyebabnya adalah pendekatan kita yang terlalu teknokratik dan minim empati pasar. Kita gagal memahami bahwa konsumen di Afrika punya selera produk alas kaki yang berbeda. Atau bahwa pasar minyak goreng di Timur Tengah sudah dikuasai oleh produk berbasis zaitun. Atau bahwa baju batik yang kita banggakan perlu disesuaikan ukuran dan desainnya jika ingin masuk ke pasar Afrika Selatan.
Selain soal selera, ada tantangan tarif, logistik, dan diplomasi dagang yang belum optimal. Negara-negara seperti India dan Pakistan sudah memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia. Tapi tanpa promosi aktif dan dukungan kebijakan, perjanjian itu hanya jadi dokumen mati.
Lebih parah lagi, kita masih berkutat pada ekspor komoditas mentah seperti batu bara, kelapa sawit, dan tekstil setengah jadi. Padahal nilai tambah justru ada pada produk jadi. Negara seperti Jepang mampu mengekspor mobil bukan karena punya bahan baku, tapi karena punya produk akhir yang unggul. Mengapa kita tidak mendorong ekspor baju batik jadi, makanan siap saji, alas kaki berbasis desain etnik, atau bahkan mobil produksi dalam negeri seperti Innova ke negara-negara berkembang?

Dari Produk Mentah ke Barang Bernilai Tinggi

Perlu ditegaskan, diversifikasi bukan hanya soal "ke mana kita menjual", tapi juga "apa yang kita jual". Tanpa transformasi dari pengekspor bahan mentah ke produsen barang jadi, kita akan terus menjadi pemain pinggiran dalam ekonomi global.
Pemerintah harus memperkuat diplomasi dagang. Perwakilan Indonesia di luar negeri tidak boleh sekadar menjadi etalase birokrasi, tetapi harus menjadi agen pemasaran aktif. Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) harus berubah menjadi lembaga yang memahami dinamika pasar lokal, menjalin hubungan dengan pelaku usaha, menggelar business matching, dan memberi informasi kepada pelaku ekspor di dalam negeri.
Insentif fiskal dan pembiayaan juga perlu diarahkan kepada pelaku usaha yang serius menembus pasar non-tradisional. Pemerintah perlu menyusun peta produk unggulan per kawasan—bukan berdasarkan komoditas mentah, tapi pada produk yang sudah siap pakai dan sesuai dengan karakteristik konsumen lokal.
Diversifikasi ekspor bukan proyek jangka pendek. Ia membutuhkan riset pasar, pembenahan logistik, reformasi industri hulu-hilir, serta keberanian politik. Namun jika kita tidak memulainya sekarang, kita akan terus mengulang siklus yang sama: ekonomi tumbuh, lalu terpukul; ekspor naik, lalu anjlok. Karena kita terlalu lama bertumpu pada satu tiang yang sama.
Prof. Rossanto Dwi Handoyo, Ph.D. Guru Besar Ekonomi fakultas EKonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
Trending Now