Konten dari Pengguna
Njoto, Antara Bayangan Dan Pengaruh Yang Terlupakan
4 Mei 2025 14:31 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Njoto, Antara Bayangan Dan Pengaruh Yang Terlupakan
Bung Karno sering sekali dianggap sebagai seorang orator ulung. Akan tetapi, yang jarang kita ketahui adalah bahwa pidatonya ditulis oleh beberapa orang dimana salah satunya adalah Njoto.Nurus Syamsi
Tulisan dari Nurus Syamsi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Njoto (1925–1965) adalah seorang intelektual, penulis, dan aktivis politik Indonesia yang berkontribusi besar dalam penyusunan pidato-pidato Presiden Soekarno. Ia merupakan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), organisasi kebudayaan yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebelum terlibat dalam dunia politik, Njoto dikenal sebagai penulis dan jurnalis yang produktif di media-media kiri seperti Harian Rakyat.
Menurut beberapa sumber, Njoto adalah salah satu "ghostwriter" Soekarno yang membantu merangkai kata-kata pembakar semangat, terutama pada masa revolusi (1945–1950-an) dan era Demokrasi Terpimpin (1959–1965).
Beberapa ciri khas kepenulisan yang dapat ditemukan dalam karyanya sepeti:
Gaya Bahasa Epik, pidato yang ditulisnya sering menggunakan metafora perjuangan seperti "Genta Suara Revolusi" dan narasi heroik yang khas Soekarno.
Penyederhanaan Ideologi Kompleks, Njoto membantu menerjemahkan konsep Marhaenisme dan Nasakom ke dalam bahasa rakyat, seperti dalam pidato "Trisakti" (1963).
Namun, tidak semua pidato ikonik Soekarno adalah buah tangan Njoto. Soekarno sendiri adalah orator ulung yang kerap menulis naskahnya sendiri. Kolaborasi mereka lebih seperti hubungan "editor-pemikir" daripada penulis bayangan.
Meski dimikian, kontribusi sentuhan tangan Njoto tetap dianggap memiliki kontribusi pada beberapa pidato Bung Besar. Akan tetapi banyak pihak yang lanta mempertanyakan mengapa sosok Njoto tidak terkenal? Jawbannya cukup kompleks, karena banyak faktor yang mempengaruhi perjalanan sejarahnya.
Beberapa faktor yang dapat ditelusuri di antaranya :
Kebiasaan Soekarno, Bung Karno kerap mengolah ulang naskah orang lain dengan gayanya sendiri, sehingga kontributor seperti Nyoto tenggelam.
Kondisi Politik Era Orde Baru, karena afiliasi Nyoto dengan PKI, namanya sengaja dihapus dari sejarah resmi pasca-1965. Tragisnya, Nyoto menjadi korban pembunuhan massal 1965–1966.
Minimnya Dokumen, Arsip pidato era Soekarno sering tidak mencantumkan nama penulis pendamping, membuat jejak Njoto menjadi kian sulit dilacak.
Meski demikian, kita dapat menarik pembelajaran dari sosok Njoto dan menarik benang merah dari sejarahnya agar dapat menemukan relevansi sosoknya dengan kondisi sosial politik kita hari ini.
Kasus Njoto mengingatkan kita bahwa pidato pemimpin adalah hasil kerja kolektif, bukan murni buah pemikiran individu. Hal ini kontras dengan budaya politik sekarang yang kerap mengklaim pidato sebagai "karya asli".
Di lain sisi, pengaburan peran Nyoto dari sejarah adalah contoh bagaimana rezim otoritarian memutus mata rantai intelektual yang tidak sesuai dengan narasi resmi.
Njoto mungkin hanya "bayangan" dalam sejarah, tetapi pengaruhnya pada pidato Soekarno menunjukkan betapa kekuatan kata-kata revolusi dibangun oleh banyak tangan. Mengingatnya kembali adalah bentuk penghargaan pada para pemikir tak bernama yang turut membentuk Indonesia.

