Konten dari Pengguna

Kenapa Anak Sering Tantrum? Begini Cara Kerja Otaknya Saat Emosi Meledak

RUFFINA RAZAK
Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
27 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kenapa Anak Sering Tantrum? Begini Cara Kerja Otaknya Saat Emosi Meledak
Tantrum pada anak berkaitan dengan cara kerja otak, terutama amigdala dan prefrontal cortex. Memahami proses ini membantu orang tua merespons emosi anak dengan lebih tepat dan efektif.
RUFFINA RAZAK
Tulisan dari RUFFINA RAZAK tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustri seorang anak yang menangis saat meluapkan emosi. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustri seorang anak yang menangis saat meluapkan emosi. Sumber: Pixabay
Saat berada di ruang publik, seperti bandara, mall, dan tempat umum lainnya, kita mungkin pernah melihat seorang anak menangis dengan keras, marah sambil berteriak hingga berguling-guling di lantai. Mereka belum memahami bahwa perilaku seperti itu kurang sesuai dilakukan di tempat umum. Respons itu dikenal sebagai perilaku tantrum. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada otak mereka hingga respons emosinya meledak sedemikian rupa?
Menurut beberapa praktisi neuroedukasi, struktur otak dapat digambarkan saat kita menggenggam tangan dengan ibu jari masuk ke dalam kepalan, kurang lebih seperti itulah bentuk sederhana yang bisa menggambarkan struktur otak manusia. Otak manusia terbagi menjadi tiga area utama.
Bayangkan pergelangan tangan sebagai batang otak, ibu jari sebagai sistem limbik, dan empat jari lainnya sebagai neokorteks. Para ahli juga menyebut batang otak sebagai “otak reptil”, sistem limbik sebagai “otak mamalia”, dan neokorteks sebagai “otak manusia”, karena ketiganya memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Ilustrasi anatomi otak manusia. Sumber: Pixabay
Pada otak manusia terdapat bagian yang dapat diibaratkan sebagai “alarm emosi”. Alarm emosi ini terdapat di area sistem limbik, tepatnya pada bagian amigdala. Amigdala berfungsi mendeteksi ancaman dan memicu reaksi emosional seperti ketakutan, kemarahan, dan frustrasi. Pada anak-anak, amigdala cenderung sangat mudah “menyala”, sehingga ketika kebutuhan dasar, misalnya, lapar, kelelahan, atau kebutuhan perhatian lainnya tidak terpenuhi, reaksi emosional bisa meledak.
Dengan demikian, saat anak mengalami tantrum bagian otak amigdala sedang mengambil kendali. Ahli neurologi menjelaskan bahwa butuh sekitar 21–25 tahun untuk ketiga area otak manusia dapat berintegrasi, selama integrasi belum terjadi, salah satu fungsi otak dapat lebih mendominasi dalam satu waktu.
Jika amigdala berperan sebagai “alarm emosi” pada otak, maka ada bagian lain yang bertugas mengendalikan alarm tersebut, yaitu prefrontal cortex (PFC) yang berada di neokorteks. Menurut para ahli neuropsikologi, prefrontal cortex (PFC) merupakan bagian otak yang berperan sebagai pusat pengendalian diri, mengatur impuls, membuat keputusan, dan membantu seseorang merespons situasi secara rasional.
Namun, para pakar juga menekankan bahwa PFC adalah area yang paling lambat matang dalam perkembangan otak manusia. Pada anak-anak, struktur ini belum berkembang optimal, sehingga kemampuan mereka mengendalikan impuls dan mengelola emosi, termasuk rasa marah atau frustrasi, masih sangat terbatas.
Para pakar neuropsikologi juga menemukan bahwa ketika hubungan antara amigdala sebagai pusat alarm emosi dan prefrontal cortex sebagai bagian otak yang yang berperan dalam mengatur kontrol diri masih lemah, anak lebih mudah mengalami ledakan emosi dan sulit menenangkan diri. Pola ini sangat mirip dengan perilaku tantrum anak.
Oleh karena itu, jika kita menghubungkan teori kerja otak dengan perilaku tantrum, terlihat bahwa ledakan emosi muncul karena sistem “otomatis” otak yaitu amigdala sebagai pusat alarm emosi berperan lebih dominan. Sementara, sistem “pengendali diri” di prefrontal cortex belum matang sehingga anak belum mampu menahan impuls ketika merasa lapar, lelah, frustrasi, atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Di sisi lain, semakin kuat jalur komunikasi amigdala–PFC, semakin mudah anak menenangkan diri dan merespons situasi dengan lebih terkontrol. Koneksi yang matang antara amigdala-PFC membuat anak lebih siap menghadapi kondisi yang membuat mereka tidak nyaman, seperti lapar, lelah, atau tidak mendapatkan keinginannya.
Menurut para ahli perkembangan anak, tantrum bukan sekadar “drama” atau perilaku mencari perhatian. Tantrum muncul ketika otak anak mengalami kelebihan rangsangan disertai ketidakmampuan mereka dalam menyampaikan kebutuhan dengan kata-kata atau sedang kelelahan secara emosional.
Karena kemampuan regulasi emosi mereka masih berkembang, anak sangat membutuhkan bantuan orang dewasa untuk menenangkan diri. Proses ini dikenal sebagai co-regulation, yaitu ketika orang tua “meminjamkan” ketenangan mereka agar emosi anak ikut mereda.
Dengan begitu, faktor lingkungan sangat berperan besar, seperti bagaimana orang tua merespons, kehadiran orang dewasa yang tenang, memahami emosi anak, dan memberikan kehadiran yang menenangkan, misalnya, lewat pelukan atau sentuhan lembut, perlakuan seperti itu dapat membantu menurunkan aktivasi emosi dan membuat PFC bekerja lebih optimal.
Implikasinya, ketika tantrum terjadi, cara yang paling efektif bukanlah memberi ceramah panjang atau hukuman keras, tetapi menenangkan sistem limbik anak lebih dahulu, misalnya dengan berkata pelan, “Aku ada di sini, kita tenang dulu.” Barulah setelah emosi anak mereda, percakapan dan penjelasan untuk mengajak mereka memahami kondisi dapat diberikan dengan lebih efektif.
Ilustrasi seorang ibu menenangkan dan memeluk anaknya sebagai ekspresi kasih sayang. Sumber: Pixabay
Pemahaman tentang cara kerja otak ini membantu orang tua merespons tantrum anak sebelum memberikan nasihat atau penjelasan logis, anak yang mengalami tantrum perlu ditenangkan terlebih dahulu agar sistem limbiknya mereda. Dengan kata lain, tantrum menunjukkan bahwa anak masih berada dalam proses belajar mengelola emosinya, sehingga peran orang dewasa menjadi sangat penting untuk menuntun mereka menuju kontrol diri yang lebih baik.
Trending Now