Peluang Hadirnya Threads dalam Aktivisme Digital

Saffa baru saja menyelesaikan pendidikan S1 nya di Universitas Padjadjaran tepatnya di Program Studi Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Saffa Nashita Puteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Threads merupakan gebrakan baru yang dikeluarkan oleh Meta, perusahaan yang juga mencetuskan platform Facebook. Secara resmi Threads diluncurkan pada tanggal 5 Juli 2023. Media sosial yang terhubung langsung dengan Instagram ini memungkinkan penggunanya untuk mengunggah utas, membalas unggahan orang lain, dan mengikuti profil yang menarik bagi mereka. Dalam Threads, pengguna dapat berkomunikasi dalam bentuk foto, video, teks pendek, atau kombinasi dari ketiganya.
Selain mengunggah, pengguna Threads dapat saling mengikuti untuk melihat unggahan utas dan balasan yang ditampilkan pada halaman profilnya. Pengguna lain yang dapat melihat halaman profil juga ditentukan oleh pemilik profil itu sendiri pada pengaturan privasi.
Berbagai macam interaksi dapat dilakukan dalam aplikasi baru ini seperti menambahkan pengguna baru di ruang diskusi, menyukasi, membagikan, mengutip, dan mengunggah ulang konten. Untuk dapat menjadi pengguna Threads, maka ia harus memiliki akun Instagram. Meskipun begitu, profil yang ada pada Threads termasuk pengikut tidak sepenuhnya menyerupai Instagram melainkan seperti akun baru.
Walaupun fitur yang ditawarkan Threads terkesan menyerupai Twitter, Meta mengungkapkan bahwa Threads dapat menurunkan risiko penggunanya yang ingin mencoba aplikasi berbasis teks baru namun tidak ingin membangun profil termasuk banyaknya pengikut dari awal.
Melihat dari jumlah pengguna Instagram yang semakin populer di Indonesia, faktor pendorong tersebut tentunya dapat diterima dengan baik. Berdasarkan data yang dikutip dari NapoleonCat, terdapat 109.828.000 pengguna Instagram di Indonesia per April 2023. Hal tersebut menunjukkan bahwa 39,2% populasi di Indonesia sudah menggunakan Instagram sehingga, hadirnya Threads memberikan peluang baru bagi mereka yang ingin mengekspresikan pikirannya dengan bentuk media baru tanpa memulai dari nol atau dengan masa yang sudah ada.
Tingginya penggunaan Instagram tentunya menjadikannya media sosial yang menarik dan memiliki massa yang luas. Hal tersebut banyak dimanfaatkan oleh berbagai sektor di masyarakat termasuk aktivisme digital.
Dapat dilihat salah satunya adalah akun @greenpeaceid yang bergerak dalam bidang anti kekerasan dan kelestarian lingkungan. Menggunakan Instagram, Greenpeace Indonesia telah memiliki pengikut sebanyak 693 ribu. Selain itu, akun @kitabisacom juga telah mencapai pengikut sebanyak 945 ribu dan tentunya masih banyak lagi aktivisme yang menggunakan Instagram sebagai media penghubung untuk berkomunikasi dengan masyarakat.
Namun, apakah Threads dapat memberikan peluang yang sama seperti Instagram? Terdapat tiga komponen yang penting dalam suatu gerakan aktivisme.
1. Advokasi
Pertama adalah advokasi. Hal ini diungkapkan oleh Alice Mattoni dan Fernanda Odilla yang menemukan bahwa inisiatif yang lebih fokus pada strategi media digital tanpa melakukan pendekatan advokasi yang jelas tidak cukup untuk mendorong adanya perubahan kebijakan (Mattoni & Odilla, 2021).
Hal ini dapat diterapkan dalam Threads mengingat fitur-fitur yang disediakan dapat mendorong interaksi yang tinggi diantara penggunanya. Pengguna dapat menggunakan fitur reply dan quote untuk mengungkapkan aspirasinya dan advokasi dalam suatu aktivisme.
2. Gerakan terintegrasi
Gerakan terintegrasi diperlukan dalam meningkatkan potensi digitalisasi. Sosial media berperan sebagai media yang menampilkan keberhasilan gerakan sebagai dampak dari intervensi langsung oleh peserta yang berguna untuk menjaga momentum dan mobilisasi dalam skala internasional (Leong et al., 2020).
Threads tentunya menunjang kebutuhan tersebut sebagaimana fitur repost, like, dan share akan mendorong persebaran informasi yang dapat meningkatkan gerakan yang terintegrasi. Fitur tersebut juga dapat menyebarkan informasi dengan cepat sehingga pengetahuan suatu isu dapat tersampaikan dengan skala besar dalam masyarakat.
3. Representasi gerakan aktivisme
Ketiga adalah representasi yang digunakan Gerakan sosial pada digitalisasi. Walaupun aktivisme melalui media sosial memiliki persentase keberhasilan yang tinggi, tetap diperlukan representasi simbolik, ikon, dan narasi yang digunakan menyerupai budaya populer kontemporer (Lim, 2013).
Threads sebagai aplikasi berbasis teks yang juga mendukung bentuk lainnya seperti foto dan video tentunya dapat menunjang peningkatan gerakan aktivisme digital. Unggahan dan halaman profil pada Threads dapat meningkatkan dan melengkapi representasi suatu gerakan aktivisme dalam berbagai bentuk.
Hal baru tentunya memiliki waktu untuk diadaptasi. Meskipun begitu, memahami suatu inovasi lebih dalam dan cepat dapat memberikan peluang bagi kita agar dapat unggul sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan efektif dan efisien.
--------------
Artikel ini disusun oleh Saffa Nashita Puteri di bawah bimbingan Prof. Dr. Atwar Bajari M.Si., Bapak Detta Rahmawan, S.I.Kom., M.A., dan Ibu Dr. Ira Mirawati, M.Si. dari Program Studi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu komunikasi, Universitas Padjadjaran.
