Konten dari Pengguna

Stigma terhadap ODHA: Luka Sosial di balik Keramaian Masyarakat

Salsabila Amira Novianti
Mahasiswi Sosiologi Universitas Brawijaya.
8 Desember 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Stigma terhadap ODHA: Luka Sosial di balik Keramaian Masyarakat
Stigma ODHA masih kuat di kawasan perkotaan Jawa Timur, termasuk Malang. Banyak penyintas HIV menghadapi diskriminasi sampai tekanan psikologis berat akibat konstruksi moral. #userstory
Salsabila Amira Novianti
Tulisan dari Salsabila Amira Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi HIV AIDS. Foto: fizkes/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi HIV AIDS. Foto: fizkes/Shutterstock
Stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS hingga saat ini tetap menjadi masalah sosial yang tidak tampak, meskipun kita hidup dalam masyarakat yang semakin terbuka dan saling terhubung. Banyak individu masih berkeyakinan bahwa HIV dapat menyebar melalui kontak fisik, pelukan, atau interaksi sehari-hari, padahal penularannya memiliki mekanisme medis yang tegas.
Ketidakpahaman seperti ini berpotensi berbahaya karena dapat memperkuat diskriminasi dan menyebabkan orang dengan HIV/AIDS semakin terasing di masyarakat mereka. Fenomena ini terlihat dengan jelas di berbagai kota besar—termasuk Malang—di mana individu yang hidup dengan HIV masih mengalami pengucilan sosial dan penolakan terhadap layanan publik.

Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS dan Penyebab Utamanya

Stigma timbul bukan disebabkan oleh karakteristik virus itu sendiri, melainkan oleh konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat. Sejak awal, HIV selalu dihubungkan dengan jenis perilaku seksual tertentu, seperti hubungan homoseksual atau hubungan seksual di luar pernikahan.
Ilustrasi HIV AIDS. Foto: Shutter Stock
Sebagai hasilnya, masyarakat tidak hanya memandang HIV sebagai suatu penyakit, tetapi juga sebagai “sanksi moral”. Pelabelan ini menghasilkan prasangka sosial yang sangat kuat: perempuan ODHA dianggap sebagai pekerja seks komersial, sedangkan laki-laki ODHA dipandang sebagai pelaku perselingkuhan. Sebenarnya, banyak orang yang hidup dengan HIV/AIDS terinfeksi melalui pasangan tetap mereka. Ketidakseimbangan informasi inilah yang menyebabkan stigma terus tumbuh.

Dampak Psikologis dari Stigma

Berdasarkan teori kesejahteraan psikologis dari Ryff, diskriminasi dapat menyebabkan penyintas kehilangan rasa percaya diri, kesulitan dalam menerima diri, serta merasa tidak memiliki arah dalam hidup.
Keterikatan sosial mereka menurun akibat masyarakat menjauh dan situasi ini menyebabkan ODHA merasakan tekanan mental yang semakin berat. Beberapa penelitian bahkan mengungkapkan bahwa perilaku menyendiri, depresi yang parah, dan pemikiran tentang bunuh diri dapat muncul akibat tekanan sosial yang berkelanjutan.

Dimensi Gender dan Kelas dalam Stigma

Ilustrasi gender. Foto: Luisella Sem/EyeEm/Gety Images
Konstruksi gender berperan penting dalam memperkuat stigma. Perempuan sering kali menjadi pihak yang paling dicela, meskipun mereka bukan penyebab penyebaran. Dalam beberapa situasi, wanita yang hamil dan terinfeksi HIV dipaksa untuk menjalani aborsi, yang merupakan bentuk kekerasan struktural akibat kurangnya pengetahuan masyarakat.
Sebaliknya, stigma yang berkaitan dengan kelas juga muncul: orang dengan HIV/AIDS dipandang berasal dari kelompok “kotor” atau “kelas rendah”.
Sebenarnya, HIV bukanlah penyakit yang membedakan berdasarkan kelas sosial. Sosiologi kesehatan menunjukkan bahwa stigma tersebut muncul akibat perbedaan informasi, bukan berdasarkan fakta medis.

Kurangnya Pengetahuan Kesehatan dan Tanggung Jawab Pemerintah

Ilustrasi kebijakan pemerintah. Foto: SsCreativeStudio/Shutterstock
Permasalahan utama dalam rantai stigma adalah minimnya pengetahuan kesehatan di kalangan masyarakat. Banyak orang tidak menyadari bahwa HIV tidak dapat menular melalui interaksi sosial sehari-hari, sehingga mereka menghindari penyintas HIV tanpa dasar ilmiah.
Negara—melalui dinas sosial dan tenaga kesehatan—sejatinya memiliki peranan yang signifikan dalam menghentikan stigma, termasuk melalui pendidikan masyarakat, kampanye kesehatan, dan perlindungan hak-hak orang dengan HIV/AIDS. Namun, penyebaran informasi sering kali tidak mencapai tingkat dasar masyarakat, sehingga kesalahpahaman tetap berkembang.

ODHA dan Kendala dalam Mengakses Layanan Kesehatan

Salah satu akibat paling negatif dari stigma adalah orang dengan HIV/AIDS merasa takut untuk menjalani pemeriksaan. Banyak orang merasa ragu untuk mengunjungi puskesmas karena khawatir informasi pribadi mereka terungkap. Sebenarnya, terapi ARV sangat berhasil dalam menekan virus dan memungkinkan para penyintas untuk menjalani hidup yang sehat.
Ilustrasi virus. Foto: Shutterstock
Ketika orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menunda perawatan, risiko untuk kesehatan serta penularan justru menjadi lebih tinggi. Ini adalah salah satu alasan mengapa stigma bukan hanya sekadar isu sosial, melainkan juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

Menghentikan Rantai Stigma Tidak Dapat Ditunda

Untuk membangun masyarakat yang inklusif, peningkatan literasi kesehatan sangat penting dan perlu menghilangkan bias moral. ODHA tidak merupakan ancaman bagi masyarakat; yang lebih berbahaya adalah kurangnya pengetahuan kita. Media massa memiliki peranan yang signifikan dalam mengubah cerita: tidak hanya melaporkan kasus-kasus, tetapi juga menyoroti aspek kemanusiaan dari para penyintas.
Stigma yang melekat pada orang dengan HIV/AIDS hanya akan sirna jika masyarakat menyadari bahwa HIV merupakan penyakit medis, bukan merupakan cerminan dari identitas moral. Orang dengan HIV/AIDS berhak menjalani hidup dengan kehormatan, mendapatkan dukungan sosial, dan memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan.
Trending Now