Konten dari Pengguna

Jejak Kata, Makna Tiada: Bagaimana Kita Bisa Lebih Saling Memahami?

Salsabila Rizki
Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Ilmu Komunikasi
29 Mei 2025 15:06 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jejak Kata, Makna Tiada: Bagaimana Kita Bisa Lebih Saling Memahami?
Di era kata yang melimpah, makna justru sering hilang. Artikel ini mengajak kita memahami kembali esensi komunikasi: mendengar, memahami, dan merespons dengan empati.
Salsabila Rizki
Tulisan dari Salsabila Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Illustrasi Jejak Kaki sumber: unsplash.com/Marten Bjork
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Jejak Kaki sumber: unsplash.com/Marten Bjork
Di era ketika setiap orang bisa berbicara, menulis, dan menyampaikan opini kapan pun lewat layar, ironisnya—memahami satu sama lain justru makin sulit.
Kita hidup dalam lautan kata-kata. Notifikasi masuk tak berhenti: pesan dari grup kerja, story teman lama, twit viral, komentar pedas, hingga opini-opini tajam yang hanya bertahan satu hari sebelum tergantikan. tetapi di balik derasnya komunikasi itu, muncul sebuah pertanyaan: apakah kita benar-benar saling memahami, atau sekadar saling menanggapi?
Komunikasi yang Serba Cepat, tetapi Minim Kedalaman
Media sosial mendorong kita untuk berbicara dalam format singkat: 280 karakter, video 60 detik, atau caption catchy. Format ini membuat kita terbiasa menyampaikan dengan cepat, tetapi sering kali tanpa konteks. Sementara itu, mendengar atau membaca secara utuh—sesuatu yang butuh waktu dan empati—jadi makin jarang dilakukan.
Hasilnya? Banyak miskomunikasi. Kata-kata dimaknai berbeda oleh setiap orang, seringkali dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, mood, atau bahkan algoritma yang membentuk cara pandang kita terhadap dunia.
Makna yang Terselip di Antara Teks
Pernahkah kamu merasa sudah menjelaskan semuanya, tetapi lawan bicara justru salah paham? Atau membaca komentar seseorang dan langsung merasa diserang, padahal mungkin maksudnya tidak seperti itu?
Ini bukan sekadar soal kata, tetapi tentang konteks, intonasi, bahasa tubuh—semua elemen yang sering hilang dalam komunikasi digital. Jejak kata tertinggal, tetapi maknanya tak sampai.
Bagaimana Kita Bisa Lebih Saling Memahami?
1. Mendengar dengan Niat Memahami, Bukan Membalas
Banyak dari kita mendengar hanya untuk menjawab, bukan untuk benar-benar mengerti. Cobalah dengarkan lebih dalam, bahkan terhadap hal yang tidak kita setujui.
2. Berani Bertanya Sebelum Menilai
Klarifikasi bisa mencegah konflik yang tidak perlu. Saat ragu, tanya: “Apa maksudmu?” atau “Kamu merasa begitu karena…?” Ini bisa membuka ruang dialog yang lebih sehat.
3. Gunakan Bahasa yang Jelas dan Empatik
Dalam dunia digital yang kering emosi, emoji dan tanda baca bisa membantu menyampaikan nuansa. tetapi lebih dari itu, penting untuk menuliskan kalimat dengan hati-hati, dengan asumsi baik.
4. Sadari bahwa Setiap Orang Membawa Cerita Berbeda
Setiap respons datang dari latar belakang berbeda—pengalaman hidup, trauma, nilai, dan budaya. Tidak semua orang akan menangkap pesan seperti yang kita maksudkan. Dan itu wajar.
Menulis, Bicara, dan Hadir dengan Kesadaran
Kita tak bisa sepenuhnya mengendalikan bagaimana kata-kata kita ditafsirkan. tetapi kita bisa lebih sadar saat memilih kata, lebih sabar saat mendengar, dan lebih terbuka saat berbeda.
Di tengah derasnya komunikasi digital, mungkin yang paling dibutuhkan bukan lebih banyak kata, tetapi lebih banyak makna dan niat baik di baliknya.
Akhir kata, mungkin saatnya kita berhenti sejenak, mengurangi balasan instan, dan mulai berlatih memahami — bukan hanya membaca saja yah teman - teman.
Trending Now