Konten dari Pengguna

Surga Dijual, Dunia Dieksploitasi

Samsul Arifin
Samsul arifin adalah seorang dosen di fakultas hukum universitas muhammadiyah surabaya
5 November 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Surga Dijual, Dunia Dieksploitasi
Katanya, semakin banyak sedekahnya, semakin lancar rezekinya. Begitulah formula suci yang dijual atas nama iman. Dari mimbar ke rekening yayasan, dulu disebut ibadah, kini berubah investasi spiritual.
Samsul Arifin
Tulisan dari Samsul Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber; pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber; pexels.com
Di Indonesia, kau tak perlu jenius untuk jadi kaya. Cukup pahami satu rahasia sederhana: manusia gampang dibohongi, asal kebohongan itu dibungkus dengan hal-hal yang mereka ingin dengar. Dari situ lahirlah ribuan “bisnis sukses”, bukan dari kerja keras atau inovasi, tapi dari eksploitasi keserakahan, kesepian, dan gengsi orang lain. Orang-orang menjual mimpi, bukan produk. Menjual citra, bukan nilai. Menjual rasa takut miskin, sambil menutup mata terhadap kerakusan sendiri.
Mereka tahu betul bahwa ketakutan, kesepian, dan ambisi adalah ladang yang subur.
Maka lahirlah strategi yang licin: membuat orang merasa istimewa, padahal hanya menjadi alat pemasaran; memberi janji surga duniawi, tapi mengambil seluruh perhatian dan uang; memanipulasi emosi, tapi menutupi niat sejati di balik senyum dan testimoni palsu.
Aku tak tertarik pada “kekayaannya.” Yang kuteliti, yang kuteropong, adalah caranya, bagaimana mereka menjerat, mempengaruhi, dan menaklukkan manusia dengan tipu daya yang terselubung rapi. Karena di negeri ini, kekayaan bukan soal otak atau kerja keras. Kekayaan adalah soal siapa paling lihai mengeksploitasi kelemahan orang lain, tanpa tersentuh rasa bersalah.

Jual Hawa Nafsu pada Orang Kesepian

Kesepian itu industri bernilai miliaran. Orang-orang kesepian rela membayar mahal hanya untuk merasa “ditemani”, meski oleh layar, suara asing, atau perhatian palsu. Itulah sebabnya aplikasi kencan, konten receh, live tanpa arah, dan drama cinta murahan laku keras. Mereka tidak mencari solusi, hanya distraksi. Mereka tidak ingin sembuh, hanya ingin lupa.
Di negeri yang warganya stres tapi tak sadar sedang stres, hiburan berubah jadi narkotika legal. Ia menenangkan, tapi juga mematikan pelan-pelan, karena setiap tawa yang dijual sebenarnya adalah pelarian yang dikapitalisasi. Lihat saja media sosial hari ini: semakin vulgar, semakin viral, khususnya para lelaki. Karena laki-laki, seberapa tinggi pun gelar dan jabatannya, tetap mudah dikendalikan lewat visual, bukan logika.
Dari situlah tumbuh industri yang tahu betul bagaimana cara menunggangi kelemahan itu. Maka lahirlah “bisnis konten” yang dibungkus dengan jargon kebebasan berekspresi, padahal intinya cuma satu: menjual tubuh dengan cara yang paling halus dan legal. Tubuh dijadikan algoritma, sensualitas jadi strategi pemasaran, dan seksualitas dipoles jadi estetika agar tampak berkelas.
Yang lebih ironis, para penontonnya pun sadar mereka sedang ditipu, tapi tetap kembali, lagi dan lagi. Mereka tahu sensasi itu palsu, tapi tetap mengejarnya setiap malam. Karena di balik semua kemajuan digital, manusia ternyata masih primitif: lapar validasi, haus fantasi, dan buta terhadap manipulasi.
Dan di negeri yang moralnya mudah terangsang tapi cepat melupakan, jualan hawa nafsu tak pernah sepi pasar. Ia disembunyikan di balik kata “konten,” dilegitimasi oleh algoritma, dan dibungkus dalam narasi kebebasan. Padahal sejatinya, yang dijual bukan cuma tubuh, tapi juga akal sehat yang perlahan dilelang demi sensasi.

Jual Agama pada Orang Miskin

Yang miskin di negeri ini bukan cuma miskin uang, tapi juga miskin harapan, dan di negeri yang kehilangan harapan, agama jadi komoditas paling laku dijual. Maka bermunculanlah para pedagang surga yang tampil dengan jubah wibawa.
Mereka menjual “jalan menuju Tuhan” dalam bentuk seminar, sedekah berjenjang, atau tujuh jurus spiritual cepat kaya. Semua dibungkus dengan ayat suci al-qur’an dan janji, seolah-olah keselamatan bisa dicicil dan diangsur seperti kredit motor.
Sementara di panggung depan, para kiai hidup nyaman, rumahnya megah, mobilnya berderet, amplopnya tebal. Tiap ceramah jadi transaksi, tiap doa jadi konten, dan ironinya, semua kemewahan itu berdiri di atas sajadah jemaah yang bahkan untuk makan pun harus berpikir dua kali.
Tapi jemaah tetap datang. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka ingin percaya, percaya bahwa di balik penderitaan ini, masih ada secercah keadilan ilahi, keinginan untuk percaya itulah yang dijual paling mahal.
Begitulah akhirnya agama diperas dari maknanya, dijadikan mesin penghibur bagi yang lapar, dan ladang kekayaan bagi yang sudah kenyang. Di negeri ini, surga dijanjikan dengan harga donasi, sementara bumi terus diserahkan kepada mereka yang pandai berdoa sambil menimbun harta.
Katanya, semakin banyak sedekahnya, semakin lancar rezekinya. Semakin besar nominalnya, semakin dekat surga menjemputmu. Semakin sering memberi, semakin cepat keajaiban datang, dan semakin percaya, semakin mudah ditipu.
Begitulah formula suci yang dijual atas nama iman. Dari mimbar ke layar, dari masjid ke studio, dari doa ke rekening yayasan. Yang dulu disebut ibadah, kini berubah jadi investasi spiritual, lengkap dengan testimoni dan paket promosi.
Kiai-kiai hidup nyaman, rumahnya megah, jemaahnya lapar. Yang satu bicara tentang keikhlasan sambil memegang mikrofon mahal, yang lain menunduk di lantai masjid, menghitung receh untuk uang sekolah anaknya. Dan Tuhan, entah di mana posisinya dalam transaksi ini. Mungkin sudah lama keluar dari grup, karena nama-Nya kebanyakan dipakai untuk memasarkan brand keimanan yang tak pernah gratis.
Selama orang masih bisa dikendalikan lewat rasa takut, iri, atau nafsu selama itu juga uang bakal ngalir ke kantong yang ngerti psikologi manusia. Mau cepat kaya di Indonesia? Gampang: jual emosi, bukan produk, bukan barang, tapi rasa. Rasa pengin diakui, Rasa pengin disayang, Rasa pengin dianggap penting
Indonesia bukan negara bodoh. Cuma negara di mana emosi lebih mahal dari logika. Dan selama itu terus terjadi, orang cerdas gak akan sibuk marah, mereka sibuk memanfaatkan sistem bukan buat ngerugiin orang, tapi buat sadar satu hal yaitu, yang bisa mengendalikan rasa manusia, akan selalu mengendalikan uang.
Trending Now