Konten dari Pengguna
Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan yang Indah, Praktik yang Masih Rapuh
20 November 2025 20:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan yang Indah, Praktik yang Masih Rapuh
Tulisan ini menyoroti perlunya makna Bhinneka Tunggal Ika dipraktikkan melalui pendidikan Pancasila yang lebih kritis dan relevan di tengah polarisasi.Sani Fatresia
Tulisan dari Sani Fatresia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di media sosial, perbedaan sekecil apa pun bisa berubah menjadi ledakan emosi. Beda pilihan politik, beda keyakinan, bahkan beda idola hiburan pun sering langsung berujung saling serang. Fenomena ini membuat satu pertanyaan penting perlu diajukan: apakah kita masih mempraktikkan makna Bhinneka Tunggal Ika, atau hanya mengulanginya sebagai slogan kosong?
Kita terbiasa memamerkan keberagaman saat acara seremonial. Parade budaya, pakaian adat, dan jargon toleransi tampil meriah di banyak kesempatan. Namun di luar panggung, banyak dari kita melihat perbedaan sebagai ancaman. Kita cepat tersinggung, mudah curiga, dan lebih memilih memihak kelompok sendiri tanpa berpikir panjang. Bahkan lebih percaya hoaks yang sesuai bias daripada fakta yang menantang kenyamanan.
Semua ini menunjukkan satu hal: kita mencintai simbol persatuan, tetapi sering menolak prosesnya. Padahal, Bhinneka Tunggal Ika bukan kalimat puitis di lambang negara. Ia adalah standar moral yang seharusnya tercermin dalam perilaku warganya. Dan jika melihat kondisi hari ini, kita belum sepenuhnya lulus ujian itu.
Salah satu akar persoalannya adalah cara kita mendidik generasi muda. Pelajaran Pancasila terlalu sering berhenti pada hafalan, bukan pembiasaan. Siswa tahu bunyi lima sila, tetapi tidak pernah benar-benar berlatih memahami perbedaan secara dewasa. Nilai toleransi diajarkan di buku, tetapi jarang dilatih melalui dialog, diskusi kritis, atau pengalaman lintas identitas. Akibatnya, ketika berhadapan dengan dunia nyata yang penuh keragaman, mereka mudah goyah atau ikut menebar intoleransi.
Jika kita ingin semboyan itu kembali bermakna, kita perlu mengubah pendekatan. Keberagaman tidak cukup dirayakan; ia harus dikelola. Generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak polarisasi. Ruang dialog dan interaksi lintas kelompok harus diperbanyak di sekolah, komunitas, hingga ruang digital. Persatuan tidak tumbuh dari keseragaman, tetapi dari kemampuan menghadapi ketidaknyamanan.
Bhinneka Tunggal Ika memang indah, tetapi keindahannya tidak berarti apa-apa tanpa keberanian mempraktikkannya. Selama kita hanya bangga pada semboyan tanpa menjalankan maknanya, persatuan akan tetap rapuh. Dan bangsa yang membiarkan semboyannya kehilangan makna perlahan akan kehilangan arah.
Sudah saatnya kita membuktikan bahwa semboyan ini bukan sekadar warisan, tetapi komitmen untuk masa depan.

