Konten dari Pengguna

Tren Globalisasi dan Geopolitik Baru: Peluang Indonesia di Era Perubahan

Sapraji
Analis Kebijakan Publik, Konsultan Politik, Riset, Penulis, Advokasi Publik, Transformasi Digital, Founder & CEO IDIS INDONESIA, Knowledge For Public Good
18 Oktober 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tren Globalisasi dan Geopolitik Baru: Peluang Indonesia di Era Perubahan
Tren globalisasi dan geopolitik baru, peluang Indonesia di era perubahan: Indonesia harus mampu aktif dan adaptif untuk menghadapi peluang dan risiko di era globalisasi dan geopolitik. #userstory
Sapraji
Tulisan dari Sapraji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Infografik ini menggambarkan posisi strategis Indonesia di tengah perubahan global dan dinamika geopolitik baru. (Sumber Foto: Idisign)
zoom-in-whitePerbesar
Infografik ini menggambarkan posisi strategis Indonesia di tengah perubahan global dan dinamika geopolitik baru. (Sumber Foto: Idisign)
Dunia saat ini berada di persimpangan besar yang tidak hanya ditandai dengan perjalanan panjang globalisasi, tetapi juga perubahan mendalam dalam peta geopolitik global. Globalisasi—yang dahulu berjalan dengan lajunya arus perdagangan bebas, investasi lintas negara, dan pertukaran budaya—kini menghadapi tantangan yang membuatnya berubah bentuk. Dari ketegangan ekonomi hingga perang teknologi, setiap negara kini dituntut untuk terus menavigasi perubahan yang terjadi dengan kearifan dan strategi yang matang.
Selama beberapa dekade, globalisasi telah menjadi motor penggerak utama kemajuan ekonomi dan sosial. Namun, perjalanan ini kini mengalami perubahan arah. Proteksionisme mulai muncul di berbagai belahan dunia, mendorong negara-negara untuk memikirkan kembali ketergantungan pada rantai pasok global yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi modern.
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan China. Foto: Reuters/Damir Sagolj
Misalnya, konflik dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok bukan hanya soal tarif dan pajak, melainkan juga bagaimana dua kekuatan besar itu berusaha mengamankan posisi strategis mereka dalam dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya, blok-blok regional yang berusaha mandiri mulai tumbuh, menggeser pola integrasi ekonomi global yang sebelumnya sangat terbuka.
Teknologi mengambil posisi sentral dalam dinamika ini. Revolusi digital yang memunculkan internet generasi baru, kecerdasan buatan, serta komputasi kuantum membawa peluang sekaligus risiko baru. Di satu sisi, inovasi teknologi membuka pintu untuk kemajuan yang tidak terbayangkan sebelumnya mulai dari efisiensi produksi hingga komunikasi global yang instan. Namun, di sisi lain, keamanan siber menjadi perhatian utama karena serangan digital dapat melemahkan sistem kritikal sebuah negara.
Selain itu, peperangan informasi dan penggunaan teknologi untuk pengawasan massal menambah lapisan baru dalam persaingan geopolitik. Negara yang menguasai teknologi tinggi kini tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga memiliki kekuatan strategis yang menentukan posisi mereka di arena global.
Perubahan kekuatan global juga menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Dunia yang dulu berpusat pada satu dominasi kekuatan besar kini bergerak menuju multipolaritas. Kekuatan-kekuatan regional seperti India, Brasil, dan negara-negara Asia lainnya semakin menonjol, membawa warna baru dalam politik internasional.
Ilustrasi bendera negara-negara di Asia. Foto: Shutterstock
Hal ini menyiratkan bahwa diplomasi kini harus lebih cermat dan penuh pertimbangan karena interaksi antarnegara menjadi lebih kompleks dan beragam bentuknya. Perlombaan pengaruh di berbagai kawasan strategis juga meningkat, sedangkan masalah-masalah global seperti perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya menjadi medan perjuangan bersama yang membutuhkan sinergi.
Perubahan iklim sendiri telah menjadi magnet baru yang tidak bisa dihindari dalam hubungan internasional. Dampak lingkungan yang semakin parah menuntut kolaborasi lintas batas negara untuk menghadapi bencana, migrasi akibat perubahan iklim, dan konflik sumber daya alam.
Hal ini memaksa negara-negara untuk mengubah paradigma pembangunan, dari yang hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kerentanan negara-negara terhadap krisis lingkungan menambah kerumitan dalam menjaga stabilitas regional dan global.
Dalam bentang ini, interaksi antarnegara masa depan akan semakin dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial dan budaya yang terkoneksi secara global. Kesadaran tentang hak asasi manusia, keadilan sosial, dan pemerataan ekonomi semakin mendapat tempat dalam arena geopolitik, menjadikan hubungan antarnegara bukan hanya soal kekuatan keras, melainkan juga kekuatan lunak yang mengedepankan inklusivitas dan kemanusiaan. Strategi politik yang memadukan kekuatan militer dan diplomasi budaya menjadi kunci agar negara-negara dapat menjaga posisi dan pengaruh mereka di panggung dunia.
Untuk mampu bertahan dan beradaptasi di era baru ini, negara-negara harus mengembangkan kebijakan yang visioner, mampu mengantisipasi perubahan, dan menjalin kerjasama internasional yang efektif. Ketahanan ekonomi, penguasaan teknologi, dan kelestarian lingkungan menjadi tiga pilar utama dalam menghadapi ketidakpastian global. Di tengah situasi yang bergerak cepat dan tidak menentu, kemampuan beradaptasi dan berinovasi menjadi penentu utama keberhasilan suatu negara.
Ilustrasi etika menggunakan teknologi. Foto: A9 STUDIO/Shutterstock
Contoh nyata dapat dilihat pada strategi India yang menguatkan integrasi regional melalui Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP) serta fokus pada pengembangan teknologi digital dan manufaktur dalam negeri melalui program “Make in India”. Pendekatan ini memperkuat posisi India dalam tatanan multipolar dan menghadapi tantangan ketegangan antara kekuatan besar dunia.
Di sisi lain, Brasil menggunakan kekayaan sumber daya alamnya sebagai alat negosiasi geopolitik sambil mendorong agenda pembangunan berkelanjutan yang menempatkan isu lingkungan sebagai bagian utama strategi nasional dan internasional.
Indonesia—dengan populasi yang terus tumbuh mencapai lebih dari 285 juta jiwa di tahun 2025—menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Data terkini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 212 juta pengguna internet dengan penetrasi sekitar 74,6% dari total populasi. Penetrasi internet ini telah meningkat signifikan dari tahun ke tahun, menandakan bahwa Indonesia tengah bergerak menuju masyarakat digital yang semakin matang dan terintegrasi dengan ekonomi global.​
Dalam konteks geopolitik dan ekonomi global, Indonesia sangat strategis sebagai negara dengan posisi kunci di jalur perdagangan internasional dan sumber daya alam melimpah. Tren digitalisasi yang cepat—seperti adopsi teknologi mobile dengan lebih dari 356 juta koneksi seluler aktif (lebih dari 125% dari populasi)—menjadikan Indonesia sebagai “mobile first society”. Hal ini menghadirkan peluang besar untuk pengembangan ekonomi digital, inklusi sosial, dan pertumbuhan inovasi teknologi.​
Namun, tantangan juga datang berupa kesenjangan digital di daerah-daerah terpencil, kebutuhan peningkatan literasi digital, dan risiko keamanan siber yang semakin meningkat. Upaya pemerintah dan sektor swasta untuk meningkatkan infrastruktur digital serta memperkuat cybersecurity menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas nasional dan daya saing Indonesia di kancah global.​
Menlu Sugiono menghadiri ASEAN Day di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Jumat (8/8/2025). Foto: Nadia Riso/kumparan
Dalam ranah geopolitik, Indonesia juga aktif menguatkan posisi diplomatiknya melalui berbagai forum internasional dan kerja sama regional, termasuk ASEAN dan RCEP. Isu perubahan iklim menjadi salah satu agenda utama di mana Indonesia mengambil peran aktif karena kerentanannya terhadap bencana alam dan dampak lingkungan. Pengelolaan sumber daya laut dan kelestarian ekosistem menjadi perhatian utama, sehingga diplomasi lingkungan menjadi instrumen strategis dalam hubungan luar negeri Indonesia.​
Pengembangan teknologi digital dan inovasi juga menjadi prioritas. Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu pemain utama dalam ekonomi digital Asia dengan potensi ekonomi yang berasal dari pemanfaatan kecerdasan buatan mencapai miliaran dolar AS dalam beberapa tahun ke depan. Investasi dalam data center dan infrastruktur TI terus meningkat untuk mendukung transformasi digital tersebut.​
Secara keseluruhan, tren globalisasi ke depan akan terstruktur lebih regional dan sangat dipengaruhi oleh inovasi teknologi serta isu lingkungan yang mendesak. Lanskap geopolitik akan semakin multipolar dengan ketegangan dan peluang yang baru. Kerjasama multilateral serta strategi adaptif menjadi kunci untuk memastikan dunia dapat melewati masa ketidakpastian ini dengan stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran bersama.
Indonesia—sebagai negara dengan potensi besar, posisi strategis, dan kekuatan digital yang berkembang pesat—harus mampu mengambil posisi aktif dan adaptif untuk menghadapi peluang sekaligus risiko di era globalisasi dan geopolitik baru ini.
Trending Now