Konten dari Pengguna
Berteman: Jangan Hanya nge-Klik, Tapi Harus Peka!
13 Desember 2025 10:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Berteman: Jangan Hanya nge-Klik, Tapi Harus Peka!
Banyak remaja mengenali momen ketika mereka merasa cocok dengan seseorang hanya dalam beberapa menit. Fabian Satya Rabani
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan pertemanan pada masa remaja sering dimulai dari hal sederhana yang terasa โnyambungโ. Banyak remaja mengenali momen ketika mereka merasa cocok dengan seseorang hanya dalam beberapa menit. Fenomena ini tampak seperti sesuatu yang alami dan spontan. Namun para ahli hubungan sosial menyebutnya sebagai hasil dari proses psikologis yang kompleks. Menurut Daniel Goleman dalam Social Intelligence (2006), manusia memiliki kemampuan bawaan untuk membaca sinyal sosial orang lain. Kemampuan ini membantu seseorang menemukan teman yang membuat mereka merasa nyaman sejak awal interaksi.
Di balik kenyamanan itu, terdapat tantangan yang tidak selalu mudah. Banyak remaja mengalami kesalahpahaman karena perbedaan gaya komunikasi atau respons emosional. Kondisi ini memunculkan masalah seperti pertemanan yang rapuh atau mudah retak. Goleman menjelaskan bahwa rendahnya kepekaan sosial dapat memicu jarak emosional dalam interaksi. Ketidaksensitifan terhadap ekspresi teman membuat hubungan kehilangan kedalaman. Situasi ini sering terlihat dalam lingkungan sekolah maupun komunitas remaja yang penuh dinamika emosional.
Masalah dalam pertemanan biasanya muncul karena kurangnya kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Psikolog perkembangan, Laurence Steinberg, dalam Adolescence (2013) menyebut bahwa remaja berada pada masa ketika emosi kuat tetapi kontrol diri belum stabil. Perbedaan latar belakang keluarga, nilai, dan pengalaman juga memengaruhi cara seseorang merespons situasi sosial. Kurangnya kesadaran emosional menyebabkan pesan sederhana berubah menjadi konflik. Teman bisa merasa tidak dihargai meski niat kita sebenarnya baik.
Untuk mencegah konflik dan membangun hubungan sehat, kita perlu memahami konsep sensitivitas interpersonal. Sensitivitas interpersonal adalah kemampuan membaca, memahami, dan merespons kebutuhan emosional orang lain secara tepat. Konsep ini dijelaskan Brian Spitzberg dalam Interpersonal Skills (2015). Menurutnya, sensitivitas interpersonal bukan hanya soal baik hati, tetapi juga kemampuan teknis berkomunikasi. Remaja yang peka dapat menangkap perubahan ekspresi kecil yang menunjukkan perasaan teman. Dengan begitu mereka dapat menyesuaikan perilaku agar interaksi tetap aman dan hangat.
Membangun sensitivitas interpersonal membutuhkan usaha sadar. Proses ini melibatkan pengamatan teliti terhadap bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah. Albert Mehrabian dalam Silent Messages (1971) menjelaskan bahwa sebagian besar pesan emosional disampaikan lewat komunikasi nonverbal. Remaja yang menyadari hal ini lebih mampu memahami teman meski tanpa kata. Misalnya, mereka dapat menyadari saat teman sedang lelah meski tetap tersenyum. Sikap peka semacam ini menciptakan hubungan yang lebih mendalam dan saling mendukung.
Selain memahami ekspresi, remaja perlu belajar mengelola reaksi diri terhadap situasi sosial. Kesadaran diri menjadi aspek penting dalam sensitivitas interpersonal. Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence (1995) menegaskan bahwa memahami emosi pribadi meningkatkan kemampuan mengelola interaksi. Remaja yang mampu mengenali rasa marah atau kecewa akan lebih mudah menahan diri. Mereka dapat memilih cara merespons agar hubungan tetap terjaga. Hal ini membantu menghindari pertengkaran yang sebenarnya bisa dicegah.
Salah satu cara meningkatkan sensitivitas interpersonal adalah dengan menerapkan metode โempat detik jedaโ. Teknik ini diperkenalkan oleh psikolog Kristin Neff dalam Self Compassion (2011). Caranya sangat sederhana. Ketika ingin menanggapi teman, tahan diri empat detik sebelum berbicara. Jeda singkat itu memberikan ruang bagi otak untuk meredakan impuls. Hasilnya, respons menjadi lebih bijak dan tidak melukai perasaan orang lain. Teknik ini sangat efektif bagi remaja yang mudah bereaksi spontan.
Cara lain adalah menggunakan pendekatan refleksi dialogis yang diperkenalkan Carl Rogers dalam On Becoming a Person (1961). Dalam metode ini, seseorang mengulangi inti perkataan teman untuk memastikan pemahaman. Teknik ini memperlihatkan perhatian dan empati. Misalnya, saat teman berkata mereka lelah mengerjakan tugas, kita merespons dengan mengatakan kita memahami tekanan yang mereka rasakan. Sikap ini menunjukkan penerimaan tanpa menghakimi. Pendekatan Rogers membantu menciptakan ruang aman dalam pertemanan.
Kita juga dapat menciptakan solusi kreatif pada situasi yang mudah memicu kesalahpahaman. Salah satu solusi adalah membuat kesepakatan komunikasi bersama. Kesepakatan ini berisi aturan yang disetujui dua pihak. Misalnya, tidak saling mengabaikan pesan lebih dari sehari tanpa penjelasan. Aturan sederhana seperti itu membantu mencegah asumsi negatif. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Amy Edmondson dalam The Fearless Organization (2018). Ia menjelaskan bahwa rasa aman dalam komunikasi meningkatkan kualitas hubungan.
Contoh nyata penerapan sensitivitas interpersonal dapat terlihat dalam kehidupan sekolah. Ketika seorang teman tampak pendiam pada hari tertentu, kita bisa menanyakan kabarnya dengan lembut. Kita tidak memaksa bercerita jika ia tidak siap. Sikap peka seperti ini membuat teman merasa dihargai. Contoh lain muncul saat kerja kelompok. Anggota yang peka dapat mengajak semua teman berpendapat. Mereka memastikan tidak ada yang terabaikan. Tindakan kecil ini meningkatkan keharmonisan dan kesuksesan kerja tim.
Dalam kehidupan sehari hari, sensitivitas interpersonal juga dapat diterapkan di rumah. Kita dapat memperhatikan suasana hati orang tua sebelum meminta sesuatu. Jika orang tua terlihat lelah, remaja bisa menunda permintaan dan menawarkan bantuan kecil. Contoh lainnya adalah memahami batas kenyamanan teman saat bercanda. Tidak semua orang nyaman dengan candaan pribadi. Sensitivitas seperti ini membuat hubungan terasa aman dan menyenangkan. Kebiasaan peka menjadikan seseorang lebih disukai dalam lingkungan sosial.
Sensitivitas interpersonal bukan hanya tentang memahami orang lain. Sensitivitas interpersonal adalah tentang membangun hubungan yang membuat semua pihak berkembang. Remaja yang peka lebih mudah mendapatkan teman yang sehat dan suportif. Kemampuan ini membantu kita melewati masa sulit tanpa merasa sendirian. Dengan mempraktikkan empati, kesadaran diri, dan teknik komunikasi yang tepat, pertemanan menjadi ruang tumbuh yang positif. Hubungan yang baik adalah tempat di mana kita dapat merasa aman dan dihargai.

