Konten dari Pengguna
Besi dari Langit: Kisah Keren Asal-Usul Logam Paling Penting di Bumi
8 Januari 2026 16:57 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Besi dari Langit: Kisah Keren Asal-Usul Logam Paling Penting di Bumi
Besi bukan sekadar logam biasa. Ia adalah saksi bisu sejarah kosmik, perjalanan tata surya, dan perkembangan peradaban manusia. Fabian Satya Rabani
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sahabat Kumparan, pernah tidak sih berhenti sejenak dan berpikir dari mana asal besi yang ada di sekeliling kita? Dari pagar rumah, sepeda motor, rel kereta, sampai gedung pencakar langit, semuanya akrab dengan besi. Kita sering menganggapnya biasa, padahal cerita di balik logam satu ini jauh dari kata biasa.
Besi bukan sekadar hasil tambang dan pabrik, tetapi memiliki sejarah panjang yang melibatkan langit, bintang, dan peristiwa kosmik miliaran tahun lalu. Bisa dibilang, besi adalah oleh-oleh semesta untuk Bumi dan manusia.
Secara ilmiah, besi dikenal sebagai ferrum dengan simbol Fe dan nomor atom 26 dalam tabel periodik. Menurut Encyclopaedia Britannica, besi merupakan unsur keempat paling melimpah di kerak Bumi setelah oksigen, silikon, dan aluminium. Kelimpahan ini menjadikan besi sebagai logam yang sangat strategis bagi kehidupan manusia.
Namun, melimpah bukan berarti mudah ditemukan dalam bentuk siap pakai. Di alam, besi hampir tidak pernah hadir sebagai logam murni, melainkan terikat dengan unsur lain dalam bentuk bijih seperti hematit, magnetit, dan siderit.
Bijih-bijih besi inilah yang selama ribuan tahun menjadi sumber utama logam besi dunia. Data dari United States Geological Survey (USGS) menunjukkan bahwa hampir seluruh produksi besi modern berasal dari bijih yang harus ditambang dan diolah melalui proses metalurgi.
Bijih tersebut dihancurkan, dipanaskan, direduksi, dan dimurnikan sebelum akhirnya menjadi besi atau baja yang siap digunakan. Dari proses ini terlihat bahwa besi yang kita pakai hari ini adalah hasil kerja panjang manusia, teknologi, dan ilmu pengetahuan.
Meski proses pengolahannya rumit, besi tetap menjadi tulang punggung peradaban. Sejarawan dan pakar energi Vaclav Smil, dalam berbagai kajiannya tentang peradaban modern, menyebut besi sebagai fondasi dunia industri karena hampir semua sistem penting—mulai dari pertanian, konstruksi, hingga transportasi—bergantung padanya. Tanpa besi, perkembangan kota, teknologi, dan mobilitas manusia akan berjalan jauh lebih lambat.
Peran besar besi mulai terasa kuat sekitar 1200–500 sebelum Masehi, periode yang dikenal sebagai Zaman Besi. Pada masa ini, manusia mulai meninggalkan perunggu dan beralih ke besi sebagai bahan utama alat dan senjata. Alasannya sederhana: besi lebih kuat dan jauh lebih melimpah. Peralihan ini bukan hanya soal material, tetapi juga soal kekuasaan dan teknologi.
Kelompok masyarakat yang menguasai teknologi pengolahan besi cenderung unggul dalam pertanian, peperangan, dan pembangunan, sehingga mampu mengubah arah sejarah peradaban.
Di balik semua keunggulan itu, besi menyimpan fakta unik. Besi murni hampir tidak pernah ditemukan secara alami di permukaan Bumi. Lingkungan Bumi yang kaya oksigen dan air membuat besi sangat mudah teroksidasi. Begitu bereaksi dengan oksigen, besi berubah menjadi oksida besi atau karat. Karena itulah, besi di alam lebih sering muncul sebagai mineral, bukan sebagai logam murni yang mengilap.
Menariknya, gagasan tentang asal-usul besi sudah lama muncul dalam teks keagamaan. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hadid ayat 25, besi disebut sebagai sesuatu yang “diturunkan”. Sejumlah ilmuwan modern melihat ungkapan ini sejalan dengan temuan kosmologi.
Menurut penjelasan resmi dari NASA, unsur besi terbentuk di inti bintang masif dan dilepaskan ke ruang angkasa melalui ledakan supernova. Lingkungan kosmik yang minim oksigen memungkinkan besi terbentuk dan bertahan dalam kondisi murni.
Bukti paling nyata tentang besi dari luar angkasa dapat dilihat pada meteorit besi yang jatuh ke Bumi. Catatan dari Natural History Museum London menyebutkan bahwa meteorit besi mengandung besi dan nikel dalam kadar tinggi, dengan kandungan nikel yang bisa mencapai sekitar 20 persen. Komposisi ini membuat meteorit besi sangat berat, bersifat magnetik, dan memiliki struktur khas yang berbeda dari batuan Bumi.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa meteorit besi berasal dari planetesimal purba yang terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Dalam teori pembentukan planet, planetesimal mengalami diferensiasi, di mana logam berat seperti besi dan nikel tenggelam ke inti. Ketika planetesimal tersebut hancur akibat tabrakan kosmik, inti logamnya terlepas dan melayang di angkasa sebagai meteoroid, lalu sebagian jatuh ke Bumi sebagai meteorit.
Saat memasuki atmosfer Bumi, meteoroid mengalami gesekan hebat yang menghasilkan panas ekstrem dan membentuk lapisan hitam tipis yang disebut fusion crust. Permukaannya sering memiliki lekukan khas seperti bekas jari, yang dikenal sebagai regmaglypts. Ciri-ciri inilah yang membuat meteorit besi relatif mudah dikenali oleh para peneliti.
Menarinya, manusia purba sudah memanfaatkan besi meteorit jauh sebelum mengenal teknologi peleburan. Penelitian yang dikurasi oleh British Museum menunjukkan bahwa beberapa artefak Mesir kuno, termasuk perhiasan dan senjata ritual, dibuat dari besi meteorit.
Sahabat Kumparan, dari kisah ini kita dapat melihat bahwa besi bukan sekadar logam biasa. Ia adalah saksi bisu sejarah kosmik, perjalanan tata surya, dan perkembangan peradaban manusia. Setiap paku, jembatan, dan rel kereta yang kita lihat hari ini menyimpan jejak ledakan bintang miliaran tahun lalu.
Besi mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia di Bumi sangat terhubung dengan semesta, dan bahwa hal-hal paling sederhana di sekitar kita sering kali memiliki cerita yang paling luar biasa.
Daftar Pustaka
Britannica. (2023). Iron (chemical element). Encyclopaedia Britannica.
NASA. (2022). The origin of elements. National Aeronautics and Space Administration.
Natural History Museum. (2021). Iron meteorites. London: Natural History Museum.
United States Geological Survey. (2023). Iron ore statistics and information. USGS.

