Konten dari Pengguna

Dari Sabak ke Laptop: Kisah Panjang Sekolah di Indonesia

Fabian Satya Rabani
Pelajar di SMA Talenta Bandung. Lebih 10 judul buku fiksi dan nonfiksi telah diterbitkan.Tulisan juga dimuat di Kumparan, Kompas Muda, GNFI, Jurnalis.org, Kompasiana, Indonesiana, Netralnews.com, dll. IG: @satya-rabani
18 Desember 2025 11:18 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Sabak ke Laptop: Kisah Panjang Sekolah di Indonesia
Murid zaman kolonial harus menulis menggunakan sabak yang dihapus setiap pelajaran. Mereka belajar tanpa buku tulis permanen dan fasilitas memadai.
Fabian Satya Rabani
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Museum Pendidikan Nasional dibangun sebagai lembaga pelestarian sejarah pendidikan berskala nasional (Foto: koleksi penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Museum Pendidikan Nasional dibangun sebagai lembaga pelestarian sejarah pendidikan berskala nasional (Foto: koleksi penulis)
Pernahkah kamu membayangkan belajar tanpa buku tulis, pulpen, atau gawai digital? Pertanyaan ini membawa kita menelusuri sejarah panjang pendidikan Indonesia. Sejarah tersebut dapat ditemukan di Museum Pendidikan Nasional, sebuah museum khusus yang terletak di Kota Bandung, Jawa Barat. Museum ini berada di kompleks Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI, kampus yang sejak awal dikenal sebagai pusat pendidikan guru. Keberadaan museum ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas sekolah, melainkan fondasi penting perjalanan bangsa.
Museum Pendidikan Nasional dibangun sebagai lembaga pelestarian sejarah pendidikan berskala nasional. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, museum ini berfungsi menyimpan memori kolektif pendidikan Indonesia. Bangunan museum dirancang untuk mengoleksi, merawat, dan menyampaikan kisah perkembangan pendidikan secara sistematis. Museum ini menjadi saksi perubahan cara manusia belajar, dari tradisional hingga modern. Ia menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan pendidikan bangsa.
“Hall of fame” tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan pendidikan di Indonesia (Foto: koleksi penulis)
Istilah “pendidikan” berarti proses pembelajaran untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Ki Hadjar Dewantara menjelaskan pendidikan sebagai upaya menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Sementara itu, kata “nasional” menegaskan cakupan cerita pendidikan dari seluruh wilayah Indonesia. Museum ini tidak hanya menampilkan sejarah lokal, tetapi membangun narasi pendidikan bangsa secara menyeluruh. Dengan demikian, museum ini berfungsi sebagai cermin perjalanan nasional.
Gagasan pendirian Museum Pendidikan Nasional lahir dari kesadaran UPI sebagai institusi pendidikan guru tertua. UPI menyadari bahwa sejarah pendidikan perlu dilestarikan sebagai sumber pembelajaran generasi muda. Informasi dari laman resmi Museum Pendidikan Nasional menyebutkan ide ini muncul pada awal dekade 2010-an. Gedung museum sebelumnya bernama Pentagon dan berfungsi sebagai fasilitas kampus. Bangunan tersebut kemudian dirobohkan untuk memberi ruang bagi museum baru yang lebih representatif.
Peletakan batu pertama pembangunan museum dilakukan pada 20 Mei 2013. Tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional yang sarat makna historis. Museum kemudian diresmikan pada 2 Mei 2015, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Peresmian dilakukan oleh Rektor UPI bersama Gubernur Jawa Barat saat itu. Momentum ini menegaskan museum sebagai simbol kesadaran sejarah pendidikan bangsa.
Museum Pendidikan Nasional tidak didirikan sekadar sebagai bangunan penyimpan artefak lama. Tujuan utamanya adalah menjadi pusat studi sejarah pendidikan Indonesia. Museum ini berfungsi sebagai sarana edukasi, penelitian, dan referensi bagi pelajar, guru, dan masyarakat umum. Selain itu, museum dirancang sebagai ruang rekreasi edukatif. Konsep ini sejalan dengan pandangan Eilean Hooper-Greenhill yang menekankan museum sebagai ruang dialog publik.
Koleksi alat tulis pada zaman kolonialisme (Foto: koleksi penulis)
Koleksi Museum Pendidikan Nasional sangat beragam dan kronologis. Pengunjung dapat melihat artefak tulisan pada batu dan daun lontar dari masa praaksara. Koleksi tersebut menunjukkan awal literasi masyarakat Nusantara. Perkembangan media tulis berlanjut pada penggunaan tinta, bulu, dan kertas. Sejarawan Anthony Reid menyebut literasi sebagai fondasi penting pembentukan peradaban Asia Tenggara. Perubahan alat tulis mencerminkan dinamika pendidikan yang terus berkembang.
Museum juga menampilkan diorama pendidikan berbasis agama dan kerajaan. Selain itu, terdapat representasi sekolah kolonial Belanda yang bersifat diskriminatif. Pengunjung dapat melihat dokumentasi sekolah HIS, MULO, dan AMS. Sistem ini menunjukkan pendidikan kolonial yang membedakan akses berdasarkan status sosial. Koleksi diperkuat dengan arsip ijazah, raport, dan seragam sekolah. Semua ditampilkan dengan narasi kontekstual yang mudah dipahami pelajar.
Setiap lantai museum disusun berdasarkan tema sejarah tertentu. Lantai dasar menggambarkan pendidikan praaksara dan pendidikan berbasis agama. Lantai berikutnya menampilkan pendidikan masa kolonial, pendudukan Jepang, dan pergerakan nasional. Transisi menuju pendidikan nasional pascakemerdekaan dijelaskan secara runtut. Terdapat pula ruang khusus yang menggambarkan sejarah pendidikan guru. Ruang ini menegaskan peran strategis guru dalam pembangunan bangsa.
Museum membantu kita memahami betapa berat perjuangan mendapatkan pendidikan pada masa lalu. Murid zaman kolonial harus menulis menggunakan sabak yang dihapus setiap pelajaran. Mereka belajar tanpa buku tulis permanen dan fasilitas memadai. Menurut Tilaar, kondisi ini mencerminkan ketimpangan struktural pendidikan kolonial. Pemahaman ini menumbuhkan rasa syukur atas fasilitas pendidikan saat ini.
Museum ini juga menampilkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara mendapat posisi utama sebagai pelopor pendidikan nasional. Ia memperjuangkan pendidikan berbasis kemerdekaan berpikir dan kebudayaan bangsa. Tokoh lain seperti R.M. Tirto Adhi Soerjo juga ditampilkan sebagai penggerak kesadaran literasi. Mereka membuktikan bahwa pendidikan adalah alat pembebasan. Museum ini menghidupkan kembali semangat perjuangan para tokoh tersebut.
Penelitian dalam Ejournal UPI menyarankan integrasi kunjungan museum dengan kurikulum sekolah. Museum dapat mengembangkan tur virtual dan media interaktif digital. Humas UPI menyebut digitalisasi koleksi meningkatkan minat generasi muda. Promosi kreatif melalui media sosial juga penting dilakukan. Dengan langkah ini, museum dapat menjadi ruang belajar favorit pelajar.
Museum Pendidikan Nasional layak dijadikan destinasi belajar sejarah Indonesia. Museum ini bukan hanya menyimpan benda lama, tetapi merangkai kisah perjuangan bangsa melalui pendidikan. Kunjungan ke museum memperluas wawasan dan kesadaran sejarah. Museum juga menginspirasi generasi muda untuk terus belajar dan berkarya. Mari jadikan museum sebagai bagian pengalaman belajar di luar kelas. Dengan memahami sejarah pendidikan, kita sedang menyiapkan masa depan bangsa.
Trending Now