Konten dari Pengguna
Dari Walang Hingga Paniki: Kuliner Uji Nyali?
15 Desember 2025 16:29 WIB
ยท
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Dari Walang Hingga Paniki: Kuliner Uji Nyali?
Banyak orang menganggapnya aneh, menakutkan, bahkan menjijikkan. Padahal di balik itu yang tak biasa, terdapat kisah panjang tentang bagaimana masyarakat bertahan hidup dalam kondisi sulit.Fabian Satya Rabani
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia mempunyai banyak cerita unik soal makanan. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki kuliner yang bisa membuat orang luar tercengang. Salah satunya adalah makanan ekstrem. Banyak orang menganggapnya aneh, menakutkan, bahkan menjijikkan. Padahal di balik bentuk dan jenisnya yang tak biasa, terdapat kisah panjang tentang bagaimana masyarakat bertahan hidup dalam kondisi sulit. Badan Pangan Dunia FAO pernah menjelaskan bahwa serangga dapat menjadi solusi krisis pangan global karena kandungan proteinnya sangat tinggi (Edible Insects, 2013). Pernyataan ini seolah menegaskan bahwa apa yang dianggap โekstremโ oleh sebagian orang, justru merupakan bentuk kecerdasan lokal.
Fenomena ini terlihat jelas belakangan ini ketika muncul unggahan warga Gunungkidul tentang menu sehari-hari mereka. Ada yang mengaku pernah diejek karena makan walang goreng. Ada pula yang cerita tentang masa kecilnya ketika harus berburu laron saat musim hujan. Di wilayah karst seperti Gunungkidul, panen tidak selalu berhasil. Tanah yang keras dan kering membuat warga harus memutar otak. Mereka memanfaatkan apa pun yang tersedia di alam. Kebiasaan itu kemudian turun dari generasi ke generasi dan menjadi bagian penting identitas kuliner mereka.
Makanan Ekstrem Gunung Kidul: Dari Laron Sampai Codot Bacem
Jika kita berkunjung ke Gunungkidul, makanan ekstrem bukan lagi sekadar cerita. Banyak warung dan UMKM menjadikannya menu istimewa. Walang goreng misalnya, kini sudah masuk toko oleh-oleh dan bisa dibeli dalam kemasan modern. Rasanya renyah dan gurih, sering disamakan dengan udang goreng. Lalu ada putul, sejenis kumbang kecil yang muncul saat awal musim hujan. Warga biasanya mengumpulkannya dari tanah basah lalu mengolahnya dengan sambal pedas.
Yang paling sering disebut adalah ulat jati, atau ungkrung, yang ditemukan di sekitar pohon jati. Bentuknya memang membuat banyak orang mundur selangkah. Namun setelah diolah dengan bumbu bawang dan sereh, rasanya gurih dan agak wangi. Banyak wisatawan penasaran datang hanya untuk mencobanya. Di beberapa desa, ulat jati dianggap lauk istimewa karena tidak selalu tersedia atau musiman.
Ada juga makanan lain yang lebih ekstrem lagi yaitu codot bacem, atau kelelawar yang dimasak dengan bumbu manis gurih khas Jawa. Warga percaya bahwa masakan ini baik untuk kesehatan pernapasan. Meskipun tidak semua orang berani mencobanya, makanan ini tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner Gunungkidul. Bahkan beberapa dapur keluarga masih mempertahankan resep warisan orang tua mereka.
Tidak hanya serangga dan hewan liar, sayuran tradisional yang diawetkan secara sederhana juga masuk kategori khas Gunungkidul. Misalnya sayur lombok atau gudeg yang dipanaskan berhari-hari agar tahan lama. Makanan seperti ini memperlihatkan bagaimana warga beradaptasi dengan kondisi minim peralatan penyimpanan.
Makanan Ekstrem Manado: Rica-Rica dari Alam Liar Minahasa
Jika Gunungkidul terkenal dengan serangga, Manado menawarkan kisah berbeda. Masyarakat Minahasa dikenal punya selera makan yang berani dan kreatif. Mereka terbiasa memanfaatkan satwa liar dari hutan. Tradisi ini lahir sejak masa penjajahan Jepang ketika warga kesulitan mendapatkan bahan makanan. Mereka harus mencari sumber protein lain di hutan, dan akhirnya terbentuklah tradisi yang bertahan hingga sekarang.
Yang paling terkenal adalah paniki, yaitu daging kelelawar yang dibakar dulu untuk menghilangkan bulu, lalu dimasak dengan bumbu santan atau rica. Aromanya kuat, khas, dan sangat berbeda dari daging lain. Masyarakat setempat percaya paniki dapat meningkatkan stamina.
Menu lainnya adalah kawok, sejenis tikus hutan berekor putih yang hidup di kebun kelapa. Dagingnya halus dan berserat lembut. Ada pula patola, yaitu ular piton yang dimasak rica pedas. Daging patola dikenal kenyal dan gurih. Biawak juga sering diolah menjadi rica-rica atau kuah santan. Rasanya mirip ayam tapi lebih padat.
Menu ekstrem lain yang bisa ditemui pada momen tertentu adalah sate keong emas, olahan kelelawar air, atau berbagai jenis burung hutan yang sudah turun-temurun menjadi bagian dari hidangan tradisional masyarakat Minahasa. Sebagian makanan ini hanya dijual di tempat tertentu, seperti Pasar Beriman Tomohon, yang dikenal sebagai pusat kuliner ekstrem di Sulawesi Utara.
Mengapa Disebut Ekstrem?
Istilah โekstremโ sebenarnya berasal dari pandangan orang luar. Bagi masyarakat Gunungkidul atau Minahasa, makanan itu tidak ekstrem sama sekali. Itu hanya makanan biasa yang sudah lama hidup bersama mereka. Ahli antropologi Claude Lรฉvi-Strauss pernah menjelaskan bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang kita makan. Makanan adalah simbol budaya, identitas, dan cara manusia memaknai hidup (The Culinary Triangle, 1966).
Jika kita mengikuti logikanya, julukan ekstrem muncul bukan karena makanan itu aneh, tetapi karena kita tidak tahu ceritanya. Kita belum memahami sejarah, kondisi, dan nilai budaya yang menyertainya. Maka tidak mengherankan jika sebagian besar warga Gunungkidul atau Manado tersenyum saja ketika makanannya disebut ekstrem. Itu seperti orang Jawa disebut aneh hanya karena makan tempe yang difermentasi berhari-hari, padahal tempe sekarang jadi kebanggaan nasional.
Manfaat Nutrisi yang Sering Terabaikan
Ketika kita melihat lebih dalam, makanan ekstrem justru memiliki manfaat besar bagi tubuh. FAO (2013) mencatat bahwa serangga mengandung protein hingga 60 persen berat keringnya. Belalang Gunungkidul juga teruji mengandung asam amino esensial yang penting bagi tubuh manusia (Suwito, Studi Kandungan Protein Belalang, 2019). Serangga tidak hanya tinggi protein, tetapi juga rendah lemak dan ramah lingkungan.
Beberapa hewan liar yang dikonsumsi masyarakat Minahasa memiliki kandungan zat besi, mineral, dan lemak sehat yang baik bagi tubuh ketika diolah dengan benar. Banyak warga Minahasa percaya paniki membantu menjaga energi dan kesehatan tubuh. Tradisi ini lahir dari pengamatan nenek moyang mereka terhadap alam sekitar.
Menghapus Stigma
Sayangnya makanan ekstrem masih sering dianggap berbahaya atau โjorokโ oleh masyarakat luas. Padahal banyak makanan modern pun tidak selalu aman jika tidak diolah dengan benar. Stigma itu muncul karena kurangnya edukasi dan informasi. Banyak orang hanya menilai dari bentuk dan penampilan tanpa memahami sejarahnya.
Edukasi bisa dimulai dengan memperkenalkan proses memasak yang benar. Konten dokumenter, festival budaya, dan program sekolah dapat memperlihatkan bahwa makanan ekstrem bukan sekadar sensasi. Di dalamnya ada nilai sejarah dan ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari. Cerita tentang paceklik di Gunungkidul atau masa sulit di Minahasa bisa membuat orang memahami bahwa makanan ekstrem adalah wujud adaptasi, bukan sekadar hobi makan aneh.
Inovasi Kreatif untuk Pangan Masa Depan
Zaman berubah dan tradisi kuliner juga harus beradaptasi. Serangga, misalnya, bisa diolah menjadi tepung kaya protein yang ramah lingkungan. Tepung itu bisa dijadikan roti, mie, atau camilan sehat. Halloran menjelaskan bahwa serangga adalah sumber protein yang hemat energi dan ramah lingkungan ( Insects in Sustainable Food Systems, 2020).
Manado juga dapat mengembangkan inovasi pada bumbu rica khas mereka tanpa perlu bergantung pada satwa yang kini masuk kategori dilindungi. Inovasi ini membuat tradisi tetap hidup tapi tidak mengancam keberlanjutan satwa liar.
Jika kita perhatikan, kedua daerah ini punya cerita yang mirip. Keduanya hidup di wilayah dengan kondisi alam yang tidak selalu ramah. Gunungkidul punya tanah karst yang keras dan kering. Minahasa menghadapi masa sulit pada periode kolonial dan perang. Dalam kondisi seperti itu, warga mencari sumber nutrisi dari alam sekitar. Mereka belajar dari lingkungan dan menciptakan tradisi pangan yang unik.
Baik serangga di Gunungkidul maupun satwa liar di Minahasa adalah contoh nyata bagaimana masyarakat menggunakan kearifan lokal untuk bertahan hidup. Mereka memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia dan menciptakan sistem kuliner yang efisien, hemat energi, dan berbasis alam.
FAO menyebutkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal menyediakan makanan. Ketahanan pangan juga berarti memahami potensi lokal dan menjaga keberlanjutan pangan secara ekologis (The State of Food Security, 2022). Dengan kata lain, apa yang dilakukan warga Gunungkidul dan Minahasa sejak dulu, kini justru dianggap sebagai praktik pangan masa depan.
Makanan ekstrem bukan sekadar tontonan atau sensasi. Makanan ekstrem adalah warisan budaya yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat menghadapi alam yang keras. Di dalamnya ada ilmu pengetahuan, ada kecerdasan lokal, dan ada nilai ketahanan pangan yang penting bagi masa depan. Kita belajar bahwa ketahanan pangan masa depan tidak selalu harus datang dari teknologi canggih. Kadang jawabannya justru sudah ada lama dalam tradisi kita sendiri.

