Konten dari Pengguna

Mandala Wangsit Siliwangi: Amanat Perjuangan yang Tidak Pernah Diam

Fabian Satya Rabani
Pelajar di SMA Talenta Bandung. Lebih 10 judul buku fiksi dan nonfiksi telah diterbitkan.Tulisan juga dimuat di Kumparan, Kompas Muda, GNFI, Jurnalis.org, Kompasiana, Indonesiana, Netralnews.com, dll. IG: @satya-rabani
16 Desember 2025 12:06 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mandala Wangsit Siliwangi: Amanat Perjuangan yang Tidak Pernah Diam
Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah amanat sejarah yang harus dijaga bersama. Di dalamnya tersimpan pesan para pejuang yang rela mengorbankan segalanya demi Indonesia merdeka.
Fabian Satya Rabani
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gedung Museum Mandala Wangsit Siliwangi tahun 1979 (Foto: Dok. Perpustakaan Nasional)
zoom-in-whitePerbesar
Gedung Museum Mandala Wangsit Siliwangi tahun 1979 (Foto: Dok. Perpustakaan Nasional)
Di jantung Kota Bandung, di antara gedung perkantoran dan lalu lintas yang padat, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan gema sejarah panjang bangsa Indonesia. Bangunan itu adalah Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang beralamat di Jalan Mayor Lembong Nomor 38, Bandung, Jawa Barat. Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama, melainkan ruang ingatan yang menyatukan darah, pengorbanan, dan amanat perjuangan generasi terdahulu.
Gedung yang kini menjadi Museum Mandala Wangsit Siliwangi sejatinya telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Berdasarkan catatan sejarah, bangunan ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1910 hingga 1915 dan difungsikan sebagai rumah dinas serta kantor perwira militer Belanda di Bandung. Arsitektur kolonial yang masih tampak hingga kini menunjukkan bahwa bangunan tersebut dahulu merupakan simbol kekuasaan dan kontrol pemerintah kolonial di wilayah Priangan.
Rehabilitasi dan penataan Museum Mandala Wangsit Siliwangi tahun 1990 (Foto: koleksi penulis)
Pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945, gedung ini kembali mengalami perubahan fungsi. Jepang memanfaatkannya sebagai fasilitas militer dan logistik, seiring dengan upaya mempertahankan kekuasaannya di wilayah Jawa Barat. Situasi ini menjadikan bangunan tersebut sebagai salah satu titik strategis dalam dinamika militer di Bandung sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia (Pikiran Rakyat, Jejak Bangunan Kolonial di Bandung, 2018).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, bangunan di Jalan Lembong ini diambil alih oleh Tentara Nasional Indonesia. Gedung tersebut kemudian dijadikan markas Divisi Siliwangi, salah satu divisi TNI yang memiliki peran penting dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di wilayah Jawa Barat dan Banten. Divisi Siliwangi dikenal sebagai pasukan yang disiplin, setia, dan memiliki ikatan kuat dengan rakyat.
Namun, sejarah tidak selalu berjalan tenang. Pada 23 Januari 1950, gedung markas Divisi Siliwangi menjadi saksi salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah militer Indonesia, yaitu serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Pasukan APRA yang dipimpin oleh Raymond Westerling menyerang markas Siliwangi dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat dan merebut kekuasaan di Jawa Barat.
Serangan tersebut terjadi pada pagi hari dan berlangsung cepat serta brutal. Puluhan prajurit TNI gugur dalam peristiwa itu. Salah satu korban paling dikenal adalah Letnan Kolonel Adolf Lembong, seorang perwira Divisi Siliwangi yang gugur bersama sekitar 79 prajurit lainnya (ANTARA News, Peristiwa APRA dan Gugurnya Letkol Adolf Lembong, 2020). Gugurnya Letkol Lembong menjadi simbol pengorbanan besar pasukan Siliwangi dalam mempertahankan negara yang baru berdiri.
Pintu Masuk Gedung Museum Mandala Wangsit Siliwangi tahun 2025 (Foto: dokumen penulis)
Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasanya, pemerintah kemudian mengabadikan nama Adolf Lembong sebagai nama jalan tempat gedung tersebut berada. Jalan yang sebelumnya bernama Oude Hospitaalweg pada masa kolonial Belanda resmi berganti menjadi Jalan Lembong. Perubahan nama ini menegaskan bahwa ruang publik pun dapat menjadi media pengingat sejarah perjuangan.
Kesadaran akan pentingnya merawat memori perjuangan mendorong TNI untuk mengubah markas bersejarah ini menjadi museum. Pada 23 Mei 1966, Panglima Divisi Siliwangi ke-8, Kolonel Ibrahim Adjie, meresmikan bangunan ini sebagai Museum Mandala Wangsit Siliwangi (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Profil Museum Mandala Wangsit Siliwangi, 2020). Nama β€œMandala Wangsit” dipilih dari bahasa Sanskerta yang berarti tempat menyimpan amanat, pesan, dan nasihat luhur bagi generasi penerus.
Nama β€œSiliwangi” sendiri diambil dari Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran yang dikenal bijaksana, adil, dan berwibawa. Nilai-nilai kepemimpinan Prabu Siliwangi dianggap sejalan dengan semangat Divisi Siliwangi, sehingga nama tersebut dijadikan simbol moral perjuangan. Dengan demikian, museum ini bukan hanya menyimpan benda sejarah, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi kepemimpinan.
Pada akhir dekade 1970-an, kondisi bangunan museum mulai mengalami kerusakan akibat usia. Oleh karena itu, pada tahun 1979 dilakukan pemugaran besar-besaran dengan dukungan pemerintah pusat. Pemugaran ini dilaporkan secara resmi dalam harian Angkatan Bersenjata edisi 29 Mei 1979 dan melibatkan bantuan Presiden Soeharto serta Gubernur Jawa Barat H.A. Kunaefi (Laporan Pemugaran Museum Mandala Wangsit Siliwangi, 1979). Setelah renovasi selesai, museum diresmikan kembali pada tahun 1980 oleh Presiden Soeharto.
Saat ini, Museum Mandala Wangsit Siliwangi menyimpan lebih dari 1.400 koleksi asli yang memiliki nilai sejarah tinggi. Koleksi tersebut mencakup senjata tradisional seperti kujang, keris, tombak, dan panah, serta senjata modern seperti senapan, granat, dan perlengkapan tempur lainnya. Selain itu, museum juga menyimpan seragam militer, peta operasi, dokumen resmi, uang kuno, dan foto-foto peristiwa perjuangan.
Museum ini juga menampilkan diorama dan dokumentasi peristiwa besar, seperti Bandung Lautan Api 1946, perjuangan melawan DI/TII di Jawa Barat, serta peristiwa APRA tahun 1950. Penyajian koleksi dilakukan secara tematis dan kronologis agar pengunjung dapat memahami alur sejarah secara utuh. Dengan cara ini, museum berfungsi sebagai ruang belajar sejarah yang konkret dan visual.
Bagi generasi muda, Museum Mandala Wangsit Siliwangi memiliki makna yang sangat penting. Museum ini mengajarkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Melalui artefak nyata, nilai keberanian, ketulusan, dan nasionalisme dapat dipahami secara lebih mendalam.
Namun, tantangan besar yang dihadapi museum ini adalah rendahnya minat kunjungan generasi muda. Penelitian yang dilakukan oleh Telkom University menunjukkan bahwa kurangnya promosi dan pendekatan kreatif menjadi penyebab utama rendahnya kunjungan museum sejarah Padahal, museum ini memiliki potensi besar sebagai sarana pembelajaran kontekstual.
Untuk meningkatkan daya tarik, museum perlu mengembangkan strategi berbasis teknologi digital. Pemanfaatan media sosial, tur virtual, pameran interaktif, dan kegiatan kolaboratif dengan sekolah serta komunitas sejarah dapat menjadi solusi efektif. Dengan pendekatan yang tepat, museum dapat menjadi ruang belajar yang hidup dan relevan.
Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah amanat sejarah yang harus dijaga bersama. Di dalamnya tersimpan pesan para pejuang yang rela mengorbankan segalanya demi Indonesia merdeka. Mengunjungi museum ini berarti membuka kembali lembaran sejarah bangsa dan belajar menghargai kemerdekaan yang kini kita nikmati. Dari Bandung, amanat perjuangan itu terus berbicara kepada generasi Indonesia hari ini dan masa depan.
Daftar Pustaka
Angkatan Bersenjata. 1979. Museum Mandala Wangsit Siliwangi Dipugar. Jakarta: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Antara News Jawa Barat. 2023. "Belajar Sejarah Perjuangan di Museum Mandala Wangsit Siliwangi". Bandung: Perum LKBN Antara.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2021. Profil Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Jakarta: Direktorat Pelindungan Kebudayaan.
Pikiran Rakyat. 2022. "Museum Mandala Wangsit Siliwangi dan Sejarah Peristiwa APRA". Bandung: Pikiran Rakyat Media Network.
Telkom University Open Library. 2018. "Perancangan Media Informasi Wisata Museum Mandala Wangsit Siliwangi Kota Bandung". Bandung: Telkom University.
Trending Now