Konten dari Pengguna

Ilusi Kredibilitas Influencer Halal

Sawqi Saad El Hasan
Dosen Manajemen Bisnis Syariah STEBIS Bina Mandiri Cileungsi dan Konsultan Produk Halal di Universitas Indonesia Halal Center
4 September 2025 18:50 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ilusi Kredibilitas Influencer Halal
Kredibilitas influencer halal mendorong penjualan? Apakah benar begitu? #userstory
Sawqi Saad El Hasan
Tulisan dari Sawqi Saad El Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi foto makanan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto makanan. Foto: Shutterstock
Di panggung gemerlap industri halal digital, ada satu komoditas yang dijual lebih mahal daripada produk manapun, yaitu ilusi. Ilusi bahwa kredibilitas seorang pemengaruh (influencer) otomatis berarti etika, kualitas dan kebenaran. Seakan-akan jika seseorang populer dan menempelkan label “halal” pada sebuah barang, maka seluruh rantai pemasarannya ikut suci tanpa cela. Namun, bagaimana jika riset membuktikan sebaliknya? Bagaimana jika fatwa ulama sebenarnya sudah memberi peringatan dini tentang jebakan ini sejak lama?
Mari kita tarik ke pangkal persoalan. Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa Nomor 24 Tahun 2017 melarang praktik buzzer yang menyebarkan fitnah, ghibah dan informasi palsu. Bukan karena produknya haram, melainkan karena cara menjualnya menyalahi prinsip syar'iah.
Fatwa ini menegaskaan bahwa halal tidak berhenti di label, melainkan juga mencakup cara promosi. Tetapi ironisnya, di tengah gegap gempita industri halal, justru muncul kesalahpahaman besar, dimana produk halal dianggap otomatis berarti pemasaran halal. Dari sinilah ilusi itu tumbuh dan menjelma menjadi industri baru, yaitu industri penjualan mimpi.

Menembus Kabut Tebal Manipulasi

Di alun-alun digital yang sama, tempat para influencer halal menjajakan inspirasi, berbaris pula legiun-legiun bayangan yang bertugas meracuni sumur-sumur percakapan. Mereka tidak menjual produk, melainkan menabur jelaga kebencian dan ilusi kebenaran demi agenda manipulatif, mengubah setiap kritik menjadi medan pertempuran. Akibatnya, udara di alun-alun itu menjadi sesak dan beracun, membuat publik sulit membedakan mana suara tulus dan mana gema pesanan dari penunggang kegelapan.
Kondisi inilah seperti pernah didokumentasikan secara mendalam oleh Istana dan Majelis Ulama Indonesia, memicu lahirnya fatwa ulama; bukan sekadar sebagai pedoman administratif, melainkan sebagai mercusuar etis yang mencoba menembus kabut tebal manipulasi. Secara tidak adil, para influencer halal yang berniat baik terpaksa menghirup udara yang sama dan meminum dari sumur yang telah tercemar. Inilah mengapa tuntutan untuk menjadi lebih dari sekadar "buzzer"—bahkan "buzzer halal"—menjadi begitu mendesak; ini adalah momentum untuk menegaskan bahwa sumber mata air mereka jernih di tengah polusi yang merajalela.
Penelitian tentang perilaku konsumen memberi kita cermin yang mengejutkan. Riset menunjukkan bahwa kredibilitas seorang influencer tidak cukup untuk membuat orang membeli. Kredibilitas itu hanya berfungsi sebagai jembatan tipis antara strategi pemasaran dan sikap konsumen. Artinya, orang tidak membeli karena percaya penuh pada influencer. Mereka membeli karena narasi yang ditawarkan seolah menyatu dengan identitas yang ingin mereka jalani.
Fenomena ini tampak jelas di industri fesyen muslim. Survei pada konsumen menemukan bahwa mayoritas tidak tergerak oleh seberapa “terpercaya” seorang influencer, melainkan oleh bagaimana produk tersebut diposisikan sebagai bagian dari citra diri. Bagi 78% responden, membeli bukan sekadar soal barang, melainkan soal menguatkan gambaran diri sebagai muslim yang modern, estetis dan beretika. Seorang influencer dengan mudah menjadi kurator gaya hidup, bukan penjual kredibilitas personal.
Logika sederhananya apabila seorang muslimah tidak membeli jilbab hanya karena percaya pada figur publik yang mengenakannya. Ia membeli karena jilbab itu dibingkai sebagai jalan menuju mimpi untuk tampil syar’i sekaligus elegan. Kredibilitas hanyalah tiket masuk, tetapi yang benar-benar menggiring langkah konsumen adalah janji identitas yang dikurasi.

Antara Jarak dan Mimpi

Psikologi perilaku memberi penjelasan mengapa mekanisme ini begitu kuat. Otak manusia ternyata punya cara berbeda dalam memandang mimpi dan kenyataan. Mimpi yang sering diinterpretasikan seperti gambaran hidup islami yang ideal, akan diproses secara abstrak, jauh dan mudah diterima. Sementara kenyataannya seperti kualitas kain, harga atau ukuran produk, itu diproses secara konkret, dekat dan penuh pertimbangan.
Inilah sebabnya orang lebih mudah terpikat pada narasi besar ketimbang detail teknis. Mereka tidak membeli sekadar produk, mereka membeli mimpi. Produk hanyalah jembatan yang menghubungkan mereka dengan versi ideal diri yang mereka dambakan. Sedangkan influencer merupakan arsitek narasi itu, sang kurator kehidupan islami yang dibungkus estetika.
Penelitian psikologi konsumen bahkan menguantifikasi kenyataan ini. Terbukti, strategi pemasaran yang menekankan narasi abstrak seperti menjual mimpi, bukan barang, mampu meningkatkan keputusan pembelian hingga 34% dibandingkan strategi yang hanya mengandalkan reputasi personal influencer. Dengan kata lain, abstraksi lebih memikat daripada sekadar kredibilitas.

Cermin Retak bagi Industri Halal

Lalu di mana letak masalahnya? Pada titik inilah fatwa ulama terasa semakin relevan. Ketika cara pemasaran terjebak pada manipulasi emosi, ghibah atau retorika palsu, industri halal tidak lagi tampil jernih. Ia ibarat cermin retak yang masih memantulkan cahaya, tetapi pantulannya terdistorsi. Alih-alih memperlihatkan integritas, justru yang muncul adalah ilusi keindahan yang menipu mata.
Jika kondisi ini dibiarkan, industri halal akan terus dijadikan alat untuk menjual mimpi kosong. Produk boleh halal, tetapi caranya menggadaikan kejujuran. Ketika nanti publik sadar bahwa mereka hanya membeli fatamorgana, kepercayaan itu akan runtuh dalam sekejap.

Dari Popularitas Menuju Kurasi Kepercayaan

Maka arah masa depan seharusnya jelas. Para influencer halal tidak bisa lagi hanya mengandalkan popularitas. Mereka harus bertransformasi menjadi kurator nilai. Bukan sekadar menyematkan label halal, tetapi menampilkan narasi identitas yang konsisten dan etis. Di sinilah kredibilitas sejati lahir, bukan dari jumlah pengikut, melainkan dari keselarasan antara kata, sikap dan nilai.
Maka pilihannya sederhana. Para influencer halal bisa terus menjual ilusi kredibilitas mereka yang merupakan sebuah model bisnis yang rapuh secara etis dan empiris, tetapi harus bersiap menunggu saat ketika cermin itu pecah berkeping-keping. Atau, mereka bisa berevolusi menjadi kurator yang membangun fondasi yang kokoh di atas otoritas dan kepercayaan otentik. Jalan pertama adalah pintas menuju keruntuhan. Jalan kedua adalah jalan sunyi, tetapi menjanjikan keberlanjutan.
Industri halal adalah pasar bernilai triliunan dolar. Tetapi tanpa pijakan etis, ia rapuh, penuh retakan dan mudah hancur. Tugas kita sebagai konsumen maupun produsen adalah menjaga agar jalan sunyi etika itu tetap terpelihara. Jalan yang tidak selalu gemerlap, tetapi menjamin bahwa label halal bukan sekadar logo, melainkan janji yang ditepati dari hulu hingga hilir.
Pada akhirnya, kredibilitas influencer halal tidaklah ilusi jika ditempatkan dengan benar. Bukan sebagai penjual kepercayaan personal, tetapi sebagai kurator identitas yang autentik. Di situlah industri halal bisa menemukan kembali kejernihan cermin yang kini retak. Cermin yang seharusnya memantulkan integritas, bukan sekadar popularitas.
Trending Now