Konten dari Pengguna

Meta-Brand yang Menumbangkan Penciptanya

Sawqi Saad El Hasan
Dosen Manajemen Bisnis Syariah STEBIS Bina Mandiri Cileungsi dan Konsultan Produk Halal di Universitas Indonesia Halal Center
9 Oktober 2025 17:00 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Meta-Brand yang Menumbangkan Penciptanya
Mengapa Meta-Brand bisa menumbangkan penciptanya? Studi kasus Jerome Polin & Andovi da Lopez mengungkap dua tragedi kreator digital di tengah tirani konsistensi & ekspektasi publik. #userstory
Sawqi Saad El Hasan
Tulisan dari Sawqi Saad El Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi content creator. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi content creator. Foto: Shutterstock
Di YouTubeIndonesia, Jerome Polin dan Andovi da Lopez berdiri sebagai dua ikon dari generasi kreator digital yang sama, tetapi menempati dua altar yang berbeda. Jerome adalah dewa di kuil ā€œEdukasi & Positivitasā€ā€”dipuja karena kecerdasan, keceriaan dan aura merakyatnya. Andovi, sebaliknya, adalah dewa di kuil ā€œKritik & Keresahanā€ā€”dihormati karena tajamnya analisis, keberanian politik dan keotentikan dalam bersuara. Dengan caranya masing-masing, keduanya membangun Meta-Brand yang kuat: legenda digital yang hidup di benak publik, hasil akumulasi tindakan, narasi dan ekspektasi.
Namun, kini legenda itu justru berbalik arah. Mereka berhadapan dengan musuh paling sulit: bayangan dari meta-brand mereka sendiri.

Tragedi Topeng Jerome Polin

Meta-brand Jerome Polin adalah arketipe ā€œSang Jenius Matematika yang Ceria & Merakyatā€. Persona ini bak topeng emas yang sempurna: pintar, positif, inspiratif. Namun, seperti semua topeng, kesempurnaan itu rapuh. Serangkaian insiden—dari komentar yang dianggap salah konteks di acara Titiek Soeharto, manuver follow/unfollow Anies-Jokowi yang tampak oportunistik, hingga isu lama tentang dana ā€œ150 jutaā€ā€”muncul sebagai retakan.
Jerome Polin. Foto: Instagram/@jeromepolin
Masalahnya, publik tidak lagi menilai setiap kesalahan sebagai slip manusiawi, tetapi sebagai bukti bahwa topeng itu palsu. Kritik mengenai Titiek Soeharto menghantam pilar fathanah (kompetensi), manuver politik menggoyahkan pilar shidiq (otentisitas), sedangkan isu dana Rp150 miliar menggerogoti amanah (kepercayaan).
Setiap kesalahan kecil diperbesar karena bertentangan dengan ekspektasi naratif: bahwa Jerome harus selalu jenius, positif, dan murni. Inilah tragedi topeng: semakin sempurna persona yang ditampilkan, semakin brutal reaksi ketika retakannya muncul.

Tragedi Wajah Asli Andovi da Lopez

Krisis Andovi berbeda. Jika Jerome jatuh karena publik menilai topengnya retak, Andovi terjebak oleh wajah aslinya sendiri. Meta-brand Andovi adalah ā€œSang Intelektual Kritisā€ā€”otentik, resah, dan penuh kritik sosial. Namun, keotentikan itu ternyata juga bisa menjadi penjara.
Andovi da Lopez. Foto: Instagram/@andovidalopez
Saat mencoba medium baru seperti stand-up comedy, Andovi menghadapi paradoks: bicara non-politik terasa tidak otentik, bicara politik terasa repetitif atau bayangan seniornya. Statusnya sebagai ā€œkritikusā€ membuat publik menuntut standar sempurna. Tuduhan salah info atau sekadar berkilah (ngeles) tidak dilihat sebagai kekeliruan wajar, tetapi dianggap sebagai kegagalan integritas moral. Tekanan itu menghantam tiga pilar sekaligus: kompetensi (fathanah), akuntabilitas (amanah) dan integritas (shidiq).
Tragedi wajah asli adalah paradoks kreator yang terlalu otentik hingga dikurung oleh ekspektasi publik terhadap dirinya.

Cermin Global: Nas Daily dan Lilly Singh

Fenomena ini bukan unik Indonesia. Nas Daily, kreator global asal Palestina, juga pernah mengalami krisis serupa. Ia dikenal dengan meta-brand sebagai ā€œSang Inspirator Globalā€ yang mempromosikan toleransi. Namun, satu komentar kontroversial soal konflik Palestina-Israel membuatnya dituduh munafik. Persona positif yang ia bangun seketika dianggap topeng yang pecah.
Vlogger Nas Daily. Foto: Facebook/nasdaily
Lilly Singh, komedian Kanada-India, menghadapi versi lain dari tragedi ini. Otentisitasnya sebagai suara minoritas begitu kuat, tetapi ketika ia mencoba beralih ke televisi arus utama, publik menuduhnya kehilangan jati diri di mana dulunya fans dan publik otentisitas, berubah menjadi beban ekspektasi.
Kasus-kasus ini memperlihatkan pola serupa: meta-brand yang awalnya menjadi mesin pertumbuhan, pada titik tertentu berubah menjadi jebakan yang menumbangkan penciptanya.

Tirani Konsistensi dan Algoritma Ekspektasi

Fenomena yang di alami oleh Jerome, Andovi, Nas, dan Lilly, mencerminkan sebuah kekuatan tak terlihat yang terungkap dengan istilah tirani konsistensi. Publik menuntut supaya mereka terus-menerus menjadi versi yang sama seperti dulu, tepatnya, mereka ingin konten dan perilakunya ā€œlebih banyak yang seperti kemarinā€. Sementara itu, algoritma platform mendorong konten yang sesuai dengan pola lama. Kreator terjebak di dalam algoritma ekspektasi: satu langkah keluar dari pola dianggap pengkhianatan, satu kesalahan kecil dianggap bukti kegagalan.
Ilustrasi content creator. Foto: Shutterstock
Konsep ini sejalan dengan Expectancy Violation Theory (EVT) dalam studi komunikasi. Teori ini menjelaskan bahwa ketika individu menyimpang dari ekspektasi sosial, reaksi publik tidak netral—bisa berupa penolakan keras atau kehilangan kepercayaan. Studi dalam Behavioral Sciences (2024) misalnya, menemukan bahwa ketika streamer virtual gagal memenuhi ekspektasi empati dan profesionalisme, audiens langsung merespons dengan ketidakpercayaan dan penghentian dukungan.
Penelitian lain oleh Primovic & Phua (AEJMC, 2020) menunjukkan bahwa influencer yang melakukan endorsement di luar ekspektasi publik mengalami penurunan kredibilitas meski konten lainnya tetap berkualitas.
Kedua studi ini memberi cermin bagi kasus Jerome dan Andovi: setiap ā€œpelanggaran ekspektasiā€ di mata audiens—entah komentar politik atau ketidaksesuaian karakter—tidak lagi dianggap deviasi biasa, tetapi pengkhianatan terhadap ā€œceritaā€ yang telah mereka ciptakan sendiri.
Ilustrasi membangun personal branding dengan media sosial. Foto: Shutter Stock

Kebebasan untuk Bertumbuh

Apa pelajaran dari dua tragedi yang di alami oleh Jerome dan Andovi? Di era digital, tantangan terbesar kreator bukan lagi bagaimana cara mereka membangun brand, melainkan how to escape from it without breaking it?. Publik memberi mahkota, tetapi mahkota itu bisa berubah menjadi belenggu untuk diri mereka.
Jerome kelelahan menjaga topeng emasnya. Andovi terkurung wajah aslinya. Keduanya adalah korban dari meta-brand yang terlalu berhasil. Pada akhirnya, mungkin mahkota sejati seorang kreator bukanlah brand yang sempurna, melainkan ruang untuk tetap bertumbuh, berbuat salah, dan berevolusi sebagai manusia kompleks.
Ironisnya, kebebasan itu kini menjadi kemewahan dan keistimewaan yang harus diperjuangkan dengan sangat keras di tengah algoritma ekspektasi. Di sinilah tragedi itu terasa paling getir: meta-brand yang semula diciptakan untuk membesarkan nama dan reputasi mereka di YouTube Indonesia, justru saat ini secara perlahan dan pasti telah menumbangkan penciptanya.
Trending Now