Konten dari Pengguna
Muslimverse: Antara Ibadah dan Valuasi
28 Oktober 2025 6:00 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Muslimverse: Antara Ibadah dan Valuasi
Opini membedah Muslimverse sebagai ekosistem digital. Menganalisis gamifikasi ibadah (kuis khotbah) dan AI. Apakah ini pendangkalan makna (riya') demi valuasi ekonomi? Antara niat tulus dan engagementSawqi Saad El Hasan
Tulisan dari Sawqi Saad El Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Adzan subuh kini berkumandang dari notifikasi aplikasi, rekomendasi restoran halal muncul di linimasa media sosial dan keraguan fikih dijawab oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligent). Selamat datang di Muslimverseβsebuah realitas digital paralel di mana setiap aspek kehidupan seorang Muslim, dari ibadah hingga ekonomi, coba diintegrasikan ke dalam satu ekosistem yang terkonsolidasi.
Fenomena ini menjanjikan kemudahan dan penguatan identitas. Namun, di balik inovasi itu tersimpan pertanyaan mendasar: apakah Muslimverse yang sedang dibangun ini adalah jalan pintas menuju ketaqwaan yang lebih dalam, atau justru pusat perbelanjaan baru di mana iman menjadi komoditas utama?
Aplikasi Muslimverse yang digagas oleh mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno tanpa sengaja memberi kita cetak biru yang gamblang untuk membedah arsitektur spiritual dunia baru ini.
Arsitektur Muslimverse: Ekonomi Keumatan
Dalam percakapan yang tersiar melalui sebuah program podcast di kanal Youtube media Big Alpha sekitar satu bulan yang lalu, Sandiaga Uno menjelaskan bahwa tujuannya bukan sekadar dakwah, melainkan menciptakan ekosistem digital bagi βekonomi keumatanβ yang selama ini tersebar di berbagai ruang. Ia ingin mengonsolidasikan umat dalam satu wadah digital yang dapat menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan kerja.
Sebuah gagasan yang, di atas kertas, terdengar mulia. Namun, seperti halnya setiap platform digital, engagement tetap menjadi mata uangnya dan data tetap menjadi komoditasnya. Di sinilah dilema itu muncul: ketika dakwah dipaketkan dalam logika pasar, siapa yang sebenarnya diuntungkan β keimanan, atau valuasi?
Dalam struktur seperti ini, iman perlahan bergeser menjadi metrik. Semangat keumatan yang semestinya tumbuh dari keikhlasan mulai disubstitusi oleh algoritma yang mengukur keberhasilan lewat klik dan kunjungan.
Ibarat sebuah ayat yang hidup dalam dunia digital, firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 264 seakan bergema di sela-sela notifikasi:
Ayat tersebut adalah cermin bagi zaman kita: ketika kebaikan diiklankan demi like, maka sedekah itu telah kehilangan nilai spiritualnya di ujung jari sendiri.
Mesin Penggerak: Gamifikasi Spiritualitas
Untuk mempertahankan massa di dalam ekosistem ini, aplikasi Muslimverse menggunakan mesin penggerak yang sangat kuat: gamifikasi. Contoh paling nyata adalah fitur βKuis Khutbah Jum'at.β Menyadari bahwa kurang dari 10% jamaah mengingat isi khutbah, aplikasi ini menawarkan solusi sederhana: sebuah kuis berhadiah umrah.
Namun di sinilah batas antara ibadah dan permainan menjadi kabur. Aktivitas spiritual yang seharusnya bernilai intrinsik β mendengarkan khutbah sebagai bentuk tadabbur β kini direduksi menjadi aktivitas transaksional: mendengarkan demi poin, bukan pencerahan. Hal tersebut menciptakan paradoks moral yang halus tapi berbahaya: apakah kita berdzikir karena cinta, atau hanya karena ingin nama kita terpampang di bagian leaderboard?
Fenomena ini mengingatkan pada peringatan dalam Surat Al-Maβun ayat 1-7, tentang mereka yang beribadah hanya untuk terlihat saleh di mata orang lain:
Dalam bentuk modernnya, βriyaβ itu tidak lagi berupa sikap tubuh di masjid, tetapi telah bertransformasi menjadi pola perilaku digital β terpaku melalui layar yang terhubung internet demi validasi sosial.
Otoritas Baru: Amanah di Tangan Algoritma
Lebih jauh dari sekadar dakwah digital, Muslimverse juga melahirkan otoritas baru. Ketika jawaban keagamaan dan fatwa mulai diberikan oleh fitur berbasis kecerdasan buatan, sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada fragmentasi Amanah β pergeseran antara kepercayaan dari ulama ke algoritma. Fenomena ini mengguncang relasi epistemik yang telah berabad-abad menjadi fondasi otoritas ilmu keislaman.
Dalam ruang sunyi media sosial, di mana kecerdasan buatan menjadi mufti atau guru virtual, kita mulai kehilangan tabayyun. Apa yang dulu diperoleh dari diskusi dan bimbingan dengan ahlinya, kini berubah menjadi hasil search dan auto-reply.
Keterasingan akal sehat pun tumbuh, karena kita dibiasakan mencari kepastian instan ketimbang merenungi prosesnya. Seperti disebut dalam Al-Hujurat ayat 6, bahwasanya kita seharusnya memeriksa kebenaran kabar sebelum mempercayainya β tetapi dunia digital telah membuat kita lebih cepat bereaksi daripada berpikir.
Menjadi Navigator Sadar di Muslimverse
Muslimverse bukan hanya sebatas utopia spiritual. Aplikasi tersebut adalah arena pertarungan antara kemudahan dan kedangkalan, antara konsolidasi ekonomi dan otentisitas iman. Kita tidak bisa lagi menjadi pengguna pasif yang mengikuti arus notifikasi. Kita harus menjadi navigator sadar, yang mampu menyeimbangkan antara syariat dan niat, antara bentuk dan substansi.
Keberagamaan digital menuntut kita untuk kembali menimbang niat dengan takaran yang adil, seperti peringatan dalam Al-Mutaffifin ayat 1β3:
Muslimverse tidak salah, tetapi kita bisa tersesat di dalamnya jika lupa pada esensinya: ibadah adalah komunikasi vertikal dengan Tuhan, bukan kompetisi horizontal untuk memperoleh hadiah. Di tengah dunia yang menjadikan iman sebagai komoditas, kita ditantang untuk menjaga kemurnian niat di antara valuasi dan viralitas.
Sebab pada akhirnya, valuasi tertinggi bukanlah kapitalisasi spiritual, tetapi amal yang tetap tulus ketika tak seorang pun menyaksikan. Di antara semua algoritma yang menilai perilaku manusia, hanya satu yang abadi: catatan amal yang tidak diukur oleh engagement, tetapi oleh keikhlasan.

