Konten dari Pengguna

Runtuhnya Akal Sehat, Lahirnya Muslim Sadar Konsumerisme

Sawqi Saad El Hasan
Dosen Manajemen Bisnis Syariah STEBIS Bina Mandiri Cileungsi dan Konsultan Produk Halal di Universitas Indonesia Halal Center
29 Oktober 2025 18:00 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Runtuhnya Akal Sehat, Lahirnya Muslim Sadar Konsumerisme
Opini ini membedah runtuhnya akal sehat (logika Fathian) lewat kasus Bakso Babi Bantul & Widuran. Menganalisis gagalnya amanah sistemik & lahirnya Teori Muslim Sadar Konsumerisme
Sawqi Saad El Hasan
Tulisan dari Sawqi Saad El Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gambar seorang konsumen secara sadar mengecek komposisi produk. Sumber: Shutter Stock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar seorang konsumen secara sadar mengecek komposisi produk. Sumber: Shutter Stock.
Di tengah panasnya siang daerah Bantul, sebuah spanduk putih terbentang di atas warung bakso sederhana. Tulisannya hanya dua kata: ā€œBAKSO BABI.ā€ Spanduk itu dipasang oleh Dewan Masjid Indonesia setempat. Spanduk itu bukan sekadar sebagai penanda, tapi menjadi sebuah penanda zaman—tanda bahwa sesuatu telah bergeser di antara nalar, iman dan perilaku konsumsi umat Muslim.
Kasus warung bakso non-halal yang ramai dikunjungi pelanggan Muslim ini bukan sekadar anomali. Kasus tersebut adalah tragedi sekaligus pencerahan. Ia adalah cermin paling jernih dari sebuah fenomena global: runtuhnya kepercayaan. Kita semua—apakah itu soal label "Organik" di supermarket, klaim "Fair Trade" pada komoditas kopi, atau stempel "Vegan" maupun "Gluten Free" di kemasan—tengah hidup di era di mana kita dipaksa menjadi detektif untuk setiap hal yang kita konsumsi.
Peristiwa Bakso Babi di Bantul dan kasus Ayam Goreng Widuran di Solo adalah laboratorium alami di mana gejala ini terlihat paling akut. Mengapa? Karena di dalam "Muslimverse", taruhannya bukan sekadar pada aspek kesehatan atau etika, melainkan keselamatan spiritual. Di sinilah kita bisa melihat dengan jelas bagaimana runtuhnya "akal sehat" sosial melahirkan sebuah kesadaran baru.

Runtuhnya ā€œLogika Desaā€

Selama ini, kita teralihkan oleh sebuah logika sederhana yang diviralkan oleh Fathian Pujakesuma: ā€œLabeli halal saja produk yang dibuat oleh non-Muslim, karena produk Muslim pasti sudah halal.ā€ Logika ini terasa hangat—dan sangat Indonesia—karena berakar dari kepercayaan komunal yang terbentuk di ruang sosial yang homogen. Pembahasan mengenai hal tersebut sudah saya buat analisisnya dalam tulisan yang berjudul "Mengapa Aturan Halal Terasa Melawan Akal Sehat?".
Namun, kasus yang muncul di Bantul menampar logika tersebut dengan keras. Para pelanggan Muslim yang terkecoh adalah korban dari logika desa itu sendiri. Mereka mengandalkan akal sehat sosial: ā€œJika ramai, pasti halal.ā€ Akal sehat itu, yang dahulu menjadi alat navigasi moral, kini menjadi jebakan. Dalam konteks urbanisasi, pluralitas, dan pemasaran digital, ā€œakal sehatā€ telah kehilangan daya filtrasi spiritualnya.
Penelitian tentang perilaku konsumsi halal memperkuat kenyataan ini. Studi di Surakarta menemukan bahwa meskipun variabel religiusitas berpengaruh terhadap keputusan membeli produk halal, kesadaran halal itu sendiri tidak selalu otomatis muncul dari lingkungan sosial (Djunaidi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2023). Dengan kata lain, logika sosial tak lagi identik dengan logika kesadaran.

Kelumpuhan ā€œAmanah Sistemikā€ Negara

Ilustrasi gambar amanah sistemik. Sumber: Shutter Stock.
Ketika akal sehat gagal, masyarakat seharusnya masih bisa berpaling pada sistem. Namun, tragedi yang terjadi di Bantul menunjukkan bahwa sistem pun pincang. Laporan menyebutkan lembaga berwenang telah memberikan peringatan kepada penjual, namun tidak diindahkan. Secara otomatis, itu menjadi sebuah pengakuan jujur atas kelumpuhan ā€œAmanah Sistemikā€.
Negara memang telah berupaya memperluas jangkauan sertifikasi halal, tetapi sistem administratif yang lamban dan penegakan hukum yang longgar membuat perlindungan konsumen menjadi retak. Dalam banyak kasus, perlindungan halal masih bergantung pada laporan masyarakat, bukan mekanisme proaktif.
Studi yang dilakukan oleh Oktapiani, Al Farisi dan Herawati (STEBIS Bina Mandiri, 2024) menegaskan bahwa halal awareness yang tumbuh secara mandiri di komunitas sering kali lebih efektif dalam menjaga rantai konsumsi halal dibanding intervensi formal negara. Artinya, kekuatan sosial justru lebih gesit daripada kekuatan struktural.

Lahirnya Muslim Sadar Konsumerisme

Lalu, kepada siapa umat berpaling ketika akal sehat terjebak dan sistem kehilangan taringnya? Jawabannya mungkin terletak pada spanduk ā€œBAKSO BABIā€ itu sendiri. Siapa yang akhirnya bertindak? Bukan negara. Bukan pula individu yang merasa tertipu. Justru yang bertindak adalah komunitas. Dewan Masjid Indonesia di tingkat desa mengambil alih fungsi perlindungan moral melalui tindakan kolektif: memasang spanduk peringatan, menginformasikan publik dan menegakkan transparansi berbasis amanah sosial.
Inilah momen kelahiran kesadaran konsumen Muslim terhadap konsumerisme yang aktif, kritis dan reflektif. Hal tersebut bukan sekadar perilaku konsumsi, tetapi bentuk etika publik baru: sinergi antara iman, data dan literasi ekonomi. Riset yang dilakukan oleh Fadillah dan kolega (Universitas Negeri Surabaya, 2023) menemukan bahwa kalangan milenial Muslim di Indonesia menunjukkan korelasi positif antara sertifikasi halal dengan niat beli, meskipun mereka semakin jarang menjadikan asumsi sosial sebagai dasar keputusan.
Begitu pula studi literatur sistematis oleh Deti (Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas, 2025) menunjukkan bahwa dimensi knowledge–attitude–trust membentuk perilaku konsumsi halal yang lebih matang dengan komunitas religius berperan sebagai katalis utama.

Kesadaran Sebagai Bentuk Ketahanan Moral

Ilustrasi gambar peralihan dari tidak sadar menjadi sadar. Sumber: Shutter Stock.
Kita tidak sedang membicarakan paranoia kolektif. Kita sedang berbicara tentang ketahanan moral. Kesadaran Muslim yang lahir dari dua tragedi—baik itu di Bantul dan di Widuran—menunjukkan bahwa literasi halal bukan sekadar urusan label, tetapi ekosistem pengetahuan yang berakar pada kesadaran reflektif.
Di sinilah sebuah kerangka teori baru menemukan laboratoriumnya. Teori Muslim Sadar Konsumerisme (Conscious Muslim Consumerism Theory) menggunakan domain Muslim bukan karena eksklusivitas, tetapi karena di sanalah hadirnya gejala paling ekstrem dan taruhannya paling tinggi. "Teori Muslim Sadar Konsumerisme" adalah studi kasus arketipe dari fenomena global ini. Teori tersebut mencoba menjawab pertanyaan universal: bagaimana seorang konsumen bisa tetap rasional, kritis dan beretika dalam ekosistem ekonomi yang semakin kompleks?
Dalam konteks inilah seorang Muslim yang sadar dengan apa yang akan dikonsumsinya perlahan menemukan pijakannya: bahwa konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi ekspresi spiritual dan moral yang terus dinegosiasikan di ruang publik. Teori tersebut, yang kini sedang dimatangkan dalam berbagai kajian akademik, mencoba menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana seorang Muslim bisa tetap rasional, kritis dan beretika dalam ekosistem ekonomi yang semakin kompleks?
Sudah tiba saatnya kita memasuki era konsumen Muslim yang sadar dan itu bukan ajakan untuk mencurigai, melainkan ajakan untuk bertanggung jawab. Untuk memverifikasi, bukan menuduh; untuk membangun sistem yang transparan, bukan sekadar menuntut. Jika kehadiran negara belum sempurna dan masyarakat belum sepenuhnya peka, maka tanggung jawab moral berpindah ke tangan individu yang sadar—yang menjadikan setiap transaksi sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar konsumsi.
Spanduk ā€œBAKSO BABIā€ di Bantul dan papan ā€œNON-HALALā€ di Widuran adalah simbol dua zaman: zaman runtuhnya akal sehat lama, dan lahirnya kesadaran baru. Dari dua tragedi kecil itulah, kita semua sebagai konsumen modern, terutama umat Muslim belajar bahwa amanah bukanlah sesuatu yang diwariskan, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari—dengan mata terbuka, hati tenang dan akal yang kembali sadar.
Teori Muslim Sadar Konsumerisme, yang kini sedang dimatangkan dalam berbagai kajian akademik, mencoba menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana seorang Muslim bisa tetap rasional, kritis dan beretika dalam ekosistem ekonomi yang semakin kompleks?
Trending Now