Konten dari Pengguna
Ketika Kreativitas Perempuan Jadi Romantisasi Kemiskinan
22 Oktober 2025 20:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Kreativitas Perempuan Jadi Romantisasi Kemiskinan
Tren konten uang sepuluh ribu di tangan istri yang tepat menyimpan narasi neoliberalisme feminitas, sekolah perempuan berdaya, padahal ada beban domestik tingkat lanjut yang menekan perempuan. Maulida
Tulisan dari Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, TikTok kembali melahirkan tren yang ramai dibicarakan: “Rp10.000 di tangan istri yang tepat.”
Dalam video-videonya, para istri dengan bangga menunjukkan kemampuan mereka mengubah uang sepuluh ribu rupiah menjadi sepiring lauk, sayur, bahkan minuman manis untuk keluarga. Di kolom komentar, terdapat pro-kontra, ada yang memuji dan tak sedikit pula yang mencibir.
Sekilas, tren ini tampak menginspirasi: tentang hidup sederhana, kreatif, dan pandai bersyukur di tengah harga pangan yang melonjak. Tapi jika dilihat dari kacamata kajian budaya dan feminisme, tren ini bukan sekadar soal kreativitas dapur. Ia menyimpan narasi yang lebih dalam: bagaimana media sosial kembali menempatkan perempuan dalam peran lama yakni sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan rumah tangga, bahkan ketika kondisi ekonominya tidak memadai.
Feminitas yang diukur dari kemampuan bertahan
Dalam banyak video, istri digambarkan sebagai sosok ideal: hemat, ikhlas, dan penuh kasih. Ia mampu “menyulap” uang pas-pasan menjadi masakan bergizi, tanpa keluhan, tanpa menyalahkan siapa pun. Sementara itu, sosok suami sering kali tak muncul. Ia menjadi figur tak terlihat atau katakanlah ia berperan sebagai sumber uang, bukan bagian dari urusan rumah tangga.
Narasi ini memperkuat pandangan lama bahwa perempuan baik adalah perempuan yang bisa beradaptasi dengan kekurangan.
Bahwa tugas istri bukan menuntut nafkah yang layak, melainkan pandai mensyukuri keadaan. Padahal, di balik meja makan yang rapi, ada kerja panjang dan melelahkan: mencari bahan murah, menyiangi sayur, mencuci piring, memastikan gizi anak terpenuhi.
Semua itu adalah kerja, tapi jarang diakui sebagai bagian dari ekonomi rumah tangga.
Istri Hemat dalam Bingkai Neoliberalisme
Fenomena ini juga bisa dibaca sebagai bentuk feminitas neoliberal: perempuan didorong untuk selalu berdaya secara personal, tanpa mengubah struktur yang menindas.
Pesannya sederhana tapi tajam: kamu bisa hidup cukup, asal pandai mengatur. Dengan kata lain, kalau hidup terasa berat, salahmu sendiri yang kurang kreatif.
Media sosial memperkuat pesan ini lewat algoritma: konten yang “positif”, “menghibur”, dan “penuh inspirasi” yang juga lebih cepat viral ketimbang video yang menyoroti ketidakadilan ekonomi atau beban ganda perempuan.
Hasilnya, yang tampil di layar adalah wajah-wajah istri ceria, bukan cerita mereka yang lelah menyesuaikan diri.
Romantisasi Kemiskinan dan Kekerasan Simbolik
Banyak yang menganggap tren ini lucu bahkan kreatif. Namun di baliknya, ada romantisasi kemiskinan: hidup serba pas-pasan dianggap bukti cinta dan kebersamaan keluarga.
Hal ini menjadi sinyal bahaya karena konten tersebut menormalisasi keterbatasan struktural atau seolah-olah kemiskinan adalah hal yang biasa, yang menjadi panggung moralitas perempuan.
Dalam istilah Pierre Bourdieu, hal tersebut adalah bentuk kekerasan simbolik: tekanan halus yang membuat perempuan merasa bersalah jika tidak bisa menjadi “istri yang tepat”.
Ketika ada istri yang mengeluh uang belanja tak cukup, komentar yang muncul sering bukan simpati, melainkan penghakiman: “Lha, yang lain bisa kok!”
Padahal setiap daerah punya harga kebutuhan yang berbeda, dan tidak semua keluarga punya sumber daya tambahan seperti kebun, ternak, atau bantuan sosial.
Siapa yang Diuntungkan?
Tren “Rp10.000 di tangan istri yang tepat” pada akhirnya lebih menguntungkan platform dan kreator, bukan perempuan pekerja domestik yang mereka tampilkan.
Video-video ini menghasilkan engagement tinggi, menambah jam tayang dan potensi monetisasi.
Tapi isu yang seharusnya jadi fokus seperti upah yang stagnan, harga bahan pokok yang naik, dan tanggung jawab ekonomi suami justru tenggelam di balik pujian untuk “istri hemat”.
Kita Butuh Narasi Tandingan
Kita tentu bisa menghargai semangat hemat dan kreativitas perempuan. Tapi menganggap kemampuan bertahan hidup dari Rp10.000 sebagai bukti “istri yang ideal” berarti kita sedang menormalisasi ketimpangan.
Alih-alih terus memuja “istri yang tepat”, seharusnya kita mulai bertanya:
Kenapa istri harus menyesuaikan diri pada kekurangan yang bukan ia ciptakan?
Kenapa kerja domestik yang ia lakukan tak pernah dihitung sebagai kontribusi ekonomi keluarga?
Dalam masyarakat yang adil, perempuan tidak perlu menjadi “ajaib” untuk membuat dapur tetap berasap. Ia cukup menjadi manusia yang dihargai, dengan dukungan yang layak dari pasangan, negara, dan dari sistem yang mengakui kerja-kerja domestik sebagai kerja yang nyata.
Tren Rp10.000 mungkin membuat kita kagum, tapi ia juga mengingatkan bahwa di dunia digital yang serba indah, perjuangan perempuan sering kali dikemas jadi tontonan, bukan didengar sebagai seruan perubahan.

