Konten dari Pengguna
Jakarta, dari Rasa menuju Identitas
17 Oktober 2025 13:43 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Jakarta, dari Rasa menuju Identitas
Jakarta bergerak lewat rasa dan desain. Temukan bagaimana Gupta Sitorus & Primo Rizky membentuk identitas baru ibu kota melalui karya dan pengalaman kuliner.Selamet Hariadi
Tulisan dari Selamet Hariadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik gedung-gedung tinggi dan lalu lintas yang padat, ada perubahan lain yang tumbuh lebih tenang bukan lewat beton dan baja, melainkan lewat selera, desain dan semangat kreatif.
Di tengah arus perubahan itu, dua sosok menonjol sebagai penentu arah baru gaya hidup Jakarta: Gupta Sitorus dan Primo Rizky. Melalui karya mereka di bidang kuliner, budaya dan strategi merek, keduanya berusaha menemukan kembali jati diri ibu kota menjadikannya lebih berkarakter, lebih berjiwa.
Lebih dari Sekadar Restoran
Bagi Gupta dan Primo, sebuah restoran bukan hanya tempat untuk makan. Ia adalah ruang yang hidup tempat di mana pengalaman, rasa, dan cerita berpadu menjadi satu.
Salah satu contohnya adalah Billy’s Block di Senopati Suites. Tempat ini adalah bentuk penghormatan mereka terhadap energi dan kehangatan New York City. Dirancang menyerupai rumah batu khas Brooklyn, bangunan tiga lantai ini menghadirkan pengalaman yang berbeda di setiap sudutnya. Deli di lantai bawah, bar di lantai atas dan kafe yang segera menyusul di lantai teratas.
Deli-nya kini ramai didatangi pengunjung yang menikmati halal cart bowls, sandwich khas Amerika, hingga kreasi unik seperti Spice Bag dan roasted peanut latte. Setiap detailnya diperhatikan dari pojok vinyl yang nostalgik, bunga segar yang mempermanis suasana, hingga gelas kopi Anthora yang ikonik. Semua berpadu membentuk potongan kisah kecil Brooklyn, kini hadir hangat di tengah Jakarta.
“Billy’s adalah tentang energi dan storytelling,” ujar Gupta.
“Kami tidak ingin sekadar restoran lain, kami ingin menciptakan karakter, satu blok, dan satu dunia kecil yang bisa dimasuki orang.”
Sebaliknya, LBRY Slow Coffee Bar tersembunyi di dalam mal tua Jakarta Selatan, diapit toko perhiasan, dan lebih terasa seperti ruang rahasia ketimbang kafe.
Ruangnya padat dengan referensi budaya: rak buku, karya seni, dan koleksi pribadi, tempat di mana kopi hanyalah satu bagian dari pengalaman yang lebih besar, yakni percakapan, kreativitas, dan keintiman.
“LBRY adalah tentang menciptakan ruang yang hangat dan personal,” kata Primo. “Sudut kecil di mana buku, desain, seni, dan kopi menyatu. Di kota secepat Jakarta, kami ingin menghadirkan ruang di mana orang bisa melambat dan merasa menjadi bagian dari sesuatu.”
Dua ruang ini menunjukkan rentang kreativitas mereka, yang satu teatrikal dan terbuka, yang lain reflektif dan personal. Keduanya mendefinisikan ulang bagaimana Jakarta menikmati rasa, ruang, dan makna di antara keduanya.
Dari Strategi ke Kreasi
Di luar usaha pribadi, pengaruh mereka merambat luas. Sebagai co-founder Sandpiper dan Geometry Creative Group, Gupta dan Primo berada di balik sejumlah merek korporasi dan gaya hidup paling berpengaruh di Indonesia.
Karier Gupta membentang lebih dari dua dekade di sektor pemerintahan, teknologi, dan F&B, dari MRT Jakarta, ABB yang bermarkas di Zurich yang merupakan perusahaan Fortune 500, hingga WIR Group, perusahaan terbuka yang berfokus pada teknologi imersif dan artificial intelligence.
Primo memulai perjalanan profesionalnya di The Brand Union milik WPP Group dan DM ID Holland, membantu berbagai perusahaan besar dari Telkom hingga Sosro.
Pada 2012, ia meluncurkan Geometry Media, platform penerbitan independen yang menampilkan buku dan majalah di Frankfurt, London, dan Singapura. Tujuh tahun kemudian, ia mengembangkan platform tersebut menjadi Geometry Creative Group, yang menangani berbagai klien dari Gojek hingga British Council.
“Strategi itu soal mendengarkan budaya, bukan sekadar pasar,” ujar Primo. “Merek yang berhasil di Indonesia adalah yang memahami kebiasaan dan cerita manusia di balik datanya.”
Bersama Sandpiper dan Geometry, keduanya membentuk keseimbangan yang jarang ditemukan: Gupta dengan naluri kebijakan dan jejaring industri yang kuat, Primo dengan ketajaman kreatif dan pendekatan budaya yang peka. Di antara mereka, strategi menjadi seni, dan kreasi menjadi cara berpikir.
Di Persimpangan Kuliner dan Kebijakan
Peran Gupta dan Primo tak berhenti pada ranah bisnis dan kreatif. Keduanya juga aktif di balik meja kebijakan yang membentuk arah ekonomi kreatif Indonesia, memastikan bahwa taste tidak berhenti di dapur, tetapi menjalar hingga ke ruang publik dan kebijakan nasional.
Sebagai Presidium Dewan Kuliner Indonesia, Kepala Bidang Kuliner Apindo, dan Kepala Promosi & Kerja Sama di KADIN Indonesia, Gupta menautkan dunia kuliner dengan industri, regulasi, dan pendidikan.
Baginya, makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga cara bangsa memahami dirinya sendiri.
“Makanan bukan sekadar bisnis, ia juga kebijakan, pendidikan, dan identitas,” tegas Gupta.
“Kalau kita ingin mengangkat Indonesia ke panggung dunia, gastronomi harus disinergikan dengan pemerintah, industri, dan komunitas.”
Sementara itu, Primo memainkan peran penting di bidang desain dan komunikasi visual. Sebagai Direktur Komunikasi Strategis ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), ia mendorong kolaborasi lintas sektor antara desainer, akademisi, dan industri untuk memperkuat posisi desain Indonesia dalam ekosistem kreatif global.
“Desain dan kuliner memiliki kesamaan, keduanya berbicara dalam bahasa pengalaman,” ujarnya.
“Keduanya bisa menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan.”
Keterlibatan keduanya juga meluas ke ranah kebijakan kebudayaan nasional. Gupta dan Primo merupakan bagian dari Pokja Kebudayaan, sebuah kelompok kerja independen yang beranggotakan berbagai pelaku industri budaya dan ekonomi kreatif terkemuka. Kelompok ini berperan aktif dalam mendorong pembentukan serta menyusun naskah akademik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebuah langkah penting untuk memperkuat posisi budaya sebagai fondasi pembangunan nasional.
Melalui peran-peran ini, di dapur ide, di ruang desain, dan di lingkar kebijakan, Gupta dan Primo membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar proyek atau merek. Mereka menenun ekosistem di mana gagasan, rasa, dan kebijakan saling berkelindan untuk membentuk masa depan budaya Indonesia.
Indonesia Dessert Week: Dari Manis ke Makna
Salah satu inisiatif yang paling menggambarkan semangat Gupta dan Primo adalah Indonesia Dessert Week (IDW), sebuah perayaan yang bermula dari kesenangan sederhana terhadap dunia manis, namun berkembang menjadi gerakan yang jauh lebih dalam. Mengangkat dessert sebagai bahasa diplomasi budaya dan kreativitas nasional.
Diluncurkan pertama kali di Jakarta, program ini kini menjelma menjadi platform lintas kota, dari Jakarta ke Bandung, Medan, dan segera menjangkau kota-kota lain. Setiap edisi menghadirkan kurasi kolaboratif antara pastry chef, artisan lokal, dan brand kreatif yang mewakili wajah baru kuliner Indonesia. Lebih dari sekadar festival, IDW menjadi ruang temu antara bisnis, budaya, dan kebijakan, tempat para pelaku industri bertemu dengan publik, pemerintah, dan institusi seni.
“Dessert itu universal, ia membawa kebahagiaan, melampaui batas,” ujar Gupta. “Kami ingin menggunakan sesuatu yang sederhana seperti makanan penutup untuk memulai percakapan yang lebih besar tentang kreativitas dan soft power Indonesia.”
Primo menambahkan bahwa IDW bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang citra dan cerita.
“Dessert adalah pintu masuk yang hangat untuk membicarakan hal yang lebih besar, tentang desain, estetika, branding, dan bagaimana Indonesia menampilkan diri di dunia,” jelasnya.
Melalui Indonesia Dessert Week, Gupta dan Primo menunjukkan bahwa taste bisa menjadi alat diplomasi yang lembut namun kuat, membangun jembatan antara dapur dan diplomasi, antara kreativitas dan kebanggaan nasional.
Jakarta dalam Tafsir Baru
Gupta dan Primo tidak datang untuk mengguncang kota, melainkan untuk menenun ulang cara kita merasakan dan memaknai Jakarta. Lewat ruang, rasa, dan narasi, mereka menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari revolusi besar, kadang justru dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran, ketulusan, dan kepekaan.
Melalui Bondo Group, Sandpiper, dan Geometry, mereka menciptakan ruang di mana kreativitas, bisnis, dan budaya bisa berdialog tanpa hiruk-pikuk. Dari Billy’s Block yang merayakan energi urban, hingga LBRY Slow Coffee Bar yang menawarkan keheningan di tengah keramaian, mereka membuktikan bahwa aktivisme kultural bisa hadir lewat harmoni, cukup dengan menciptakan ruang yang bermakna dan jujur.
“Jakarta cukup menjadi dirinya sendiri,” ujar Primo. “Di situlah keindahannya.”
Di antara keduanya, taste menjadi bahasa yang menyatukan, bukan untuk mendikte, melainkan untuk membuka percakapan.
Dan mungkin di sanalah letak esensi dari perjalanan mereka, perubahan yang tumbuh tanpa kebisingan, namun meninggalkan gema panjang. Gerakan yang lahir dari rasa, berjalan lewat budaya, dan menuju identitas.
Gupta Sitorus dan Primo Rizky, para Tastemakers yang membaca, merasakan, dan menulis Jakarta dalam tafsir baru yang sadar dan berjiwa.

