Konten dari Pengguna

Renjana Karya: Ketika Guru Berkarya dari Keresahan di Kelas

Septi Peni Wulandani
Praktisi pendidikan anak dan keluarga, senang menulis dan berpetualang di alam.
13 Juli 2025 1:06 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Renjana Karya: Ketika Guru Berkarya dari Keresahan di Kelas
Renjana Karya guru berkarya menyala di tengah rutinitas beban administrasi, dengan pemulihan makna peran guru dan menjadikannya gerakan menular
Septi Peni Wulandani
Tulisan dari Septi Peni Wulandani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suasana di booth para fasilitator School of Life Lebah Putih yang dihadiri para reviewer ( Sumber : Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di booth para fasilitator School of Life Lebah Putih yang dihadiri para reviewer ( Sumber : Dok. Pribadi)
Di tengah gempuran beban administratif dan tuntutan kurikulum yang serba cepat, seorang guru bisa kehilangan napas panjangnya. Dalam rutinitas yang kian mekanis, tak sedikit pendidik yang lupa bahwa profesi ini bukan semata mengisi kepala murid dengan materi, melainkan menggerakkan jiwa—termasuk jiwanya sendiri. Maka ketika para fasilitator dari TK Lebah Putih, SD School of Life Lebah Putih, dan SMP Arunika Salatiga berkumpul untuk menggelar Renjana Karya, yang lahir bukan sekadar pameran pendidikan, melainkan sebuah gerakan pemulihan makna.
Digelar di SDN 01 Kalibeji, Kabupaten Semarang, pada tanggal 11 Juli 2025, pameran ini menghadirkan 12 proyek orisinal yang tumbuh dari keresahan nyata guru-guru di ruang kelas. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain memperkuat jejaring kolaboratif antara sekolah-sekolah progresif dan konvensional, acara ini juga menjadi jembatan dua arah—guru dari Salatiga belajar ke konsep sekolah di kabupaten, guru dari Kabupaten Semarang mendapat inspirasi dari kota Salatiga.
Fasilitator TK Lebah Putih memberikan penjelasan karya Aca Atung ( Sumber : dok Pribadi)
Namun yang istimewa dari Renjana Karya bukan sekadar lokasinya, melainkan proses di balik setiap karya. Di sini, guru bukan hanya pendamping siswa dalam membuat proyek. Mereka justru menjadi subjek utama: merumuskan masalah, meneliti, berdiskusi lintas jenjang, dan menyusun solusi yang aplikatif. Dari refleksi mereka, lahir inovasi-inovasi pendidikan yang membumi—mengelola emosi anak lewat sudut rasa, membangun literasi dengan media alternatif, atau merancang pengalaman belajar berbasis lingkungan sekitar.
Lebih dari 75 pengunjung hadir aktif dalam acara ini: 42 guru dari berbagai sekolah, dua dosen pendidikan, serta 34 siswa dan orangtua. Format pameran yang interaktif memungkinkan pengunjung mencoba langsung media pembelajaran, memberikan masukan, dan berdialog hangat dengan para fasilitator. Di sinilah letak kekuatan Renjana Karya: ia bukan sekadar ruang pajang, melainkan laboratorium sosial untuk menguji pendekatan bottom-up dalam pendidikan.

Menyala Kembali di Tengah Letih

Salah satu yang paling membekas adalah pernyataan dari Kak Windi, fasilitator Sekolah Menengah Arunika, “Biasanya kami membimbing anak membuat proyek. Kali ini kami yang membuatnya. Rasanya seperti menemukan kembali jati diri sebagai guru.”
Pernyataan ini mencerminkan kerinduan banyak guru akan ruang refleksi. Ketika beban administratif mematikan kreativitas, maka ruang seperti Renjana Karya menjadi oase: tempat di mana guru tak hanya mengajar, tetapi juga belajar dan berkarya.
Anton, seorang guru dari Kabupaten Semarang, menyebut karya-karya yang dipamerkan “bukan hanya visual, tapi menunjukkan pemikiran pendidikan yang mendalam.” Sedangkan Ibu Sri dari Rowosari mengaku terinspirasi untuk membawa pendekatan serupa ke sekolahnya. “Semoga Renjana Karya bisa hadir juga di tempat kami,” harapnya.
Dari para pengunjung muda pun terdengar antusiasme yang hangat. “Kalau para kakak fasilitator sekeren ini, saya deg-degan membayangkan proyek anak-anak nanti,” ujar Bunda Mia, orangtua siswa dari TK Lebah Putih.
Suasana booth Candradimuka Karya Fasilitator School of Life Lebah Putih ( Sumber: Dok. Pribadi)

Gerakan yang Menular

Apa yang dilakukan oleh fasilitator Lebah Putih dan Arunika adalah lebih dari sekadar eksperimen lokal. Ia adalah contoh nyata bagaimana inovasi pendidikan bisa berakar dari bawah, dari ruang kelas, dari tanya yang jujur: apa yang tidak bekerja? dan apa yang bisa kita ubah bersama?
“Kami ingin mengajak sekolah lain, komunitas guru, dan Dinas Pendidikan untuk ikut bergerak. Bangunlah ruang refleksi antar guru. Dorong budaya berkarya dan berefleksi. Jadikan inovasi sebagai budaya, bukan program sesaat,” seru Kak Gita, salah satu penyelenggara Renjana Karya.
Semangat ini, jika dijaga dan diperluas, bisa menjadi motor penggerak perubahan pendidikan Indonesia. Tak lagi bertumpu pada instruksi dari atas, melainkan ditumbuhkan dari bawah—dari ruang kelas, dari keresahan guru, dari cinta yang tak pernah padam.
Di tengah narasi besar tentang reformasi pendidikan, Renjana Karya mengingatkan kita pada hal yang paling esensial: perubahan sejati dimulai dari guru yang terus belajar, yang tak puas hanya mengajar, tapi juga mencipta.
Dan jika semua guru punya renjana—api cinta yang tak padam—maka masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya akan bertahan. Ia akan menyala.
Trending Now