Konten dari Pengguna

Sekolah Perempuan Pemimpin : Menjawab Kekacauan Bangsa Lewat Aksi Nyata

Septi Peni Wulandani
Praktisi pendidikan anak dan keluarga, senang menulis dan berpetualang di alam.
8 Oktober 2025 12:26 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sekolah Perempuan Pemimpin : Menjawab Kekacauan Bangsa Lewat Aksi Nyata
Sekolah Perempuan Pemimpin (SEPPIM). Sebuah ruang belajar yang berlangsung 3–5 Oktober 2025 di Wisma Hijau, Depok, yang diikuti oleh 17 perempuan dari berbagai penjuru Indonesia.
Septi Peni Wulandani
Tulisan dari Septi Peni Wulandani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Refleksi Sekolah Perempuan Pemimpin 2025

Di tengah hiruk-pikuk negeri yang kian gaduh oleh sengkarut kekuasaan, di antara tajuk berita tentang penyalahgunaan hukum, polarisasi sosial, dan pemimpin yang gemar tampil namun miskin gagasan, kita sebagai perempuan barangkali perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk mendengar.
para peserta sekolah perempuan pemimpin - Ibu Profesional 2025
zoom-in-whitePerbesar
para peserta sekolah perempuan pemimpin - Ibu Profesional 2025
Mendengar bukan suara elite yang bersaing mengatur narasi, tetapi suara-suara yang kerap dikesampingkan: suara perempuan pemimpin yang bekerja dalam senyap. Yang tak memerlukan mikrofon untuk membuat perubahan. Yang tidak tampil di podium, tapi hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hari lalu, saya menyelenggarakan Sekolah Perempuan Pemimpin (SEPPIM). Sebuah ruang belajar yang berlangsung 3–5 Oktober 2025 di Wisma Hijau, Depok, yang diikuti oleh 17 perempuan dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka bukan pejabat publik. Bukan tokoh partai. Mereka adalah penggerak komunitas, relawan pendidikan, fasilitator keluarga, dan pemimpin di lingkaran terkecil namun paling vital: rumah dan komunitas.
Ketika Kekuasaan Jadi Panggung, Kepemimpinan Harus Kembali ke Akar
SEPPIM tidak hadir sebagai pelatihan formal atau seminar motivasi. Ia lebih mirip retret pemikiran dan rasa, tempat para perempuan mengenali ulang panggilan perannya. Di sesi pembuka, saya menangkap satu frasa dari puzzle besar yang mereka susun bersama:
Frasa itu tidak sekadar visi. Ia seperti doa kolektif dari para ibu, istri, fasilitator, dan pemimpin komunitas yang ingin membuktikan bahwa kepemimpinan bukan tentang menguasai, tapi tentang menumbuhkan.
Daster dan Dampak Bisa Berdiri Sejajar
Salah satu sesi paling menyentuh adalah Walk of Vision di pagi hari, di mana para peserta berjalan perlahan mengenakan daster. Simbol yang menyadarkan kita bahwa daster tidak mengurangi wibawa, dan rumah tangga bukan alasan untuk absen dari panggung perubahan. Justru dari balik dasterlah lahir generasi, nilai, dan kekuatan.
Lalu ada sesi Theory of Change, pemetaan perubahan sosial yang biasanya hanya dibahas di ruang LSM atau akademisi. Tapi di sini, ibu-ibu dari Balikpapan, Payakumbuh, Malang, dan Jember duduk bersama, menyusun logika perubahan—dari dapur mereka, untuk negeri ini.
Menantang Maskulinitas Sistemik
Indonesia sedang lelah dengan kepemimpinan transaksional, narsistik, dan sentralistik. Kita bisa melihatnya dalam debat publik yang kian jauh dari rakyat, dalam kebijakan yang tidak berpijak pada nilai, dan dalam elitisme yang mengalienasi komunitas. SEPPIM hadir sebagai antitesis dari itu semua.
Nilai 5B yang mereka pelajari—Belajar, Berkembang, Berkarya, Berbagi, dan Berdampak—bukan jargon untuk dokumentasi. Tapi napas yang mereka hirup bersama. Inilah kepemimpinan dengan hati, yang tidak sekadar menyusun program, tapi menghidupkan peran.
Gerakan Kecil, Imaginasi Besar
Kalimat itu menjadi kutipan utama dari SEPPIM. Dan benar adanya. Terlalu lama kita mengikuti imajinasi elite, membiarkan arah bangsa dibentuk oleh segelintir orang yang mungkin tak lagi mendengar denyut realitas.
Namun di SEPPIM, para perempuan ini belajar membangun imajinasi sendiri. Tentang organisasi berbasis nilai. Tentang kepemimpinan yang tak kehilangan kehangatan. Tentang masa depan bangsa yang tidak harus selalu maskulin.
Perempuan, Kamu Harapan Itu
Saya tidak bisa tidak berpikir: bagaimana jika negara ini dikelola dengan cara yang lebih lembut namun tegas, lebih mendengar daripada mendikte, lebih menumbuhkan daripada menekan? Mungkin kita tidak perlu menunggu utopia. Mungkin jawabannya ada pada komunitas seperti Ibu Profesional, yang menyelenggarakan SEPPIM bukan karena disponsori negara, tapi karena dorongan nilai dan cinta.
Kita tidak kekurangan sumber daya. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mendengarkan suara dari pinggiran. Dari perempuan yang hadir bukan untuk tampil, tetapi untuk bertanggung jawab. Bukan untuk mendominasi, tetapi untuk menopang kehidupan.
Di tengah segala krisis yang membuat bangsa ini kehilangan arah, SEPPIM adalah kompas kecil yang bisa mengingatkan: bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling hadir.
Dan hari ini, mereka hadir. Dengan daster. Dengan mimpi. Dengan tindakan nyata.
[*) Penulis adalah aktivis gerakan perempuan, pendiri komunitas belajar, dan pegiat literasi keluarga. Tulisan ini merupakan hasil refleksi dari keterlibatan langsung dalam SEPPIM 2025.]
Trending Now