Konten dari Pengguna

Jurnal yang Diam-diam Mengubah Cara Pandangku

Sharisse Bermelly Wiryomartani
Sharisse adalah siswi kelas 12 di Penabur Junior College Kelapa Gading. Ia seorang gadis yang gemar menari dan sangat peduli pada dua adiknya.
19 November 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jurnal yang Diam-diam Mengubah Cara Pandangku
Membuat jurnal bukan cuma soal nulis, tapi tentang mengenal diri, menikmati momen-momen kecil, dan menghargai kenangan. Inilah beberapa cara jurnal telah mengubah hidupku.
Sharisse Bermelly Wiryomartani
Tulisan dari Sharisse Bermelly Wiryomartani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi menulis surat. Foto: plo/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menulis surat. Foto: plo/shutterstock
Iseng buka jurnal lima tahun lalu, menemukan satu halaman yang bikin aku tersenyum. Tanggal 23 September 2020. Aku nulis tentang membuat boneka dari kaus kaki bekas bareng adikku. Aku sama sekali nggak ingat momen berharga ini sebelum baca kembali halaman jurnal itu. Membacanya sekarang, baru kuingat momen itu, menjahit sambil tertawa di masa-masa pandemi.
Foto boneka yang terbuat dari kaos kaki bekas. Foto dari penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Foto boneka yang terbuat dari kaos kaki bekas. Foto dari penulis.
Sekarang, bonekanya sudah hilang. Tapi setelah baca jurnal lamaku, kenangan dan perasaan hangatnya tetap hidup di tulisanku. Baru kusadari, jurnal telah menyelamatkan banyak momen kecil semacam ini; momen yang tanpa sadar pelan-pelan membentuk cara pandangku tentang hidup.
Buatku, jurnal itu seperti mesin waktu yang menyimpan versi diriku yang paling polos dan autentik. Aku tidak nyangka bahwa kebiasaan kecil menulis 2 menit sebelum tidur akan menjadi semacam kompas, yang bertahun-tahun kemudian menunjukkan sejauh apa aku telah berubah.

1. Mulai dari yang Paling Receh, Justru Itu yang Paling Berharga

Awalnya, tujuanku cuma satu: penginkonsisten. Aku maksa diri buat nulis apa aja setiap hari. Tidak perlu nulis panjang. Tidak harus satu halaman penuh atau kayak ngerjain esai juga. Yang penting, journaling itu harusnya fun. Mulai aja dengan satu kalimat seperti, "hari ini capek, tapi aku senang."
Aku sengaja menghilangkan ekspektasi bahwa jurnal harus estetik dan berisi pikiran dalam. Aku nulis soal kesal sama tugas, senang makan mie pedas, sampai bingung milih warna baju baru. Semua hal receh itu, yang dulu kupikir nggak penting, ternyata justru jadi jejak emosiku yang paling jujur. Membacanya sekarang, aku kayak diajak ngobrol oleh diriku yang dulu.

2. Jurnal Itu Cermin, Bukan Hakim

Hal paling berharga yang kupelajari: jurnal ngajarin aku buat tidak menghakimi diri sendiri. Ingat, jurnal itu ruang pribadi. Jurnal adalah tempat buat jujur sama diri sendiri. Di satu halaman, aku nulis dengan bangga soal pencapaian kecil. Di halaman lain, ada tulisan kesel dan kecewa yang bahasanya amburadul.
Dulu, aku sering ngerasa bersalah karena punya perasaan negatif kayak gitu. Tapi sekarang setelah baca lagi, aku jadi paham bahwa semua itu bagian dari proses. Ya, wajar lah kalau remaja mengalami naik-turun emosi. Masalah yang dulu kayak gunung, sekarang cuma jadi cerita. Jurnal buktiin bahwa nggak ada perasaan yang tetap, dan semua masalah pasti berlalu.

3. Konsisten Itu Bukan Harus Sempurna

Foto buku jurnal 5 tahun. Foto dari penulis.
Dulu aku sering terjebak pikiran "all or nothing". Kalau tidak bisa nulis panjang, ya udah nggak usah nulis sama sekali. Tapi liat deh tumpukan jurnalku sekarang. Tidak semua halaman penuh. Ada yang cuma berisi satu kalimat, ada yang cuma gambar doodle kecil, bahkan ada halaman yang benar-benar kosong.
Aku sempat ngerasa bersalah kalo sampe ada hari yang terlewat. Tapi sekarang aku sadar, kekosongan itu juga bagian dari cerita. Itu bukti bahwa ada hari-hari di mana aku capek banget, sibuk banget, atau bahkan bahagia banget sampe lupa buat nulis. Dan itu gapapa.
Konsisten itu bukan tentang sempurna, tapi tentang kemauan buat tetap nerusin, meski sempat berhenti. Tentang ketahanan untuk membuka halaman baru keesokan harinya, meski kemarin kosong. Tentang komitmen untuk tetap menulis, dalam kondisi apa pun.

4. Bisa Liat Pola Hidup

Setelah bertahun-tahun, kebiasaan nulis hal-hal kecil ini bantu aku ngelihat pola dalam hidup. Aku jadi tau kapan biasanya aku paling kreatif, situasi apa yang bikin aku stress, dan hal receh apa yang beneran bikin aku seneng.
Contohnya, dari jurnal aku jadi tau bahwa jalan-jalan ke mall bareng adikku sambil ngobrol aja selalu bikin semangat untuk beberapa hari ke depan. Atau ternyata aku paling fokus dan produktif di hari Kamis sore. Hal-hal kecil yang dulu kupikir sepele, ternyata menjadi data yang berharga tentang diriku sendiri ketika dikumpulkan.

5. Kasih Izin Buat Berubah

Baca tulisan tanganku sendiri dari lima tahun lalu rasanya aneh. Cara pikirku, hal yang dikhawatirin, bahkan selera humorku udah beda. Aku kayak kenal sama orang asing yang somehow familiar.
Dulu, aku tuh perfeksionis banget. Kekecewaan terbesar sering datang dari ekspektasi yang terlalu tinggi. Ngelihat diriku yang dulu berjuang sama hal itu, dan bandingin sama aku sekarang yang udah lebih bisa nerima ketidaksempurnaan, adalah hadiah terindah dari journaling. Aku kasih diri sendiri izin buat berubah.
Foto doodle dalam jurnal. Foto dari penulis.
Kalau kamu mau mulai, jangan mikir kamu lagi nulis untuk dibaca nanti. Tulis aja untuk hari ini. Buat ngelepasin beban yang lagi dirasa, atau mengabadikan momen bahagia sederhana.
Karena kamu nggak akan pernah tau, lima tahun lagi, dirimu yang lebih dewasa akan sangat berterima kasih sama dirimu yang hari ini. Dirimu yang sudah simpan semua momen dalam perjalanan hidup, mau yang indah, berantakan, sampai yang biasa aja, dan menjadi satu cerita utuh.
Kamu tidak perlu nulis sesuatu yang epik. Yang penting tulis yang jujur. Soalnya pada akhirnya, kejujuran pada diri sendirilah yang paling mengubah hidup.
Trending Now