Konten dari Pengguna
Kenapa Karyawan Baru Sering Kalah Suara di Kantor?
24 Desember 2025 14:12 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Kenapa Karyawan Baru Sering Kalah Suara di Kantor?
Deskripsi Artikel ini membahas alasan karyawan baru kerap kalah suara di kantor, mulai dari budaya senioritas, hierarki komunikasi, hingga dampaknya terhadap inovasi dan iklim kerja.Shinta Rizki Fauzi
Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak orang, hari-hari awal bekerja di kantor bukan hanya soal adaptasi dengan pekerjaan, tetapi juga dengan budaya yang sudah terbentuk lama. Status sebagai karyawan baru sering secara otomatis menempatkan seseorang pada posisi pendengar, bukan penentu. Bukan karena tidak memiliki kapasitas, melainkan karena ada anggapan bahwa pengalaman kerja lebih lama selalu berarti pemahaman yang lebih benar. Situasi ini membuat karyawan baru cenderung menahan diri. Mereka memilih mengamati terlebih dahulu, membaca situasi, dan menyesuaikan sikap agar tidak dianggap melanggar norma yang tidak tertulis. Dalam konteks ini, diam sering kali menjadi strategi bertahan, bukan pilihan pribadi. Ketika Ide Dinilai dari Siapa yang Berbicara Di banyak lingkungan kerja, kualitas ide sering kali tidak berdiri sendiri. Ide yang datang dari karyawan baru bisa dianggap terlalu naif atau belum matang, meskipun substansinya relevan. Sebaliknya, gagasan serupa yang disampaikan oleh senior kerap langsung mendapatkan perhatian lebih. Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur hierarki masih memegang peran besar dalam komunikasi kantor. Penilaian tidak lagi berfokus pada isi, melainkan pada posisi orang yang menyampaikan. Akibatnya, karyawan baru merasa bahwa menyuarakan pendapat tidak selalu sebanding dengan usaha dan risiko yang mereka ambil. Budaya Senioritas dan Ketakutan yang Mengikutinya Budaya senioritas tidak selalu hadir dalam bentuk perintah atau larangan langsung. Ia sering muncul secara halus melalui respons, bahasa tubuh, atau komentar yang meremehkan. Karyawan baru bisa merasa disudutkan tanpa pernah benar-benar diberi tahu bahwa mereka salah. Rasa takut dicap sok tahu, tidak menghargai proses, atau melangkahi batas wewenang membuat banyak karyawan baru memilih menyesuaikan diri. Dalam jangka pendek, sikap ini mungkin membantu mereka bertahan. Namun dalam jangka panjang, budaya diam ini justru menghambat komunikasi dua arah yang sehat. Perspektif Segar yang Tidak Mendapat Ruang Ironisnya, karyawan baru sering datang dengan perspektif yang justru dibutuhkan organisasi. Mereka belum terbiasa dengan pola lama sehingga lebih peka terhadap ketidakefisienan atau kebiasaan yang sudah tidak relevan. Sudut pandang segar ini seharusnya menjadi nilai tambah. Namun, ketika ruang diskusi tidak memberi rasa aman, perspektif tersebut jarang muncul ke permukaan. Ide-ide baru terhenti sebelum sempat diuji, hanya karena datang dari orang yang belum lama bergabung. Organisasi pun kehilangan peluang untuk berkembang dari sudut pandang yang berbeda. Dampak Diam-Diam bagi Tim dan Organisasi Kondisi ketika suara karyawan baru terus terpinggirkan bukan hanya berdampak pada individu. Tim kehilangan variasi pandangan, diskusi menjadi sempit, dan pengambilan keputusan cenderung mengulang cara lama. Dalam situasi tertentu, hal ini bisa memperlambat adaptasi organisasi terhadap perubahan. Selain itu, karyawan baru yang merasa tidak didengar berpotensi kehilangan motivasi. Mereka bekerja sekadar menjalankan tugas, bukan berkontribusi secara penuh. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin berujung pada tingginya tingkat pergantian karyawan. Membangun Ruang Bicara yang Lebih Setara Lingkungan kerja yang sehat seharusnya mampu menilai ide dari substansinya, bukan dari jabatan atau lama bekerja. Ruang diskusi perlu dibangun sebagai tempat yang aman bagi semua anggota tim untuk berbicara, termasuk mereka yang baru bergabung. Memberi ruang bicara yang setara bukan berarti mengabaikan pengalaman senior, melainkan menggabungkannya dengan sudut pandang baru. Dengan cara ini, organisasi tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi dan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

