Konten dari Pengguna

Laki-Laki Feminin di Tengah Standar Maskulinitas: Masihkah Sulit Diterima?

Shinta Rizki Fauzi
Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi
11 Januari 2026 5:41 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Laki-Laki Feminin di Tengah Standar Maskulinitas: Masihkah Sulit Diterima?
Artikel ini membahas tantangan yang dihadapi laki-laki feminin di tengah norma maskulinitas masyarakat Indonesia, sekaligus mengajak pembaca merefleksikan ulang makna menjadi laki-laki.
Shinta Rizki Fauzi
Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Gemini Ai
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini Ai
Di masyarakat kita, menjadi laki-laki sering kali datang dengan seperangkat “aturan tak tertulis”. Laki-laki diharapkan tegas, kuat, tidak cengeng, tidak terlalu ekspresif, dan tentu saja harus terlihat maskulin. Ketika ada laki-laki yang bersikap lembut, gemar hal-hal yang dianggap feminin, atau mengekspresikan diri di luar standar tersebut, label negatif pun kerap muncul. Mulai dari “kurang jantan” hingga dianggap menyimpang. Laki-laki feminin sering kali berada di posisi yang sulit. Bukan karena mereka melakukan kesalahan, tetapi karena ekspresi diri mereka tidak sesuai dengan ekspektasi sosial. Cara berbicara, gestur tubuh, pilihan pakaian, hingga minat tertentu kerap dijadikan dasar penilaian. Padahal, feminitas pada laki-laki bukanlah ancaman, melainkan bagian dari keragaman cara manusia mengekspresikan diri. Standar maskulinitas yang kaku membuat banyak laki-laki merasa harus “memerankan” peran tertentu agar diterima. Tidak sedikit yang akhirnya menekan sisi dirinya sendiri demi terlihat sesuai dengan norma. Dalam jangka panjang, tekanan ini bisa berdampak pada kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga relasi sosial. Ironisnya, masyarakat sering kali menuntut laki-laki untuk kuat, tetapi tidak memberi ruang bagi mereka untuk jujur pada dirinya sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, laki-laki feminin juga kerap dikaitkan dengan isu LGBT, meskipun keduanya tidak selalu sama. Ekspresi gender tidak otomatis menentukan orientasi seksual. Namun, stigma yang melekat membuat banyak orang menyamaratakan, lalu menjadikannya alasan untuk diskriminasi, perundungan, atau pengucilan. Di Indonesia, kondisi ini masih menjadi tantangan besar, terutama di ruang publik dan media sosial. Padahal, menerima laki-laki feminin bukan berarti menghapus maskulinitas. Yang perlu dipertanyakan justru mengapa maskulinitas harus dibatasi pada satu bentuk saja. Bukankah keberanian untuk menjadi diri sendiri juga merupakan bentuk kekuatan? Bukankah empati, kelembutan, dan kepekaan emosional juga nilai yang penting dalam kehidupan sosial? Perlahan, kesadaran tentang keberagaman ekspresi gender memang mulai tumbuh, terutama di kalangan anak muda. Namun, penerimaan yang utuh masih membutuhkan proses panjang. Dibutuhkan ruang dialog yang lebih terbuka, narasi yang lebih manusiawi, dan keberanian untuk tidak langsung menghakimi perbedaan. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah laki-laki feminin sulit diterima, tetapi apakah kita siap memperluas cara pandang kita tentang menjadi laki-laki. Selama standar maskulinitas masih diperlakukan sebagai aturan mutlak, selama itu pula banyak orang akan terus merasa asing di tubuhnya sendiri.
Trending Now