Konten dari Pengguna
Tren Self-Diagnosis Psikologis: Antara Kesadaran Mental dan Misinformasi
25 Mei 2025 16:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tren Self-Diagnosis Psikologis: Antara Kesadaran Mental dan Misinformasi
Fenomena self-diagnosis mental meningkat lewat media sosial, membuka kesadaran tapi juga menimbulkan risiko misinformasi tanpa evaluasi profesional. Shinta Rizki Fauzi
Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama beberapa tahun terakhir, ada peningkatan yang signifikan dalam perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental. Berbagai platform seperti media sosial, podcast, video edukasi, dan kampanye digital telah mendorong orang untuk lebih terbuka tentang masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, ADHD, dan gangguan kepribadian lainnya. Namun, di tengah peningkatan kesadaran ini, muncul fenomena baru yang perlu diperhatikan: tren diagnosa diri, yaitu menilai kondisi mental sendiri tanpa bimbingan profesional. Kemunculan Tren Diagnosa Diri
Fenomena ini sangat banyak terlihat di platforms seperti TikTok, Instagram, dan Twitter, di mana pengguna dapat dengan mudah menemukan informasi psikologi yang disajikan dengan cara yang ringan dan mudah dipahami. Banyak orang merasa "tergambarkan" saat melihat konten tentang masalah mental, yang kemudian membuat mereka percaya bahwa mereka juga mengalami hal yang sama. Sebagai contoh, seseorang yang sering merasa sulit berkonsentrasi dan mudah teralihkan perhatian langsung menyimpulkan bahwa diri mereka mengidap ADHD, tanpa melewati evaluasi medis atau psikologis. Situasi ini semakin rumit dengan banyaknya konten viral yang menunjukkan “ciri-ciri kamu mengalami…” tanpa konteks atau validasi ilmiah yang memadai. Dampak Positif: Meningkatnya Kesadaran dan Diskusi
Di sisi lain, tren ini juga membawa dampak positif dengan menunjukkan bahwa stigma terhadap gangguan mental mulai pudar. Orang menjadi lebih berani untuk mengakui perasaan dan pengalaman psikologis yang mereka alami. Diagnosa diri kadang-kadang dapat menjadi langkah awal bagi seseorang untuk mencari bantuan profesional, karena mereka merasa didukung secara emosional oleh komunitas daring. Dampak Negatif: Misinformasi dan Pemberian Label yang Salah
Tetapi, risiko dari diagnosa diri yang keliru tidak bisa diabaikan. Tanpa pemahaman klinis yang cukup, seseorang bisa salah menganggap stres biasa sebagai depresi, atau kecemasan ringan sebagai gangguan kecemasan yang serius. Ini dapat menyebabkan dua risiko utama:
1. Terlalu banyak diagnosa dan penggunaan istilah medis yang tidak tepat – yang menyebabkan pemahaman tentang gangguan mental menjadi kabur dan tidak lagi dianggap serius. 2. Kurangnya diagnosa atau pengabaian dalam mendalami kondisi lain yang sebenarnya lebih rumit – karena merasa sudah "tahu" tentang masalahnya, individu menjadi enggan untuk berkonsultasi atau justru mengabaikan gejala yang penting. Peran Tenaga Profesional dan Literasi Psikologi
Fenomena ini menekankan pentingnya edukasi mental yang tidak hanya menjangkau banyak orang, tetapi juga berbasis pada fakta dan keilmuan yang akurat. Para profesional kesehatan mental seperti psikolog dan psikiater harus aktif terlibat di ruang digital untuk memberikan klarifikasi dan menyediakan konten yang bertanggung jawab.
Tentu saja, masyarakat juga perlu memiliki literasi dasar tentang psikologi—kemampuan untuk memahami, menyaring, dan menilai informasi psikologis dengan kritis. Kesimpulan
Diagnosa diri psikologis adalah fenomena sosial yang muncul dari keinginan untuk memahami diri dan mendapatkan validasi emosional. Namun, tanpa panduan yang tepat, hal ini bisa menjadi kontraproduktif dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Menghubungkan kesadaran masyarakat dengan keahlian profesional adalah langkah penting agar tren ini tidak terjerumus menjadi sumber misinformasi, melainkan menjadi jalan menuju pemulihan yang sesungguhnya.

